Oleh : Kikin Yuswono, S.P. Penyuluh Pertanian Muda Kecamatan Tampaksiring Kabupaten Gianyar Salah satu hama yang sangat merusak dan merugikan pertanaman padi adalah wereng batang coklat (WBC). Hama ini memiliki kemampuan menyebar yang sangat cepat ke habitat baru sebelum habitat lama mengering atau tidak bisa dimanfaatkan lagi. Selain itu hama ini terkenal memiliki sifat yang mudah beradaptasi dengan habitat baru membentuk biotipe baru dan mematahkan efektifitas insektisida tertentu sebagai bahan pengendali WBC. Pola perkembangan WBC mengikuti biological clock, yaitu dapat berkembang biak dan merusak tanaman padi karena dipicu oleh lingkungan yang cocok baik musim hujan maupun musim kemarau. Hama ini juga diketahui dapat mentransfer virus kerdil hampa dan kerdil rumput. Melihat pentingnya hama tersebut pada tanaman padi, maka perlu dilakukan upaya pencegahan penyebaraannya dan pengendalian di lapangan. Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar, bersama Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Provinsi Bali, Petugas Pengamat Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) POPT dan subak, melaksanakan Gerakan Pengendalian WBC di Subak Kutuh Desa Pejeng Kaja Kecamatan Tampaksiring Kabupaten Gianyar. Gerakan Pengendalian WBC dilaksanakan pada tanaman padi berumur 65 - 75 hst (hari setelah tanam) dengan luas 23 Ha. Menindaklanjuti laporan Pekaseh Subak Kutuh Desa Pejeng Kaja kepada Petugas PPL Desa Pejeng Kaja, mengenai adanya serangan OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) di areal sawah Subak Kutuh, PPL Desa Pejeng Kaja, Kikin Yuswono, S.P. bersama petugas POPT Kabupaten Gianyar, I Wayan Kenak, S.P., segera meluncur ke areal sawah Subak Kutuh didampingi Pekaseh Subak Kutuh, I Made Astawan. Berdasar hasil pengamatan, ada serangan OPT WBC pada areal tanaman padi. I Wayan Kenak menyarankan kepada Pekaseh Subak Kutuh untuk melakukan pengendalian secara swadaya. Namun, setelah selang 2 kali pengendalian swadaya oleh krama Subak Kutuh, ternyata serangan WBC belum bisa dikendalikan secara maksimal. Untuk membantu mengatasi hal tersebut, Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar bekerja sama dengan BPTPH Provinsi Bali melaksanakan Gerakan Pengendalian OPT. Pelaksanaan gerakan pengendalian OPT padi Sawah dilaksanakan pada hari Kamis, 30 Juni 2022 pukul 16.45 WITA. Metode Pengendalian OPT WBC dilakukan dengan penyemprotan insektisida berbahan aktif pimetrozin 50% secara serentak. Gerakan Pengendalian OPT WBC dilaksanakan pada lokasi persawahan dengan luas hamparan 23 ha. Kegiatan ini dipandu oleh Koordinator Petugas POPT Kabupaten Gianyar. Sebelum dilakukan pengendalian OPT secara serentak, diberikan pengarahan dan pembinaan oleh I Wayan Kenak dan Kikin Yuswono. Tujuan dari pelaksanaan Gerakan Pengendalian OPT Padi Sawah adalah sebagai berikut: Mengimplementasikan prinsip PHT (Pengendalian Hama Terpadu) dalam budidaya tanaman, khususnya dalam pengelolaan Agroekosistem dan mengatasi permasalahan OPT di lapangan. Menumbuhkembangkan prakarsa, motivasi dan kemampuan petani/ subak untuk melaksanakan gerakan pengendalian OPT secara bersama-sama antara petani/ subak dalam satu hamparan. Tercapainya target produksi dalam skala hamparan. Penggunaan pestisida berdasarkan konsep PHT harus memenuhi kaidah 6 tepat, yaitu: Tepat dosis Dosis atau konsentrasi formulasi harus tepat yaitu sesuai dengan rekomendasi anjuran karena telah diketahui efektif mengendalikan OPT tersebut pada suatu jenis tanaman. Penggunaan dosis atau konsentrasi formulasi yang tidak tepat akan mempengaruhi efikasi pestisida (efektivitas pestisida terhadap OPT sasaran yang didaftarkan berdasarkan pada hasil percobaan lapangan atau laboratorium menurut metode yang berlaku) dan meninggalkan residu pada hasil panen yang membahayakan bagi manusia. Tepat cara Penyemprotan merupakan cara aplikasi pestisida paling umum. Tepat waktu Waktu penggunaan pestisida harus tepat, yaitu pada saat OPT mencapai ambang pengendalian dan penyemprotannya harus dilakukan pada sore hari (pukul 16.00 atau 17.00) ketika suhu udara kurang dari 300 C dan kelembaban udara 50 – 80%. Tepat sasaran Pestisida yang digunakan harus berdasarkan jenis OPT yang menyerang. Sebelum menggunakan pestisida, langkah awal yang harus dilakukan ialah pengamatan untuk mengetahui jenis OPT yang menyerang. Tepat jenis Suatu jenis pestisida belum tentu dianjurkan untuk mengendalikan semua jenis OPT pada semua jenis tanaman. Oleh karena itu agar dipilih jenis pestisida yang dianjurkan untuk mengendalikan suatu jenis OPT pada suatu jenis tanaman. Tepat alat Alat penyemprotan yang digunakan harus ditentukan alat yang tepat, apakah hand sprayer, sprayer eletrik, power sprayer, fumigator/ emposan. Tentukan juga jenis spraying nozel. Diharapkan dengan dilaksanakannya gerakan pengendalian OPT WBC dan penerapan PHT skala luas di Subak Kutuh dapat memberikan dukungan perlindungan tanaman khususnya tanaman pangan dalam rangka pengamanan produksi tanaman pangan dari gangguan/ serangan OPT sebagai pelaksanaan dari tugas pokok dan fungsi BPP Kecamatan Tampaksiring, Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar. Selain itu, untuk membantu petani dalam memasyarakatkan sistem pengendalian hama terpadu (PHT) dan penguatan kelembagaan perlindungan tanaman di tingkat petani sehingga menjadi lebih berdaya serta mandiri. “Melihat populasinya sudah hampir mencapai ambang ekonomi, maka pengendalian dapat dilakukan dengan menggunakan insektisida kimia sintetis", tutur I Nyoman Kenak. "Penggunaan Insektisida kimia sintetis yang efektif seperti insektisida yang berbahan aktif pimetrozin dapat digunakan saat populasi lebih dari 20 ekor/ rumpun pada tanaman berumur lebih dari 55 hst", sambung Petugas POPT Kabupaten Gianyar tersebut. Pertanian Maju, Mandiri, Modern ! Salam !