Loading...

Gejala dan Pengendalian Penyakit Mouldy Rot pada Tanaman Karet

Gejala dan Pengendalian Penyakit Mouldy Rot pada Tanaman Karet
Karet merupakan salah satu komoditi penyumbang devisa negara yang cukup besar (volume ekspor sekitar 2,024 juta ton dengan nilai $ 2.582 juta). Peningkatan produksi karet dari tahun ke tahun menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan yaitu mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 6,82%.Selain mempunyai peran ekonomis, karet juga mempunyai peran sosial karena menjadi sumber penghidupan bagi jutaan penduduk (1,985 juta KK) Indonesia serta secara ekologis karet mendukung pelestarian lingkungan hidup, sumberdaya alam dan keaneka ragaman hayati. Adanya kecenderungan membaiknya harga karet beberapa tahun terakhir hingga tahun 2020, serta meningkatnya kebutuhan karet alam dunia yang mengalami peningkatan rata-rata 2,6% per tahun, menyebabkan karet menjadi salah satu komoditi unggulan yang dimasukkan dalam program revitalisasi perkebunan.Agar produksi karet tidak mengalami penurunan, salah satu upaya yang dilakukan adalah meminimalkan serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). OPT tanaman karet sering menimbulkan kerugian ekonomis bagi pekebun. Kerugian tersebut tidak hanya disebabkan oleh turunnya produksi, tetapi besarnya biaya yang dikeluarkan untuk pengendaliannya cukup mahal. Karena itu upaya pengendalian penyakit yang tepat harus menjadi perhatian. Sebagaimana telah diamanatkan dalam Undang-Undang No 12 Tahun 1992 pasal 20, perlindungan tanaman perkebunan (termasuk karet) terhadap serangan OPT menerapkan pengendalian hama terpadu (PHT) melalui langkah-langkah yaitu: 1) pengamatan yang teratur dan berkesinambungan; pengambilan keputusan; dan 3) pelaksanaan pengendalian.Penyakit mouldy rot, kanker / jamur bidang sadap merupakan penyakit yang disebabkan oleh jamur Ceratocystis fimbriata, dan menyerang bidang sadap tanaman karet, dan menggangu pemulihan kulit sadap pulihan. Penyakit ini banyak terdapat pada daerah yang lembab. Penyakit ini diawali dengan pertanda berupa benang-benang cendawan kelabu muda di daerah sekitar alur sadap. Pada bidang sadap terdapat selaput tipis warna putih. Warnanya akan menjadi semakin gelap kehitaman pada infeksi yang lebih lanjut, dan diikuti oleh busuknya kambium. Luka pada bagian panel sadap akan semakin banyak, dan mengakibatkan bagian kayu menjadi terlihat. Tentunya penyakit ini dapat menurunkan produksi getah, menyebabkan siklus ekonomi jadi lebih pendek. Penyakit ini juga sering dikeluhkan oleh para petani karet rakyat yang memang tidak terlalu menjaga kebersihan kebun (gulma) serta cenderung menyadap terlalu berlebihan. Beberapa hal yang menyebabkan penyakit mouldy rot / kanker jamur batang sadap diantaranya adalah klon yang memang rentan terhadap penyakit ini, tanaman disadap dengan frekuensi tinggi dan penyadapan yang terlalu dalam bahkan hingga luka kayu, populasi per hektar yang terlalu padat (idealnya satu hektar 550 pokok), daerah lembab, rendahan dan banyak gulma, pisau sadap yang sudah mengandung jamur. Penanaman klon-klon lama seperti GT1 dan AVROS di daerah yang rentan maupun lembab dapat menjadi pilihan untuk mencegah penyakit kanker batang sadap tanaman karet ini.Gejala Serangan Penyakit ini ditandai dengan adanya selaput tipis berwarna putih di bidang sadap dekat dengan alur sadap. Selaput tersebut kemudian berkembang menjadi seperti beludru berwarna kelabu sejajar alur sadap. Bila hifa tersebut dikerok/diambil, maka tampak bintik berwarna coklat tau hitam. Spora jamur dihasilkan dapat bertahan hidup pada kondisi yang kering. Serangan mouldy rot yang tidak segera ditangani akan meluas sampai kambium atau bahkan bagian kayu. Penularan penyakit berlangsung dengan penyebaran spora yang dibawa oleh angin. Penggunaan pisau sadap juga dapat menyebarkan spora dan hifa Ceratocystis fimbriata. Penyakit mouldy rot banyak terjadi pada musim hujan dan banyak dijumpai pada tanaman yang disadap terlalu sering atau terlalu dalam. Pengendalian penyakit.Pengendalian penyakit mouldy rot dapat dilakukan dengan beberapa cara seperti:a. Pada daerah-daerah yang beriklim basah dianjurkan untuk menanam klon yang tahan seperti GT 1 ataupun AVROS 2037.b. Mengurangi kelembaban yang tinggi di daerah pertanaman karet. Pengurangan kelembaban dapat dilakukan dengan mengatur jarak tanam yang tidak terlalu rapat, melakukan pemengkasan penutup tanah, dan melakukan pembersihan gulma secara rutin.c. Pemupukan yang tepat dan berimbang agar pemulihah kulit dapat berlangsung dengan cepat dan normal.d. Menurunkan intensitas penyadapan, dari yang semula S2/d2 menjadi S2/d3 atau S2/d4 dan menghentikan penyadapan ketika serangan mouldy rot terlalu berat.e. Secara kimia dapat diatasi dengan fungisida Bavistin, Derosal, Topsin, Benlate, Indafol, dan Divolan. Pemberian fungisida dengan menggunakan kuas dan dioleskan pada bagian yang terserang.f. Setiap penyadapan dilakukan, pisau sadap dicelupkan ke dalam larutan fungisidag. Agar penyakit mouldy rot tidak menyebar ke tanaman lain, salah satu pencegahannya adalah dengan menjaga kebersihan dan sterilitas pisau sadap, yaitu dengan mengoles atau mencelup pisau dengan larutan clorox 2 persen. Penting juga untuk tidak menyadap terlalu sering, ideal penyadapan adalah 3 hari sekali. Menjaga kebersihan areal tanaman dari gulma serta pemupukan yang teratur dan sesuai dosis juga dapat menolong untuk pencegahan penyakit. Ditulis kembali oleh : Kukuh Wahyu W (BBP2TP) widjajantokukuh@yahoo.comTanggal : 3 Agustus 2017Sumber : Balai Penelitian Karet Sembawa, 2012Foto : Balai Penelitian Karet Sembawa, 2012