Loading...

Inovasi Teknologi Kedelai Mengatasi Gejala Kekuningan

Inovasi Teknologi Kedelai Mengatasi Gejala Kekuningan
Inovasi Teknologi Kedelai Mengatasi Gejala Kekuningan Pertanian berkelanjutan merupakan suatu hal yang harus diwujudkan. Pewujudan ini diperlukan inovasi teknologi pertanian yang sesuai dengan kebutuhan petani di wilayah tersebut (spesifik lokasi). Tanaman Kedelai yang dibudidayakan seringkali dijumpai tampak kekuningan. Tanaman Kedelai terlihat tumbuh normal pada awal pertanaman. Namun ketika memasuki umur 20 hari terlihat tanda-tanda daun bawah tanaman mengecil, mengkerut dan kekuningan. Selanjutnya terlihat tanaman tidak tumbuh dengan baik, tanaman menjadi kerdil. Berikutnya tanaman tumbuh merana hingga periode matang. Jumlah polong hanya sedikit, sekitar 3-10 polong/tanaman. Pada pertanaman kedelai yang dibudidayakan pada jenis tanah kapur sering sekali dijumpai tanaman kekuningan.Tanah berkapur memiliki kadar CA++ dan ph tinggi. Tanah vertisol memiliki kandungan unsur Zn, Cu, dan K yang tidak mencukupi untuk pertumbuhan tanaman Kedelai yang baik. Gejala ini terlihat seperti kekurangan kalium. Namun hal ini perlu dibedakan dan digarisbawahi bahwa bukan karena mengalami kahat unsur mikro. Analisis yang dilakukan oleh BPTP Jawa Timur terhadap tanaman Kedelai yang mengalami kekuning-kuningan mengandung 0,82% K dan pada tanaman sehat memiliki kandungan 2,06%.Tanaman yang memiliki gejala kekuningan dapat ditemui pada tanah vertik walaupun jenis tanah ini kaya mineral liat tipe 2:1. Tanah Vertisol memiliki kemampuan mengikat unsur P dan K yang tinggi. Kemampuan ini merupakan reaksi balik (mengikat dan melepas unsur P dan K) dipengaruhi kelembapan tanah dan lainnya.Adapun inovasi teknologi untuk mengatasi gejala kuning pada tanaman Kedelai adalah dengan cara memberi atau menambah unsur hara K. Penambahan unsur hara K dapat dilakukan dengan penambahan jerami atau pupuk. Adapun teknik budidaya yang dapat dilakukan adalah:1. Benih dan Varietas. Benih bermutu berasal dari varietas unggul baru dengan daya tumbuh >90%. Kebutuhan benih 1 ha adalah 40-50 kg/ha.2. Varietas. Varietas yang dapat digunakan yaitu yang berbiji besar seperti: Argomulyo, Bromo, Burangrang, Panderman, Baluran.3. Penyiapan lahan. Pada lahan yang telah ditanami padi, dapat dilakukan tanpa lah tanah dengan saluran drainase dengan jarak 4-5 m.Dengan jarak seperti ini maka terbentuklah bedengan-bedengan.4. Lahan yang baik, air tidak tergenang maka tidak perlu dibuatkan saluran drainase.5. Cara tanam, Pada umumnya lahan pertanaman Kedelai adalah lahan sawah dengan pola tanam; padi-padi-kedelai, padi-kedelai-kedelai, maupun padi-kedelai. Setelah tanaman padi dipanen maka tanam secepatnya kedelai dengan rentang waktu paling lambat 1 minggu setelah panen padi. Adapun jarak tanam dapat mengunakan 40 x 10 cm atau 35 x 15 cm. Penggunaan jarak tanam disesuaikan dengan kesuburan tanah.6. Penyiangan. Lakukan penyiangan dengan tepat waktu, sehingga laju pertumbuhan gulma dapat dikendalikan. Penyiangan kedelai dilaksanakan 2 kali, yaitu: tanaman umur 3 dan 6 minggu.7. Pengairan. Pengairan dilaksanakan disesuaikan dengan jenis tanah. Adapun fase-fase penting dilakukan pengairan adalah pada tiga minggu sekali hingga biji kedelai telah terisi penuh.8. Pemupukan. Pemupukan pada tanaman Kedelai untuk mengatasi gejala kekuningan maka saat melakukan penanaman padi sebelumnya diperlukan pupuk dengan ukuran 100-150 kg KCL/ha. Tujuannya adalah agar pemupukan pada tanaman padi sebelum pertanaman kedelai memberikan nilai residu untuk mengatasi gejala kuning pada tanaman kedelai. Pemberian pupuk KCL pada tanaman padi sebelumnya diharapkan telah terdapat penyerapan pupuk. Pada pertanaman bekas padi, diharapkan untuk tidak dilakukan pembakaran jerami. 9. Lakukan pemupukan N dan P sesuai dengan kebutuhan lahan atau anjuran yakni 50 kg urea/ha dan SP 36 sejumlah 50-75 kg. Pemupukan dapat diberikan tanam, tepatnya setelah baru dilakukan pengairan dengan pupuk KCL sejumlah 100-150 kg/ha. Hal ini bertujuan agar pupuk dapat mudah larut dan diserap oleh tanaman. Bila pada lingkungan sekitar terdapat abu sekam, maka berikan pada tanaman kedelai.10. Pengendalian hama tanaman. Pengendalian dapat dilakukan dengan meberikan perangkap hama yaitu zat perangsang (sex pheromon). Cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan penanaman jangung berumur genjah.11. Panen. Panen dilakukan bila polong telah terlihat tua, berwarna kuning kecoklatan, dan daun mulai rontok. Hasil panen dapat dihamparkan di lapang. Kurang lebih 3 hari setelah itu dapat dibijikan dengan menggunakan thresher. Sumber: Info teknologi Pertanian No 23 tahun 2006. BPTP Jawa Timur, Badan Litbang Pertanian Nama Penulis: Miskat Ramdhani, M. Si dengan alamat email: annurd@gmail.comPenyuluh Pertanian BBP2TP