Kentang (Solanum tuberosum L) merupakan komoditas hortikultura jenis sayuran umbi penting di Indonesia yang dapat dijadikan pangan alternatif, sebagai sumber karbohidrat kaya protein dan sebagai penunjang diversifikasi pangan. Selain itu semakin berkembangnya industri makanan ringan dan restoran cepat saji yang salah satu bahan bakunya kentang, meningkatkan permintaan produk kentang aman konsumsi. Salah satu faktor risiko dalam usaha tani kentang sejak di lapangan sampai penyimpanan adalah Nematoda Sista Kentang / NSK (Globodera rostochiensis), di luar negeri disebut Potatoes Cyst Nematode. Gejala kentang terserang NSK ditandai dengan penurunan produksi mencapai 70 %, dari produksi normal 25 ton /ha, turun menjadi 10 ton/ha, bahkan sampai 5 ton /ha (kehilangan hasil 75%). Menurut Achrom (2011), asumsi penurunan hasil karena NSK pada tingkat serangan rendah (20 telur/g tanah) secara nasional penurunan hasil 133.062 ton senilai Rp. 532.284.000.000. Saat populasi NSK di suatu daerah sangat tinggi penurunan hasil mencapai 80% (848.644 ton) atau senilai Rp. 3.394.576.000.000,-. NSK pertama kali ditemukan di Jerman tahun 1913, saat ini telah tersebar di berbagai daerah di Eropa. Selain G. rostochiensis terdapat pula G. pallida yang sangat mirip, tetapi terdapat perbedaan beberapa karakter morfologi. G. rostochiensis merupakan organisme pengganggu tumbuhan karantina (OPTK) A2 Golongan II sebagaimana tercantum dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 38/Kpts/HK.060/1/2006 Tgl. 27 Januari 2006 junto Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No 28 Tahun 2009 tentang Jenis-Jenis Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina Golongan I Kategori A1 dan A2, Golongan II Kategori A1 dan A2, Tanaman Inang, Media Pembawa dan Daerah sebar, sedang G. pallida merupakan OPTK A1 Golongan II. G. rostochiensis dalam perkembangannya melalui tahapan stadium telur, larva dan dewasa. Siklus hidup dari telur sampai dewasa berlangsung 38 – 48 hari. NSK betina bersifat amphimictic, berbentuk bulat (globose), sessile, dan motile (bergerak). NSK jantan berbentuk seperti cacing (vermiform). Daur hidup antara 5 – 7 minggu tergantung kondisi lingkungan dengan produksi telur 200-500 butir. Kemampuan bertahan hidup NSK pada kondisi lingkungan kurang menguntungkan (tidak ada inang, suhu sangat rendah, suhu tinggi dan kekeringan) membentuk sista. Nematoda aktif kembali setelah kondisi lingkungan sesuai, terutama adanya eksudat akar tanaman inang. Sista dapat bertahan lebih dari 10 tahun. Larva NSK stadium dua aktif pada suhu 100C, suhu optimum menginfeksi 160C, kisaran suhu optimum untuk pertumbuhan dan perkembangan antara 15 – 210C, kisaran pH yang dapat ditoleransi sesuai untuk kentang. Diperlukan waktu 7 – 8 tahun dari saat introduksi sampai “establish” dan pada tingkat yang dapat dideteksi pada areal yang terinfeksi keberadaannya secara permanen. Gejala serangan mulai tampak setelah mencapai populasi “tertentu”, pada awal infeksi gejala masih belum tampak. Larva NSK terdiri atas empat stadium, larva stadium 2 (dua) resisten, dorman (bertahan) dan merupakan stadium infektif, berada dalam telur di dalam sista. Sista tetap berada dalam tanah pada kedalaman 30cm setelah inang mati. Setelah menetas, larva stadium 2 (dua) masuk ke akar tanaman inang, pada bagian ujung akar atau akar lateral baru. Selanjutnya bergerak menjauh dari ujung akar sebelum mulai makan pada sekelompok sel pericycle, cortex, atau sel endodermis dan makan sampai menjadi dewasa. Gejala Serangan NSK Pada Tanaman Kentang diantaranya adalah : Gejala tingkat lapangan 1) Pertumbuhan tanaman terhambat, tanaman merana secara lambat laun meskipun syarat – syarat pertumbuhan sudah terpenuhi. 