Hama merupkan salah satu kendala produksi pada tanaman Jambu Mete di indonesia. Serangan hama terjadi sejak tanaman bibitan sampai produksi, bahakan di gudang penyimpan hasil. Sebaran dan kerusakan yang di timbulkan oleh hama jambu mete belum tercatat dengan baik karena semula tanaman tersebut hanya untuk konservasi tanaman pekarangan atau tamana sela. Namun dalam 15 tahun terahir, karena jambu mete mulai tanaman secara menokultur pada areal yang luas, masalah hama menjadi penting untuk di perhatikan. Hama utama jambu mete mengalami perubahan dalam 10 tahun terakhir akibat berubahan ekosistem atau lingkungan dan perilaku manusia (Rauf 2004). Hasil pengamatan di delapan provinsi pengembangan menujukan, minimal ada delapan jeni hama yang di temukan, namun hanya dua jenis merusak dan merugiakan, yaitu Cricula trifenestrata (satutrniidae: lepidotera) dan helopeltis antonii sing (heteroptera: miridae) (wirkadi et al. 1996). Beberapa tahun telah itu, C. trifenestrala tidak lagi menjadi hama utama karena petani melaksanakan pengendalian secara mekanis dengan memungut setiap kempompong hama tersebut pada tanaman jambu mete. Petani mendapat imbalan sesuai dengan jumblah kepompong yang peroleh. Kempompong dimanfaatkan sebagai campuran dalam pembuatan kain sutera. Luas serangan helopeltis spp. Meningkat secara singifikasi di beerapa sentra produksi dalam 5 tahun terahir tahun 2006, luas serangan helopeltis di Nusa Tenggar Barat mencapai 5.847,29 ha, Nusa Tenggra Timur 3.837,97 ha, Sulawesi Selatan 1.045,25 ha dan di Yogjakatra 84,75 ha Direktor perlindungan tanaman perkebunan 2006). Lonjangkan populasi helopeltis spp. Tidak akan terjadi jika musuh alaminya bekerja dengan baik. Hal ini karena hasil pengamatan menujukkan bahwa bilah serangan yang ditemukan dikelompokkan perdasarkan peran utamanya ekosistem, proporsi yang di peroleh adalah 33% hama utama dan potensi, 52% musuh alami, dan 15% serangan penyerbuk (supriadi et al. 2002. Siswanto et al (2003b). Dengan demikian, jenis serangan berguna lebih banyak dibandingkan dengan serangan yang merugikan. Parasitoid, predator, dan penyerbuk umumnya berasal dari ordo diptera dan Hymenoptera. Berdasarkan jenis rentang tanaman inangnya, ditemukan sembilan spesies hama yang menyerang tanaman perkebunan, seperti kopi, kakao, dan teh (wiratno et. 2001). Namun, hanya tiga spesies yang menyerang jambu mete, yaitu H. antonii, H. Theivora, .H. bradyi (supriadi et al. 2002). Dan paling banyak adalah H. antonii dan H. theivora. Ekonomi Hama Jambu Mete Helopeltis spp. Di kenal sebagai kepik pengisap (cashew sucker) karena nimfa dan imago miengisap cairan pada pucuk mudah, tunas, bunga, gelondong, dan buah mudah, cairan diisap, air liurnya yang sangat beracun dikeluarkan dan tempat yang terkena akan melepuh dan berwarna coklat tua. Serangan pada pucuk dan daun mudah mengakibatkan bagian tanaman tersebut mengering dan mati pucuk. Bunga yang terserang menjadi hitam dan mati, kadang bekas tusukan serangan ditandai dengan keluarnya gum. Buah mudah yang terserang berbercak hitam, jika yang terserang buah tua, titik-titik hitam akan terlihat pada buah bahwa banyaknya bekas tusukan memengaruhi persentase kematian pucuk. Bekas tusukan sebanyak 42 bercak mengakibatkan 20% kematian pucuk pada minggu pertama dan menjadi 46% pada minggu keenam (siswanto et al. 2007). Denan melihat gejala yang terjadi dilapangan, dapat disimpulkan bahwa makin dini tanaman diserang, kerugian yang ditimbulkan makin besar karena satu pucuk atau salah karangan bunga sehat berpeluang untuk menghasilkan beberapa buah. Serangan helopeltis anacardii di beberapa negara Asia selatan, india, dan Afrika timur menyebakan kerusakan pucuk seingga 80% tiap pohon(Rickson dan Rickon 1998). Sementara itu, mendall (2000) menyebutkan bahwa serangan helopeltis spp. Pada tanaman jambu mete menyebabkan kerusakan sebesar 25% pada pucuk 35% pada karangan bunga, dan 15% pada buah muda. Di indonesia, luas serangan helopeltis spp. Di sentar produksi jambu mete sangat bervariasi dan meningkat dengan cepat tiap tahun, namun laju peningkatkan berbeda antarprovinsi. Di Nusa Tenggara barat, luas serangan helopeltis spp. pada tahun 2004 hanya1.051 ha, tetapi pada akhir 2005 mencapai 5847 ha. Di sulawesi selatan luas serangan helopeltis spp. Naik dari 638 ha pada tahun 2004 menjadi1.045 ha pada tahu 2005, sedangkan di Yogjakarta luas seranganya justru menurun dari 129 ha menjadi 85 ha pada tahun 2005 (Direktorat perlindungan tanaman perkebunan 2006a). Kerugian hasil yang disebabkan oleh helopeltis spp. Belum diketahui secara pasti karena masing-masing memberikan penaksiran yang berbeda. (Ibrahim Saragih) Sumber :- Abdurachaman Adimihardja dkk, Pengembangan Inovasi Pertanian, 2010, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementrian Pertania, Bogor