Salah satu kendala dalam budidaya tanaman padi adalah penyakit blas padi yang disebabkan oleh jamur Pyricularia oryzae Cav. Salah satu cara pengendalian yang dapat dilakukan adalah penggunaan agensia hayati ramah lingkungan. Trichoderma sp. untuk menghambat pertumbuhan Pyricularia oryzae Cav. in vitro. dan mengetahui keefektifan Trichoderma sp. untuk mengurangi keparahan penyakit blas pada tanaman padi di lapangan. Gerdal OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) Blast padi dilaksanakan oleh bersama POPT, Penyuluh Tim BPP Dewi Sri Kecamatan Selogiri Kabupaten Wonogiri beserta seluruh anggota kelompok tani. Pelaksanaan gerdal OPT Blast kali ini dilaksanakan di Kelompok Tani “Ngudi Mulya” Desa Keloran pada hari Jum’at tanggal 07 Februari 2020. Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Sugiyarto menyampaikan penjelasan mengenai pengelolaan penyakit blas, pemanfaatan APH Trichoderma sp, dan budidaya tanaman sehat. Penyakit blas dikhawatirkan menjadi permasalahan kedepannya karena adanya serangan lanjut penyakit ini yang menyebabkan patah leher atau dikenal “neck blast” yang dapat menurunkan produksi padi. POPT juga menjelaskan cara pengaplikasian fungisida pada kegiatan gerdal ini adalah terlebih dahulu dilakukan pengenceran di dalam wadah/bak besar kemudian diaduk sampai merata. Setelah tercampur rata baru dimasukkan ke dalam tengki sprayer dan ditambahkan air hingga terisi penuh dan siap disemprotkan bersama-sama. Selain untuk mengendalikan penyebaran serangan OPT, kegiatan gerdal juga bertujuan sebagai stimulant agar petani terbiasa untuk melakukan pengamatan harian dan melaksanakan pengendalian secara bersama-sama. Gerdal ini untuk mengamankan tanaman padi agar tidak sampai mengganggu produksi dan sekaligus memunculkan kemandirian petani dalam mengatasi gangguan OPT melalui pengamatan rutin dan perbaikan budidaya. “Gerakan pengendalian ini diharapkan dapat menanggulangi OPT secara cepat. Harapan saya, petani juga dapat lebih mengetahui seluk beluk OPT dengan baik, aktif melakukan pengamatan areal sendiri, dan dapat mengendalikan sebelum terjadi kerusakan akibat serangan,” tutur Silvia selaku PPL BPP Selogiri. Pengendalian penyakit blas padi tidak harus dilakukan secara kimiawi, dapat dilakukan secara kultur teknis atau biologis yang lebih ramah lingkungan. “Pengelolaan air secara baik, tanam refugia, penggunaan trichoderma ini perlu dipraktekkan petani untuk mencegah serangan hama itu. Penting juga tetap koordinasi dengan POPT dan Penyuluh di BPP,” tutur Silvia. Selain itu, Petugas Penyuluh Pertanian (PPL) BPP Dewi Sri Kecamatan Selogiri menyarankan, untuk menanam varietas yang tahan terhadap hama dan penyakit, perguliran varietas, melakukan penanaman padi secara serentak, pengendalian hama dengan cara semprot massal agar mempertimbangkan aspek ambang batas dan ambang ekonomi dan tepat cara, tepat dosis, tepat waktu, dan tepat sasaran. Penulis Silvia Yurike N, STP PPL BPP Dewi Sri