Loading...

Inovasi Pengelolaan Air pada Lahan rawa

Inovasi Pengelolaan Air pada Lahan rawa
Lahan rawa merupakan lahan yang berada di kawasan sepanjang pantai, aliran sungai, danau, atau lebak yang letaknya masuk ke pedalaman sampai sekitar 100 km atau sejauh dirasakannya pengaruh gerakan pasang. Jadi lahan rawa dapat dikatakan sebagai lahan yang mendapat pengaruh pasang surut air laut atau sungai disekitarnya. Di Indonesia terdapat dua pengertian istilah rawa, yakni rawa pasang surut dan rawa lebak. Rawa pasang surut diartikan sebagai daerah rawa yang mendapatkan pengaruh langsung atau tidak langsung oleh ayunan pasang surut air laut atau sungai disekitarnya. Sedangkan rawa lebak adalah daerah rawa yang mengalami genangan selama lebih dari tiga bulan dengan tinggi genangan terendah 25 – 50 cm. Lahan rawa yang cocok dikonversi menjadi kawasan pertanian diprioritaskan pada lahan rawa yang ditumbuhi semak belukar yang secara ekologi cocok untuk kegiatan budidaya pertanian. Prioritas lainnya adalah merevitalisasi rawa bokor yaitu lahan rawa yang pernah dibuka namun belum dibudidayakan. Lahan terbengkalai ini dapat diaktifkan dengan memperbaiki sistem tata air, baik makro maupun mikro. Pada lahan rawa lebak dalam dengan genangan > 1 m sepanjang tahun disarankan tetap menjadi kawasan konservasi, sedangkan rawa lebak dangkal dan tengahan (genangan Pengelolaan Air Berdasarkan Jenis Lahan Rawa Pengelolaan air merupakan salah satu kunci utama menaklukkan lahan rawa sehingga optimal untuk usahatani. Seperti diketahui, lahan rawa miskin hara dan tingkat kemasaman yang tinggi. Tidak heran, variasi tanaman yang dapat tumbuh terbatas dan produktivitasnya rendah. Pengendalian tingkat kemasaman dan tinggi genangan air membutuhkan pembangunan sistim jaringan irigasi dengan konstruksi yang tepat dan membutuhkan biaya investasi dan pemeliharaan yang cukup tinggi. Infrastruktur jaringan irigasi termasuk pintu masuk dan keluar air sangat penting dalam pengelolaan lahan rawa lebak. (1) Rawa pasang surut Pada lahan rawa pasang surut, sistem tata air yang teruji baik adalah aliran satu arah dan tabat. Sistem pengelolaan satu arah dirancang sedemikian rupa sehingga air di kelola untuk masuk dan keluar melalui saluran tersier yang berlainan. Selain dapat memperlancar pencucian unsur racun, juga memungkinkan dikembangkannya beragam pola tanam agar terjadi peningkatan produktivitas lahan dan hasil padi. Sistem kerjanya, masing-masing muara saluran tersier dipasang pintu air otomatis tipe flapgates. Pada saluran pemasukan (irigasi), pintu air dirancang secara semi otomatis yang hanya membuka ke dalam pada saat air pasang dan menutup sendiri pada saat air surut. Pada saluran pengeluaran (drainase), pintu air dipasang membuka ke arah luar sehingga hanya akan mengeluarkan air yang masuk dari saluran tersier apabila terjadi surut. Sistem ini menciptakan terjadinya sirkulasi air dalam satu arah, baik air permukaan maupun air bawah tanah karena adanya perbedaan tinggi muka air dari saluran tersier irigasi dan drainase. Penerapan tata air sistem aliran satu arah. Sistem tabat, dilakukan dengan memfungsikan saluran sekunder sebagai saluran penampung. Untuk mengatur muka air pada petakan lahan, dipasang pintu tabat berupa stoplog. Pada saat hujan, pintu-pintu tersebut dibiarkan terbuka untuk membuang racun dari petakan lahan. Pada lahan dengan tipe luapan A system tata air yang digunakan adalah system aliran satu arah. Pada lahan tipe luapan B digunakan sistem aliran satu arah dan tabat. Sedangkan pada lahan dengan tipe luapan C dan D digunakan system tabat. (2) Rawa lebak Rawa lebak adalah lahan yang pada periode tertentu, umumnya minimal satu bulan mengalami tergenang air dan sumber airnya berasal dari air hujan baik yang turun setempat ataupun dari daerah di sekitarnya. Selain itu, sumber air juga berasal dari luapan banjir hulu sungai dan dari bawah tanah. Permasalahan yang sering dijumpai pada rawa lebak adalah kondisi air yang fluktuatif tergantung pada curah hujan atau luapan banjir hulu sungai. Pengelolaan air pada lahan rawa lebak jika terjadi kelebihan air diperlukan drainase dan apabila sedang kekurangan air diperlukan irigasi. Tidak heran pemanfaatan lahan rawa lebak umumnya berkembang pada saat musim kemarau. Pengelolaan air di lahan rawa lebak dapat dilakukan melalui : (1) pembuatan saluran atau parit dan pengaturan air di dalam saluran, (2) pembuatan saluran cacing atau kemalir di petakan lahan, (3) pemberian air kepada tanaman pada musim kemarau, dan (4) pemberian mulsa di petakan