Loading...

Inovasi Komponen Teknologi Jagung

Inovasi Komponen Teknologi Jagung
Keberhasilan peningkatan produksi dan pendapatan petani jagung, terkait dari orientasi tujuannya diantaranya berorientasi produksi biji, produksi tongkol muda, produksi biomas pakan. Tujuan tersebut bergantung pada kemapuan penyediaan dan penerapan inovasi teknologi, yang meliputi penyediaan varietas unggul, benih bermutu, dan teknologi budidaya, termasuk ketersediaan air dan pemupukan.Varietas UnggulDiantara komponen teknologiprodukai,varietas unggul sangat berperan dalam upaya peningkatan produktivitas jagung maupun sebagai komponen pengendalian hama dan penyakit. Sifat tanaman yang dipertimbangkan dalam perakitan varietas unggul adalah kesesuaiannya dengan kondisi lingkungan (tanah, iklim), tujuan pemanfaatan, dan preferensi petani terhadap sifat lainnya, seperti umur dan warna biji.Banyak varietas unggul jagung yang telah dilepas, baik komposit maupun hibrida. Beberapa varietas unggul yang telah dihasilkan mempunyai beberapa keunggulan karakter spesifik yang dapat mendukung usaha peternakan, antara lain mempunyai produktivitas biomasa hijauan tinggi, mutu protein tinggi, toleran kekeringan, toleran lahan masam dan daya hasil bijinya juga tinggi. Contohnya vrietas Lamuru mempunyai daya hasil 7,6 t/ha, umur panen 95 hari, agak toleran terhadap penyakit bulai, dan keunggulan spesifiknya toleran terhadap kekeringan. Tersedianya banyak varietas unggul yang mempunyai sifat spesifik merupakan hal yang menguntungkan bagi pengguna/petani, karena tersedia banyak alternatif yang dapat disesuaikan dengan kondisi tanah, iklim, tujuan produkai, dan sosia-lekonomi masyarakat.PerbenihanDengan adanya revitalisasi pertanian dan program swasembada jagung, pengembangan jagung hibrida di tingkat petani makin meluas. Namun benih yang digunakan kebanyakan benih turunan (F2), terutama petani yang kurang mampu membeli benih F1 karena harganya cukup mahal. Hasil yang diperoleh menunjukkan penurunan bahwa penggunaan benih turunan hibrida silang menurun dari 8,34-8,38 t/h menjadi 6,14-6,50 t/ha atau turun sekitar 22-32%. Tetapi dengan menggunakan varietas komposit (Bisma) dapat menghasilkan 7,66 t/ha (Saenong et al.2003).Penyiapan LahanCara penyiapan lahan dalam usahatani jagung selain mempengaruhi hasil juga menentukan percepatan tanam, namun ada risiko biaya produksi yang pada gilirannya akan menentukan keuntungan. Pengolahan tanah tergantung pada jenis/tekstur tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bila dilihat dari pengaruh tunggal pengolahan tanah, produktivitas jagung dalam sistem tanpa olah tanah (TOT) berkisar antara 72-110%, olah tanah minimum (OTM) 76-107%, dibandingkan dengan olah tanah sempurna (OTS). Cara pengolahan tanah akan berpengaruh pada kecepatan tanam (waktu tanam). Tanpa olah tanah umumnya akan mempercepat waktu tanam, sehingga potensi kekeringan dapat ditekan. Waktu tanam akan terlambat apa bila sebelumnya dilakukan pengolahan tanah yang memakan waktu sekitar satu bulan. Hasil penelitian di beberapa daerah menunjukkan bahwa dengan TOT dilahan sawah tadah hujan mendatangkan keuntungan lebih tinggi dibandingkan dengan sistem OTS (73%). Keunggulan sistem TOT adalah : (a) mengurangi biaya produksi, biaya pengolahan tanah dan pengairan (b) memberikan hasil yang lebih tinggi, yaitu 4,47 t/ha pipilan kering pada sistem TOT, dan 3,68 t/ha pada sistem OTS. Hal ini berkaitan dengan kondisi lingkungan yang lebih baik, utamanya dalam kecukupan lengas tanah, sebab penanaman dengan sistem TOT akan lebih awal 33 hari dibandingkan dengan sistem OTS sehingga sisa air setelah padi dan sisa hujan dapat termanfaatkan oleh pertanaman.Pengelolaan Hara dan AirTanaman jagung relatif banyak mebutuhkan hara agar dapat tumbuh baik dan berproduksi optimal, sehingga pemupukan merupakan salah satu kunci bagi keberhasilan budidaya jagung. Pada tanah latosol, vulkanis, mediteran dan podsolik, berikan pupuk urea dengan takaran 200-400 kg/ha. Takaran pupuk urea untuk hibrida adalah 420 kg/ha dan komposit 350 kg/ha, dengan aplikasi tiga kali, yaitu 7, 25, dan 40 HST dengan cara ditugalkan di samping tanaman dan ditutup kembali dengan tanah. Takaran ini bisa diefisienkan bergantung pada tingkat kesuburan tanah dengan cara menggunakan bagan warna daun (BWD). Daun yang akan dipantau adalah daun yang telah terbuka sempurna (daun ke 3 dari atas). Pilih 20 tanaman secara acak pada setiap petakan lahan (kl.1,0 ha). Lindungi daun yang akan dipantau dari sinar matahari langsung. Letakkan daun di atas BWD yaitu 1/3 dari ujung daun, kemudian warna daun dibandingkan dengan warna BWD. Rata-ratakan nilai dari 20 daun yang diamati untuk mengetahui tambahan pupuk urea yang digunakan.Teknologi pengelolaan air harus mendapat perhatian, tidak hanya dari segi efisiensi tetapi juga cara aplikasi yang dapat meningkatkan efisiensi tenaga kerja dan biaya.Ruslia AtamajaSumber : Puslitbang Tanaman Pangan