2) Gejala klorosis dan gejala penyakit fisiologis lainnya. 3) Daun – daun tanaman layu pada siang hari, yaitu pada periode tertentu di mana tingkat kelembaban udara, khususnya kelembaban tanah relatif rendah. Pada kondisi kelembaban tersebut, tanaman yang tidak terserang nematoda masih tetap segar. Kelayuan sementara tersebut akan segera pulih kembali apabila kelembaban tanah dan udara meningkat kembali. 4) Karena sebaran horizontal nematoda tidak mengikuti sebaran normal, tetapi mengikuti sebaran klaster, maka pada areal yang luas dan diamati dari jarak jauh, akan terlihat gejala botak (patch symptom) di mana ada sekelompok tanaman di sana – sini yang kerimbunan daunnya lebih tipis karena pertumbuhan tanamannya terhambat, kanopinya menguning. 5) Apabila syarat – syarat pertumbuhan tanaman optimal terpenuhi (kualitas bibit bagus, persediaan air cukup, kesuburan tanah tinggi), maka serangan nematoda khususnya NSK pada perakaran belum mengakibatkan gejala visual yang mudah diciri pada tajuk tanaman. Apabila syarat – syarat pertumbuhan tersebut kritis, maka serangan NSK akan sangat memperberat penderitaan tanaman. Gejala serangan akan lebih nyata apabila persediaan makanan dalam umbi bibit sudah habis dan akar harus menyerap air dan hara dari tanah. Pada bagian hamparan yang terserang berat (hot spot) tanaman habitusnya kerdil, tumbuh merana dan sebagian daun – daunnya berwarna kuning cerah. Berbeda dengan nematoda lain, serangan NSK meskipun dengan populasi rendah mampu mengakibatkan gejala kekerdilan habitus tanaman kentang Gejala tingkat individu tanaman Apabila dilakukan pengamatan yang teliti terhadap gejala – gejala khusus yang terjadi pada perakaran tanaman yang terserang NSK tersebut dibandingkan dengan tanaman yang tidak terserang, maka akan terlihat gejala – gejala antara lain : 1) Percabangan perakaran yang tidak normal, akar terlihat lebih gemuk, membengkak, tetapi benjolan yang kadang – kadang terbentuk tidak sehebat seperti pada serangan Meloidogyne spp. atau Nacobbus sp. 2) Terlihat sista menempel pada permukaan akar. Sista tersebut berbentuk bulat, berwarna kuning muda, kuning tua, kuning kecoklatan, coklat atau coklat tua mengkilat (glossy dark brown) 3) Sista tersebut dapat terlihat dengan mata telanjang, menempel berderetan pada perakaran, sebagian yang berwarna coklat jatuh ke tanah apabila perakaran digoyang – goyang. Ukuran garis tengah sista bervariasi antara 400 – 800 mikron 4) Umbi yang sempat terbentuk berukuran lebih kecil, jumlahnya sedikit, pada serangan berat produksi ubi kentang akan lebih ringan (rendah) dibandingkan dengan bobot ubi bibit yang dipakai. Pengendalian NSK bisa dilakukan dengan cara : Pemilihan lahan Pilih lahan calon budidaya kentang yang bebas NSK, atau populasi awal NSK dalam lahan jumlahnya di bawah ambang ekonomi Pemberian pupuk organik Pupuk organik yang digunakan harus sudah terdekomposisi sepenuhnya. Bibit harus bebas dan berasal dari pembibitan yang bebas NSK. Menanam varietas / kultivar yang tahan / toleran terhadap NSK. Pengolahan tanah yang baik ini disertai dengan sanitasi kebun dari sumber – sumber inokulum NSK. Rotasi tanaman Pemupukan Berimbang Pencabutan Tanaman sakit Pemantauan Penggunaan Nematisida selektif Penulis : Iftachol Arifin, SP