Loading...

HAMA BAWANG PUTIH DAN CARA PENGENDALIAN

HAMA BAWANG PUTIH DAN CARA PENGENDALIAN
Pengendalian hama tanaman salah hal yang perlu dilakukan oleh petani bawang putih untuk memperoleh produksi yang optimal. Serangan hama tanaman dapat merusak bagian-bagian tanaman, lalu tumbuhnya terhambat, dan akan mati pada serangan yang hebat. Akibat serangan itu akan berdampak produksi tidak maksimal baik jumlah maupun mutunya, bahkan dapat gagal panen dan petani akan mengalami kerugian. Hama yang sering menyerang tanaman bawang putih, antara lain: Thrips (Thrips tabaci Lind dan Thrips parvisipunus Karny), Ulat Bawang (Spodoptera exigua Hubn), Lalat Penggorok Daun (Liriomyza chinencis), dan Ulat Tanah (Agrotis ipsilon). Trips (Thrips tabaci Lind dan Thrips parvisipunus Karny)Hama ini menyerang bawang putih oleh nimfa dan imagonya. Serangan ditandai pada daun muda dan pucuk daun berwarna putih mengkilap seperti perak dan kemudian berubah kecoklatan serta berbintik hitam. Pada serangan berat, seluruh seluruh daun berwarna putih dan dapat mengakibatkan umbi bawang putih kecil dengan kualitas rendah. Trips dapat ditemukan pada umbi bawang putih pada saat panen dan jika terbawa ke tempat penyimpanan dapat merusak bagian lembaga. Pada umumnya serangan berat pada suhu rata-rata di atas normal yang disertai hujan rintik-rintik dan kelembaban udara di atas 70%.Cara pengendaliannya, antara lain: a) Melakukan pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan inangnya (misalnya palawija); b) Penanaman secara serentak sekitar pertengahan Mei sampai awal Juni; c) Menggunakan musuh alami kumbang macan/kumbang helm predator Coccinellidae; d) Melakukan pengamatan setiap minggu dua kali; e) Pemasangan perangkap berwarna kuning berperekat sebanyak 80 – 100 buah per hektar; f) Gunakan pestisida nabati yang dibuat dari ekstrak patah tulang, dlingu, daun nimbi, daun sirsak, dan daun sereh; dan g) Jika serangan terus meningkat dilakukan pengendalian dengan insektisida efektif yang berbahan aktif betaslifutrin, piraklos. Ulat Bawang (Spodoptera exigua Hubn)Ulat ini menyerang daun bawang putih dengan tanda bercak berwarna putih transparan, pada serangan lanjut daun mengering, dan serangan berat menyebabkan daun terkulai dan mongering. Jika populasi ulat banyak dapat menyerang umbi.Pengendaliannya, antara lain: a) Melakukan pergiliran dengan tanaman bukan inangnya, misalnya palawija, dan penanaman secara serentak; b) Pembersihan gulma di sekitar pertanaman; c) Pengolahan tanah yang sempurna, pengaturan jarak tanam dan pengelolaan air yang baik; d) Melakukan pengumpulan kelompok telur dan ulat bawang, lalu dimasukkan ke dalam kantong plastik dan dimusnahkan; e) Pemasangan lampu perangkap secara serentak, dengan jarak 20 x 20 m, sehingga tiap hektar berjumlah 25 – 30 lampu. Setiap titik lampu terdiri dari: lampu neon beserta fitingan, bak penampung yang berisi air detergen, kayu penyangga, paku dan kabel. Jarak mulut bak dengan tanaman tidak lebih dari 40 cm. Sedangkan jarak lampu dengan mulut bak sekitar 7 cm. Untuk menghindari hujan di atas lampu diberi pelindung. Lampu dinyalakan secara serentak sejak matahari terbenam sampai dengan menjelang matahari terbit; f) Penggunaan musuh alami, yaitu: capung, kepik parasitoid Polites sp, lalat Tritaxys brauery, Cuposera varia, lebah Telenomus sp, parasit Apanteles sp, semut api, dan agen hayati SE-NPV. Jika pada musim kemarau populasi kelompok telur telah mencapai 1 kelompok/10 rumpun atau 5% daun sudah terserang/rumpun dan pada musim hujan terdapat 3 kelompok telur/10 rumpun atau 10% daun sudah terserang/rumpun, perlu dilakukan penyemprotan dengan insektisida efektif yang berbahan aktif profenofos, betasiflutrin, tiodikarbo, dan karbofuran. Lalat Penggorok Daun (Liriomyza chinencis)Serangan hama ini ditandai pada daun terdapat bintik-bintik putih dan liang korokan berkelok-kelok. Serangan berat mengakibatkan hampir seluruh helaian daun penuh dengan korokan, sehingga menjadi kering dan berwarna coklat seperti terbakar.Pengendaliannya, antara lain: a) Daun yang terserang dikumpulkan dimasukkan ke dalam plastik kemudian diikat dan dimusnahkan; b) Dipasang perangkap kuning berperekat (oli) yang terbuat dari kertas atau plastik kuning dengan ukuran 16 x 16 cm, kemudian ditempelkan pada triplek atau kaleng dengan ukuran yang sama, lalu dipasang pada tiang bambu yang tingginya maksimal 60 cm. Jumlah perangkap yang digunakan untuk setiap hektar pertanaman bawang putih berjumlah sekitar 80 – 100 buah; c) Dilakukan penangkapan pengorok daun dewasa menggunakan traping berjalan dengan ukuran tinggi 30 – 50 cm lebar disesuaikan dengan lebar bedengan dengan bentuk melengkung. Traping diolesi bahan yang dapat merekatkan serangga pada traping. Ulat Tanah (Agrotis ipsilon)Ulat ini menyerang leher batang dengan memotong-motong menjadi bagian-bagian pada malam hari. Potongan-potongan tanaman tersebut sering dibawa ke tempat persembunyiannya. Ulat bersembunyi di dalam tanah dan aktif dan aktif menyerang pada sore sampai malam hari sekitar jam 5 – 7.Cara pengendaliannya, antara lain: a) Melakukan pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan inangnya, misalnya palawija; b) Mengolah tanah dengan baik, sehingga pupa maupun ulat mati terkena sinar matahari; c) Memusnahkan ulat yang ditemukan di sekitar tanaman inang; d) Pemasangan lampu perangkap secara serentak, dengan jarak 20 x 20 m, sehingga tiap hektar berjumlah 25 – 30 lampu. Setiap titik lampu terdiri dari: lampu neon beserta fitingan, bak penampung yang berisi air detergen, kayu penyangga, paku dan kabel. Jarak mulut bak dengan tanaman tidak lebih dari 40 cm. Sdangkan jarak lampu dengan mulut bakkurang lebih 7 cm. Untuk menghindari hujan di atas lampu diberi pelindung. Lampu dinyalakan secara serentak sejak matahari terbenam sampai dengan menjelang matahari terbit; f) Menggunakan musuh alami Coccinella repanda, Goniophona, Tritaxys brauery. Semoga BermanfaatPenulis: Susilo Astuti Handayani (Penyuluh Pertanian Pusluhtan) Sumber informasi:1. Standar Operasional Prosedur (SOP) Budidaya Bawang Putih (Allium sativum L) Kabupaten Tegal, Provinsi Jawa Tengah. Kementerian Pertanian, Direktorat Jenderal Hortikultura, Direktorat Budidaya dan Pascapanen Tanaman Sayuran dan Tanaman Obat. 2015.2. Profil Bawang Putih. Direktorat Budidaya Tanaman Sayuran dan Biofarmaka, Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian. 2010.3. Berbagai sumber informasi.