lahan. Pemilihan teknologi pengelolaan air didasarkan kepada jenis tanaman, musim tanam, dan ketersediaan airnya. Pemberian air pada musim kemarau dapat dilakukan dengan pemompaan dari saluran ke petakan lahan atau dengan teknik penyiraman menggunakan gembor maupun teknik irigasi tetes. Sistem Pengelolaan Air Lainnya Beberapa sistem penggelolaan air pada lahan rawa diantaranya dilakukan secara tradisional. (1) Sistem handil Sistem ini rancangannya sangat sederhana berupa saluran yang menjorok masuk dari muara sungai atau luasan lahan atau areal yang dibuka dengan sekaligus pembuatan saluran yang menjorok masuk ke pedalaman dari pinggiran sungai besar. Sistem ini hanya cocok dikembangkan untuk skala pengembangan yang relatif kecil sekitar 7 -10 orang. Sistem handil ini mengandalkan apa yang telah diberikan alam berupa tenaga pasang surut untuk mengalirkan air sungai ke saluran-saluran handil dan parit kongsi, kemudian mengeluarkannya ke arah sungai jika surut. Adakalanya, dari pinggir handil dibuat saluran-saluran yang tegak lurus sehingga suatu handil dengan jaringan saluran-salurannya menyerupai bangunan sirip ikan atau daun tulang nangka. Handil, selain sebagai jaringan pengairan/pengatusan, dimanfaatkan juga sebagai alur transportasi untuk dilewati sejenis sampan atau perahu kecil. (2) Sistem anjir Sistem anjir disebut juga dengan sistem kanal yaitu sistem tata air makro dengan pembuatan saluran besar yang dibuat untuk menghubungkan antara dua sungai besar. (Saluran yang dibuat dimaksudkan untuk dapat mengalirkan dan membagikan air yang masuk dari sungai untuk pengairan jika terjadi pasang dan sekaligus menampung air limpahan (pengatusan) jika surut melalui handil-handil yang dibuat sepanjang anjir. Parit dapat dipandang sebagai saluran sekunder bila sungai dipandang sebagai saluran primer. Parit dibuat secara bertahap dan diselaraskan dengan kondisi perubahan lahan, pengaruh pasang surut (kedalaman muka air) dan ketebalan gambut. Modifikasi sistem anjir dilakukan oleh tim Universitas Gajah Mada (UGM) pada lahan pasang surut dengan nama sistem garpu. Sistem tata air ini dirancang dengan saluran-saluran yang dibuat dari pinggir sungai masuk menjorok ke pedalaman berupa saluran navigasi dan saluran primer, kemudian disusul dengan saluran sekunder yang dapat terdiri atas dua saluran bercabang sehingga jaringan berbentuk menye¬rupai garpu. Ukuran lebar saluran primer antara 10 m - 20 m dan dalam sebatas di bawah batas pasang minimal. Ukuran lebar saluran sekunder antara 5 m -10 m. Kolam berfungsi untuk menampung sementara unsur dan senyawa beracun pada saat pasang, kemudian diharapkan keluar mengikuti surutnya air. Pada setiap jarak 200 m - 300 m sepanjang saluran primer/sekunder dibuat saluran tersier. Untuk mengatur air pasang surut, maka dibuat pintu-pintu air yang dikenal dengan sebutan flapgate yaitu pintu otomatis yang ketika pasang, air akan mendorong pintu sehingga air dapat masuk ke dalam parit-parit petakan lahan; tetapi sewaktu surut, air akan tertahan di dalam parit-parit petakan lahan. Struktur tinggi/operasional pintu-pintu air tersebut disesuaikan dengan penggunaan lahannya, apakah untuk sawah, surjan atau lahan kering. Kelemahan dari sistem tata air diatas kadangkala terjadi penumpukan bahan beracun di bagian tertentu akibat mekanisme satu pintu sehingga dikembangkan Sistem aliran satu arah. Sistem ini memerlukan 2 buah saluran tersier, dimana tersier yang satu berfungsi sebagai saluran irigasi (inlet) dan yang lainnya sebagai saluran pembuang air/drainase (outlet). Kedua saluran tersier ini harus dilengkapi dengan pintu air otomatis (flapgate) yang dapat membuka dan menutup dengan tenaga arus air. Saluran irigasi akan membuka ketika air pasang, tapi saluran drainase akan tetap tertutup. Kondisi demikian diciptakan dengan meletakkan posisi pintu yang berlawanan arah Penyusun: Ume Humaedah (Penyuluh Pertanian di Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian) Sumber: http://nad.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php/info-teknologi/779-inovasi-pertanian-di-lahan-rawahttp://balittra.litbang.pertanian.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=228&Itemid=5http://www.wacana.co/2009/03/perspektif-pengembangan-pertanian-di-lahan-rawa/https://media.neliti.com/media/publications/30892-ID-model-percepatan-pengembangan-pertanian-lahan-rawa-lebak-berbasis-inovasi.pdfhttp://magicterangers.blogspot.com/2012/07/blog-post.htmlhttp://wetlands.or.id/PDF/Flyers/Agri03.pdfhttps://media.neliti.com/media/publications/133313-ID-none.pdf