Loading...

Genjot Produksi Kedelai di Lahan Kering Masam

Genjot Produksi Kedelai di Lahan Kering Masam
Produksi kedelai di Indonesia dapat ditingkatkan melalui peningkatan luas panen di lahan kering masam yang potensial untuk pengembangan kedelai yang luasnya mencapai 18,5 juta ha. Kendala pengembangan kedelai pada lahan kering masam pada umumnya adalah pH yang rendah, keracunan Al dan Mn, kekurangan hara N, P, K, Ca, dan Mg, serta miskin mikroorganisme menguntungkan seperti Rhizobium dan Mikoriza.Upaya peningkatan produksi kedelai di lahan kering masam teknologi yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut :1. Varietas UnggulBanyak pilihan varietas yang memiliki beragam sifat dan keunggulan : ukuran biji, kulit kuning atau hitam, tahan terhadap hama/penyakit tertentu dan toleran terhadap mondisi lahan.Pilih varietas yang sesuai dengan kondisi lingkungan dan/atau yang disukai pasar. Dengan teknik budidaya yang tepat semua varietas unggul dapat menghasilkan produksi tinggi baik di lahan sawah, lahan kering maupun pada pasang surut.2. Benih• Benih yang digunakan harus sehat, bernas, dan berdaya tumbuh minimal 80%. Upayakan menggunakan benih berlabel dari penangkar benih resmi. Apa bila menggunakan benih sendiri, sebaiknya diambil dari pertanaman yang seragam (tidak campuran), cukup umur dan diproses dengan baik.• Apa bila ditanam di daerah endemik serangan lalat bibnit, benih perlu diberi perlakuan (seed treatment) sebelum ditanam, yaitu diberi insektisida berbahan aktif karbosulfan (misalnya Marshal 25 ST) dengan takaran 5-10 g/kg benih.• Kebutuhan benih kedelai bergantung pada ukuran benih dan jarak tanam yang digunakan. Untuk benih berukuran kecil sampai sedang (9-12 g/100 biji) dibutuhkan benih 30-40 kg/ha, sedangkan untuk benih berukuran besar (14-18 g/100 biji) dibutuhkan 40-50kg/ha.3. Persiapan Lahan• Tanah diolah dengan baik jika tersedia biaya/tenaga, jika tidak kedelai bisa ditanam dengan tanpa olah tanah.• Buatlah saluran drainase setiap 3-4 m, sedalam 20-30 cm sepanjang petakan, hal ini untuk menghindari lahan tergenang/becek pada saat curah hujan tinggi.• Pada lahan yang baru pertama kali ditanam kedelai, benih perlu diinokulasi dengan rhizobium. Apa bila tidak tersedia inokulan Rhizobium (seperti Rhizoplus atau Legin), dapat digunakan tanah bekas pertanaman kedelai sebagai penutup lubang tanam.4. Pengapuran• Kapur (CaCO3) atau dolomit (CaMg(CO3)2 perlu diberikan untuk memperbaiki sifat kimia tanah, terutama untuk menurunkan tingkat kejenuhan Al sekaligus sebagai sumber hara Ca dan Mg.• Batas toleransi kedelai terhadap kejenuhan Al adalah 20%• Dosis kapur untuk menurunkan kejenuhan Al-dd hingga mencapai 20% dengan perhitungan sbb:Rumus : JK = (kejenuhan Al-0,20)xKTK-E)x1,65? JK : Jumlah kapur (t/ha)? Kejenuhan Al : ditulis dalam desimal (40% ditulis 0,40)? Anangka 0,20 : batas toleransi kejenuhan Al kedelai 20%? KTK-E : Kapasitas Tukar Kation Efektif = (Al-dd+Ca-dd+Mg-dd+Na-dd+H+-dd)• Apa bila kesulitan dalam anailis tanah, kebutuhan kapur dapat diperkirakan berdasarkan pH tanah sbb:? pH tanah ? pH tanah 4,5-5 tekstur tanah halus kebutuhan kapurnya 1,5-2,0 t/ha; tekstur tanah sedang 1,0-1,5; tekstur agak kasar/kasar 0,5-1,0 t/ha? pH 5,0-5,5 tekstur tanah halus kebutuhan kapur 1,0-1,5; sedang 0,7-1,0, agak kasar/kasar 0,5-0,7.