nilam merupakan salah satu tanaman penghasil minyak atsiri yang sudah banyak ditanam petani hampir diseluruh kepulauan indonesia. nilam dapat tumbuh dengan baik didataran rendah maupun tinggi. nilam akan memproduksi minyak atsiri dengan baik bila ditanam didaerah berketinggian 10- 400 m dpl. sampai saat ini para petani nilam masih belum menghasilkan secara maksimal hal ini dikarenakan masih terbatasnya pengetahuan para petani dalam melakukan budidaya diantaranya dalam mengendalikan hama dan penyakit yang menyerang tanaman nilam. agar tanaman nilam lebih menguntungkan, sebaiknya dalam berusahatani nilam dilakukan secara monokultur dan tidak sebagai usahatani sampingan. dengan pola tanam monokultur sehingga memerlukan budidaya yang intensif baik dari kesesuaian lahan dan iklim, penggunaan jenis/varietas, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit serta cara dan waktu panen yang tepat. jarak tanam dan dosis pemupukan disesuaikan dengan tingkat kesuburan lahan yang digunakan. jenis hama dan pengendaliannya hama yang dapat menyerang tanam nilam dan dapat menurunkan produksi minyak atsirinya antara lain: 1). ulat penggulung daun (pachyzaneba stutalis), ulat ini hidup dalam gulungan daun muda, sambil memakan daun yang tumbuh, pada serangan berat, yang tersisa hanya tulang-tulang daun nilam. pengendaliannya dilakukan dengan cara sebagai berikut: a) mengumpulkan dan memusnahkan bagian tanaman yang terserang. melakukan pengamatan yang ketat pada areal terserang untuk menghindari terjadinya ledakan populasi. pengamatan dilakukan dengan cara mengamati saat munculnya gejala awal kerusakan daun yang terserang larva stadia muda. mengingat siklus hidup hama berkisar antara 38-42 hari, maka pengamatan sebaiknya dilakukan setiap bulan sejak tanaman berumur satu bulan sampai saat panen; b) gunakan skstrak mimba dan bioisektisida (beauveria bassiana). cara ini walau tidak mematikan secara langsung tapi cukup efektif dan tidak mencemari lingkungan; 2) belalang (orthoptera), hama ini memakan daun, sehingga tanaman menjadi gundul. pada serangan berat, batang tanamannya dimakan dan akhirnya mati. jenis belalang yang banyak merusak tanaman nilam adalah: belalang kayu (valanga nigricornis). belalang daun (acrida turita). belalang kayu dapat menyebabkan kerugian hasil 20-25%, karena belalang tersebut berpindah dari satu kebun ke kebun lain, batang dan cabang tanaman sering patah akibat gigitannya sehingga perumbuhan tanaman terganggu. belalang daun biasanya memakan daun mulai dari pinggir atau tengah sehingga terbbentuk bekas gigitan melingkar atau lonjong. kadang-kadang belalang juga merusak batang dan ranting tanaman. cara pengendalian hama belalang ini dilakukan dengan cara : a) melakukan sanitasi lingkungan; b) melakukan pengolahan tanah yang baik karena dapat membunuh telur belalang kayu sebelum menetas; dan c) menggunakan musuh alami seperti cendawan metarhizium anisoliae; 3) tungau merah (tetranychus sp.), tungau merah umumnya menyerang daun tua dan muda, tungau hidup berkelompok di permukaan daun bagian bawah, merusak tanaman dengan cara mengisap cairan daun. gejala serangan memperlihatkan bercak-bercak putih. semakin lama bbercak semakin melebar. selain itu juga memperlihatkan gejala daun berlekuk-lekuk tidak teratur. pada tingkat serangan berat daun akan rontok. kerugian hasil dapat mencapai 15-25%. pengendalian dapat dilakukan dengan cara: a) pemangkasan (pemetikan daun), untuk mencegah meluasnya serangan. pemetikan dilakukan pada saat populasi tungau masih rendah. pemetikan yang dilakukan sedemikian rupa dapat menyebabkan terbuangnya telur-telur dan tungau dewasa; b) dengan melakukan penanaman tanaman perangkap, dengan menanam ubi kayu dan jarak (ricinus communis) sebagai barrier; c) penggunaan musuh alami seperti phytosentulus persimlis, p. macro pelis (menyerang telur dan nimfa) dan coccinelids; d) penyemprotan dengan insektisida nabati (ekstrak biji mimba) dosis 100 gr/liter; 4) criket pemakan daun (gryllidae), hama ini memakan daun muda, sehingga daun berlubang-lubang dan menyebabkan pr4oduksi turun. pengendalian dilakukan dengan cara sanittasi lingkunggan. pengendalian hama tanaman nilam dapat dilakukan dengan menggunakan pestisida nabati seperti ekstrak biji nimba (100 gr/liter), minyak serai wangi, minyak cengkeh (konsentrasi 305 v/v) atau dengan agensia hayati seperti beauveria bassiana untuk ulat pemakan daun dan metarrhizium anisopliae untuk belalang penyakit yang disebabkan serangan virus penyakit tanaman nilam umumnya disebabkan karena serangan virus. beberapa virus yang biasa menyerang yaitu: potyvirus, fabavirus, potexvirus, cucumber mosaic virus (cmv) dan tobacco mosaic virus (tmv). serangan virus bersifat sistemik. virus umumnya menyerang sel-sel tanaman nilam hidup, namun demikian ada virus (tmv) yang mampu bertahan dalam keadaan tanamanyang sudah kering dan bila lingkungan memungkinkan, virus akan aktif kembali dan bersifat infeksius. infeksi virus bersifat sistemik. untuk menghidari serangan virus, hendaknya sebelum ditanam stek tanaman dipastikan bebas dari infeksi virus. gejala infeksi tergantung pada tingkat kerentanan tanaman inangnya, jenis virus dan lingkungan tempat tumbuh tanaman. tanaman nilam yang terinfeksi virus menunjukkan gejala daun mengalami khlorosis dan berubah bentuk, serta ukuran daunnya tidak normal (lebih kecil). virus sangat merugikan petani nilam, karena produksi nilam diambil dari daun dan batang (biomasa) tanaman sehingga bila terjadi serangan akan menurunkan produksi nilam. cara menanggulangi virus dapat dilakukan dengan menghilangkan virus pada jaringan tanaman antara lain dengan kultur meristem, terapi panas dan penggunaan antivirus sintetis (ribavirin), asikloguanosin, azidotimidin dan 2-tiourasil. cara lain yang dapat dilakukan dengan: 1) dengan melakukan isolasi daerah meristem yang memiliki kandungan antivirus alami dan belum terinfeksi virus; 2) menghilangkan (eliminasi) virus dengan teknik kultur meristem apikal; 3) membrantas/mengurangi kutu daun aphis gossyypii (karena kutu ini dapat menyebarkan virus/potyvirus secara alami) dengan cara penyemprotan insektisida, musuh alami namun paling tepat adalah dengan pengendalian hama terpadu (pht); 4) pemilihan bahan tanaman (stek pucuk/batang) yang sehat dan bebas virus. oleh : ir.sri puji rahayu, mm/ yayuk_edi@yahoo.com sumber: ddihimpun dari berbagai sumber