Dari dulu hingga kini, kita masih sering jumpai petani membakar limbah jerami, di lahan sawahnya, meskipun penyuluhan sudah secara terus menerus memberikan penyuluhan cara pembuatan kompos dari bahan jerami. Mungkin pembakaran tetap sering dilakukan karena dianggap praktis dalam membersihkan limbah. Atau mungkin mempercepat proses mineralisasi. Dengan cara ini tidak akan diperoleh penambahan humus dan N ke dalam tanah karena habis terbakar. Sehingga sumber bahan organik tidak dapat dimanfaatkan. Hal tersebut sangatlah disayangkan, karena selain menyebabkan kerusakan pada lingkungan ternyata juga menyebabkan kerusakan pada tanah areal persawahan sebagai akibat unsur hara yang terdapat pada tanah sawah akan selalu berkurang. Seharusnya jerami diolah saja menjadi kompos kemudian dikembalikan ke sawah sebagai pupuk organik. Namun kadar hara jerami, terutama N sangat rendah, dan agak sukar lapuk. Akan tetapi jerami mengandung silikat (Si) cukup tinggi, yang jarang ditambahkan petani ke lahan persawahan serta kurang didapat pada bahan organik lainnya. Menurut hasil penelitian kadar silikat (Si) tanah sawah utama sudah banyak berkurang dari 1,646 ± 581 kg SiO2 ha-1 menjadi 1,283 ± 533 kg SiO2 ha-1 (-22 %). Jerami padi mengandung Si sebesar 13,16 %. Unsur Si merupakan hara penting bagi tanaman padi. Berdasarkan hasil penelitian pemberian silikat (Si) dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi padi hampir dua kali lipat jika dibandingkan dengan tanpa pemberian Si, terutama kondisi pemberian air pada kapasitas lapang. Dengan demikian, untuk memacu produksi padi sangat diperlukan hara yang cukup secara berkelanjutan.Selain itu, di dalam jerami terdapat beberapa unsur hara yang berguna untuk tanaman seperti Nitrogen dan Kalium sehingga dengan membakar jerami berarti sama saja dengan membakar uang karena jerami yang dibakar tersebut sebenarnya dapat membantu menggantikan pupuk KCl sebanyak 1 sak (50 kg). Dengan menggunakan pupuk kompos dari jerami padi ke lahan sawah, berarti petani dapat menghemat biaya pupuk karena tidak perlu lagi memberikan pupuk KCl. Selain itu dengan Penggunaan jerami padi ke dalam tanah sawah dapat meningkatkan kandungan C-organik tanah, meningkatkan efisiensi dan efektivitas penggunaan pupuk anorganik. Jerami padi sebanyak 5 ton mengandung 38 kg N, 3 kg P, 113 kg K, dan 209,5 kg Si. Bilamana jerami padi dikembalikan ke dalam tanah maka dapat mengurangi kebutuhan pupuk K anorganik yang relatif banyak, dan ketersediaan K akan meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan penyakit tanaman.pemberian kompos jerami padi 5 t/ha meningkatkan hasil gabah padi sawah tadah hujan sebesar 38,1-50,5% dibandingkan tanpa pemberian bahan organik.Pemberian kompos jerami padi bersamaan dengan pupuk K dapat menurunkan tingkat serangan penyakit bercak coklat dan bercak coklat sempit. Menurut hasil penelitian, dibandingkan tanpa pemberian jerami padi dan pupuk K, pemberian kompos jerami + pupuk K menurunkan bercak coklat dan bercak coklat sempit masing-masing sebesar 36,2 dan 56,3%. Emisi gas rumah kaca (metana dan dinitrogen oksida) dari penggunaan kompos jerami di lahan sawah tadah hujan adalah lebih rendah daripada dari pemberian jerami segar. Gas CH4 dan N2O masing-masing memberikan kontribusi 15 dan 6% terhadap efek rumah kaca. Balai Penelitian Lingkungan Pertanian melaporkan bahwa pemberian kompos