Loading...

GANYONG

GANYONG
Ganyong (Canna edulis Kerr) merupakan tanaman herba yang berasal dari Amerika Selatan (Amerika Tropika) dan telah tersebar ke Asia, Australia, dan Afrika. Namun, menurut Nikolai Ivanovich Vavilov, seorang ahli botani dari bekas Uni Soviet, asal-muasal ganyong adalah Amerika Selatan, tepatnya di daerah Peru, Bolivia, dan Equador. Umbi mudanya di Amerika Selatan dimakan sebagai sayuran, dan kadang-kadang digunakan sebagai pencuci mulut. Sisa umbinya yang tertinggal setelah diambil patinya dapat digunakan sebagai kompos. Sementara pucuk dan tangkai daun muda dipakai untuk pakan ternak. Selain itu, bunga daunnya cukup indah, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai tanaman hias. Kita mengenal ganyong dengan banyak nama daerah di Indonesia, yaitu buah tasbih, ubi pikul, ganyal, ganyol, sinetra, larut, dan lain-lain. Ganyong adalah tanaman umbi-umbian yang termasuk dalam tanaman dwi tahunan (2 musim) atau sampai beberapa tahun, hanya saja dari satu tahun ke tahun berikutnya mengalami masa istirahat, daun-daunnya mengering lalu tanamannya hilang sama sekali dari permukaan tanah. Pada musim hujan tunas akan keluar dari mata-mata umbi atau rhizomanya. Ganyong sering dimasukkan pada tanaman umbi-umbian, karena orang bertanam ganyong biasanya untuk diambil umbinya yang kaya akan karbohidrat, yang disebut umbi disini sebenarnya adalah rhizoma yang merupakan batang yang tinggal didalam tanah.. Ganyong mengandung cukup tinggi karbohidrat, selain itu menurut data Direktorat Gizi Depkes RI, kandungan gizi ganyong untuk setiap 100 gramnya terdiri dari kalori 95,00 kal, protein 1,00 g, lemak 0,11 g, karbohidrat 22,60 g, karbohidrat 22,60 g, kalsium 21,00 g, fosfor 70,00 g, zat besi 1,90 mg, vitamin B1 0,10 mg, vitamin C 10,00 mg, air 75,00 g. Di Indonesia dikenal dua varietas ganyong, yaitu ganyong merah dan ganyong putih. Ganyong merah ditandai dengan warna batang, daun dan pelepahnya yang berwarna merah atau ungu, sedang yang warna batang, daun dan pelepahnya hijau dan sisik umbinya kecoklatan disebut dengan ganyong putih. Tanaman ini dapat diperbanyak secara generatif dan vegetatif. Secara generatif yaitu dengan menggunakan bijinya, namun sangat jarang dilakukan kecuali oleh peneliti, dimana jumlah bijinya relatif sedikit dan umur lebih lama. Perbanyakan yang dilakukan biasanya adalah dengan vegetatif yang menggunakan umbi berukuran sedang dengan tunas 1 - 2. Ganyong dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah. Hanya di jenis tanah liat berat sajalah ganyong akan tumbuh kurang baik, karena sistem drainase pada tanah jenis ini biasanya jelek. Bila terpaksa harus ditanam pada jenis tanah ini, maka drainasenya harus dibuat memadai. Drainase yang memadai dapat di tempuh dengan cara membuat saluran-saluran air atau ditanam dengan sistem guludan. Apabila ingin mendapatkan hasil yang optimal, maka sebaiknya ganyong ditanam pada tanah-tanah lempung berpasir yang kaya humus. Ada bermacam-macam pendapat tentang masa panen umbi ganyong, ini karena tidak ada batas masa pendewasaan umbi. Tetapi umumnya pendewasaan umbi dipengaruhi oleh ketinggian daerah tempat hidupnya. Pada umur 6 - 8 bulan setelah tanam, umbi biasanya sudah cukup dewasa dan bisa panen tetapi, biasanya belum dapat diambil patinya, tetapi untuk bahan makanan sampingan misalnya direbus atau dibakar. Pada dataran tinggi yang umumnya tertimpa hujan hampir sepanjang tahun, masa pendewasaan umbi lebih lama daripada di dataran rendah. Ini karena pembentukan pati terhambat. Dengan demikian umbi baru bisa dipanen setelah umur satu tahun atau umumnya 15 - 18 bulan. Cara pemanenan bisa dilakukan dengan cara pencabutan apabila batang tanaman ganyong belum rapuh, bila telah rapuh dapat dengan cara mencongkelnya dengan tongkat besi, kayu atau sejenisnya. Ganyong telah tersebar dari Sabang sampai Merauke. Terutama di Majalengka dan Ciamis, dikenal sebagai daerah penghasil ganyong di Indonesia. Tanaman ini diusahakan dan terus dikembangkan penduduk. Umbi yang dipanennya dibuat tepung, ternyata hasil penjualan tepung ini dapat menambah penghasilan penduduk yang sangat berarti. Referensi Annonim, 2009. Ciamis Kembangkan Tanaman Ganyong. http://www.pikiran-rakyat.com/ekonomi/2009/07/03/92412/ciamis-kembangkan-tanaman-ganyong. Diakses 25 Agustus 2016. Annonim, 2012. Pedesan Entog dan Ganyong Makanan Khas Majalengka. http://majalengkabc.blogspot.co.id/2012/01/pedesan-entog-dan-ganyong-makanan-khas.html. Diakses 25 Agustus 2016. Hedjo,Ana 2012. Budidaya Tanaman Ganyong (Canna edulis). http://anahedjo.blogspot.co.id/2012/05/budidaya-tanaman-ganyong-canna-edulis.html. Diakses 25 Agustus 2016. Lestari, Puji, 2014. Kandungan Gizi dan Manfaat Ganyong untuk Kesehatan. http://www.tipscaramanfaat.com/kandungan-gizi-dan-manfaat-ganyong-untuk-kesehatan-1324.html. Diakses 21 Agustus 2016. Oleh : RACHMAD FAUZAN NIP. 19850929 201403 1 001 Penyuluh Pertanian WKPP Desa Binuang dan Kelurahan Pemaluan BPP Kecamatan Sepaku Pripinsi Kalimantan Timur