• Pemberian kapur (dolomit) dengan cara disebar rata bersamaan dengan pengolahan tanah kedua atu paling lambat 2-7 hari sebelum tanah5. Penanaman• Benih ditanam dengan cara ditugal dengan kedalaman 2-3 cm, dengan jarak tanam 40 cm x 15 cm;• Jumlah benih 2 biji/lubang, lalu ditutup dengan tanah6. Pemupukan• Pupuk tunggal diberikan dengan takaran 75-100 kg urea, 100-150 kg SP-36, dan 50-100 kg KCL/ha, atau dapat juga diberikan 250 kg Phonska/ha.• Pemberian pupuk paling lambat pada saat tanaman berumur 14 hari;• Pada saat tanam,lubang tanaman dapat juga ditutup dengan pupuk kandang yang dicampur dolomit dan pupuk SP36.• Dosis pupuk kandang 1,0-1,5 t/ha, SP-36 75-100 kg/ha, dan dolomit sesuai anjuran.7. Pengendalian Gulma• Penyiangan perlu dilakukan 2 kali yaitu pada umur 15 dan 30-35 hari setelah tanam• Penyiangan/pengendalian gulma dapat dilakukan secara manual atau dengan menggunakan herbisida• Pengendalian gulma dengan herbisida dapat dilakukan sebelum pengolahan tanah atau segera setelah tanam asalkan benih ditutup dengan tanah.8. PengairanKecukupan air pada lahan kering sepenuhnya berasal dari curah hujan. Tanaman kedelai sangat peka terhadap kekurangan air pada awal pertumbuhan (umur 15-21 hari), saat berbungan (umur 55-70 hari), sehingga massa pertanaman harus disesuaikan dengan pola curah hujan.9. Pengendalian Hama dan Penyakit• Hama utama tanaman kedelai berpotensi menyerang tanaman sejak umur • Penggunaan pestisida dilakukan berdasarkan hasil pemantauan, pa bila siklus hama telah melampaui ambang batas kendali.• Pilih pestisida sesuai dengan sasaran hama dan terdaftar serta diijikan.• Penyakit utama adalah karat daun, busuk batang dan akar dan berbagai penyakit yang disebabkan oleh virus• Karat daun dikendalikan dengan dengan fungisida yang mengandung bahan aktif mancozeb• Penyakit busuk batang dan akar dikendalikan dengan menggunakan jamur antagonis Thrichoderma harzianum• Untuk penyakit yanfg disebabkan oleh virus dilakukan dengan mengendalikan vektor (kutu) dengan insektisida deltametrin (decis 2.5 EC) dosis 1 ml/l air dan nitroguanidin/imidakloprit (Confidor) dosis 1 ml/l air• Pengendalian disesuaikan dengan kondisi di pertanaman pada umur 45-50 hst10. Panen dan Pascpanen• Pemanenan dapat dilakukan apabila 955 polong telah berwarna kuning kecoklatan• Panen dapat dilakukan pada saat embun sudah hilang, dengan cara memotong pangkal batang dengan sabit• Hasilpanen segera dijemur dan dipisahkan dari kotoran dan kulit polong• Jemur kembali biji sehingga kadar air biji 11-12%, sedangkan untuk keperluan benih kadar air biji maksimal 9-10% dan disimpan dalam kantong plastik tebal atau menggunakan kaleng yang tertutup rapat.Ruslia atmajaSumber : Balitkabi-Badanlitbang Pertanian