Hama dan penyakit pada tanaman teh sampai saat ini masih merupakan masalah, karena menyebabkan kehilangan hasil yang tinggi dan berpengaruh terhadap pencapaian sasaran produksi. Usaha dalam menekan kehilangan hasil akibat gangguan hama dan penyakit perlu mendapat perhatian khusus dalam usaha pengendaliannya. Hama penghisap buah Helopeltis merupakan salah satu kendala utama pada budidaya teh di Indonesia. Hama ini menimbulkan kerusakan dengan cara menusuk dan menghisap menghisap cairan daun ataupun tunas-tunas muda. Serangan pada daun muda menyebabkan matinya buah tersebut, sedangkan serangan pada buah berumur sedang mengakibatkan terbentuknya daun abnormal. Akibatnya, daya hasil dan mutu teh menurun. Kepik pengisap daun atau Helopeltis menyerang pucuk daun muda. Kepik ini menusuk dan mengisap daun teh sehingga menjadi bercak-bercak hitam. Serangan pada ranting dapat menyebabkan kanker cabang. Serangga betina meletakkan telu kira-kira 80 butir. Telur dimasukkan ke urat daun teh atau cabang pucuknya secara tersembunyi untuk menghindari serangan predator. Telur juga dimasukkan ke dalam ujung cabang hijau yang baru dipangkas. Helopeltis dewasa mempunyai tiang kecil seperti jarum yang menonjol dari tengah punggungnya (thorax). Jangka hidup nimfa dari menetas sampai dewasa adalah 3 - 5 minggu, sedangkan serangga dewasa bisa sampai 2 minggu. Serangan helopeltis terhadap tanaman teh terutama ditunjukkan terhadap pucuk-pucuk daun teh yang masih muda, serangan ini sering mengakibatkan matinya daun teh setelah terlebih dahulu mengalami gejala mengotornya daun dengan bercak-bercak warna hijau yang berubah menjadi coklat. Apabila yang diserang itu pucuk pada cabang atau tunas, pengotoran daun dengan bercak-bercak serta perubahan warnanya akan sama tetapi memanjang, timbulnya gejala demikian karena bagian yang dihisap cairan selnya masih mampu untuk tumbuh terus. Serangan yang serius dapat menimbulkan penyimpangan pembentukan daun muda sehingga daun muda tersebut diabaikan ketika pemetikan. Serangan yang lebih lanjut pada cabang yang daun-daun mudanya mengalami penyimpangan pembentukan itu dan tidak dilakukan pemangkasan, biasanya menyebabkan cabang tadi membengkak pada pertumbuhan selanjutnya dan akan tampak setelah cabang itu menjadi tua. Pemangkasan perlu segera dilakukan terutama pada cabang yang berpucuk seperti diatas. Penyebarannya didaerah berketinggian kurang dari 600 m dpl. Selama hidupnya (yang betina) memproduksi telur sampai 172 butir. Panjang tubuhnya antara 6,5 - 7,5 mm berwarna dasar hitam dan pada abdomennya tergambar garis-garis hitam putih yang berselang seling, penyebarannya sangat luas pada ketinggian antara 200-1400 m dpl. Induknya mampu memproduksi telur sampai 235 butir. Musuh-musuh alaminya yaitu semut hitam dan semut gramang, tetapi tidak membunuh melainkan hanya mengusir saja. Predatornya adalah kepinding buas (familia Reduviidiae) yang selalu memangsa nimfa-nimfanya. Pengendalian:Untuk mengatasi helopelthis ini dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain:Secara kultur teknis dengan mengaturan tanaman pelindung agar tidak terlalu rimbun dan tidak terlalu berdekatan dengan melakukan pemetikan dengan daur petik 7 hari. Kerena helopeltis sangat menyukai untuk hidup dan berkembang pada tempat-tempat dengan daerah kelembaban tinggi dengan temperatur yang tidak terlalu panas, jadi pengurangan tanaman pelindung dan pengurangan kerimbunannya dapat mengurangi kagiatan serangannya. Melakukan pemangkasan yang sejajar dengan kemiringan lahan (dalam rangka mengurangi kelembaban), baik pemangkasan kepras maupun pemangksan dalam. Mengurangi pertumbuhan tanaman inang (tanaman lombok, kangkung dan beberapa jenis herba) atau sama sekali menjauhkannya dari sekitar lahan pertanaman teh. Melakukan pemupukan dengan N dan K yang seimbang, sebab pemupukan N yang terlalu tinggi menyebabkan kandungan asam amino bertambah, akibatnya tanaman teh lebih disukai helopeltis, apabila kandungan K terlalu kurang menyebbakan pekanya tanaman tanaman terhadap serangan helopeltis. Secara chemis apabila serangannya telah demikian merusak disertai meningkatnya populasi helopelthis ini, maka penggunaan obat-obatan yang residual efeknya rendah perlu dilakukan, pengalaman telah menunjukkan hasil yang memuaskan dengan Medol 2 % sebanyak 400 – 500 liter untuk setiap hektar atau menggunakan obat lain yang dianjurkan. Musuh alami, Dolichoderus atau semut hitam, parasit Eupharus dapat menurunkan populasi hingga 80%. Cara mekanis melalui pemupukan yang seimbang dan pengaturan kultur teknis ( pohon pelindung ). Cara kimiawi dengan penggunaan insektisida dengan berbahan aktif Lamda Sihalotrin dengan konsentrasi 0,25 ml/l dan Beta Sipermetrin dengan konsentrasi 0,5 ml/l. Ditulis kembali oleh : Kukuh Wahyu W (BBP2TP) widjajantokukuh@yahoo.comTanggal : 3 Agustus 2017Sumber : Derektorat Perlindungan Perkebunan, Kementerian Pertanian 2015Foto : Derektorat Perlindungan Perkebunan, Kementerian Pertanian 2015