jerami 5 t/ha dapat menurunkan emisi metana 13,8% lebih besar dibandingkan pemberian jerami segar 5 t/ha secara langsung ke dalam tanah sawah tadah hujan. Kompos jerami padi dapat menurunkan emisi gas N2O sebesar 58,9% dibandingkan tanpa pemberian jerami padi di lahan sawah tadah hujan. Pemberian kompos jerami padi ke dalam tanah dapat disarankan bagi petani di lahan sawah tadah hujan karena mempunyai multifungsi antara lain meningkatkan produktivitas padi, memberikan ketahanan terhadap penyakit sekaligus menghemat biaya pupuk K, dan menurunkan emisi GRK khususnya CH4.Pengolahan jerami membutuhkan tenaga, waktu, dan pekerjaan tambahan yang banyak, sehingga perlu dicari cara lain agar jerami tersebut dapat dimanfaatkan oleh para petani. Petani bisa sesering mungkin diingatkanakan pentingnya pengembalian jerami ke dalam tanah, kalau memungkinkan sering dilakukan praktek fermentasi jerami dihadapan para petani. Sumber mikroba pengompos (dekomposer) yang digunakan bisa dipilih yang sering terdapat disekitar petani/yang mudah didapat seperti super farm yang banyak tersedia. Perlu juga petani dingatkan akan manfaat kompos yaitu a. Menghemat biaya untuk transportasi dan penimbunan limbah, b. Mengurangi volume/ukuran limbah, c. Memiliki nilai jual yang lebih tinggi dari pada bahan asalnya, d. Mengurangi polusi udara karena pembakaran limbah, e. Mengurangi kebutuhan lahan untuk penimbunan, f. Meningkatkan kesuburan tanah, g. Memperbaiki struktur dan karakteristik tanah, h. Meningkatkan kapasitas jerap air tanah, i. Meningkatkan aktivitas mikroba tanah, j. Meningkatkan kualitas hasil panen (rasa, nilai gizi, dan jumlah panen). k. Menyediakan hormon dan vitamin bagi tanaman, l. Menekan pertumbuhan/serangan penyakit tanaman, m. Meningkatkan retensi/ketersediaan hara di dalam tanah dan lain-lain.Ada yang sudah menganalisa bahwa dengan mengolah kembali limbah jerami menjadi kompos, dapat menghemat pembelian pupuk organik. Jika pupuk organik sebanyak 1 kg harganya Rp.2000-7500 , dengan pupuk kompos jerami 1 kg yang dapat dibuat sendiri dengan biaya operasional Rp 0, ,maka dapat menghemat biaya operasional lahan sebesar Rp. 2000-7500 per 5 meter persegi lahan. Pembuatan pupuk jerami hanya mempergunakan teknologi fermentasi. Selama masa fermentasi akan terjadi proses pelapukan dan penguraian jerami menjadi kompos. Pupuk kompos merupakan salah satu jenis pupuk yang ramah lingkungan. Selain berguna untuk meningkatkan kesuburan tanah yang dapat menigkatkan produksi pertanian, juga sangat aman bagi kelestarian lingkungan. Hal ini disebabkan karena bahan-bahan untuk pembuatan pupuk kompos ini berasal dari tumbuh-tumbuhan yang juga berasal dari alam itu sendiri. Selain itu pembuatan pupuk kompos ini hanya memerlukan biaya yang elatif murah. Sehingga dapat menekan pengeluaran yang dibayarkan oleh petani. Berkurangnya biaya yang dikeluarkan petani juga dapat meningkatkan pendapatan mereka, hal ini dapat mengakibatkan terjadinya peningkatan kesejahteraan para petani. Penyunting: Yulia Tri SEmail: yuliatrisedyowati@yahoo.co.id Sumber:1. Asmara, L. 1999. Pengaruh Perbanyakkan medium starter Trichoderma harzianum terhadap kecepatan proses pengomposan dan kualitas kompos jerami padi ( Oryza sativa ). Skripsi fakultas Pertanian Universitas Andalas. Padang.BPTPH II padang. 20002. http://isroi.wordpress.com3. http://bengkulu.litbang.deptan.go.id.