Integrasi Usahatani Ternak pada Perkebunan KakaoPerkebunan kakao mempunyai peran yang cukup strategis sebagai basis kekuatan ekonomi pedesaan dan ekonomi wilayah, karena sebagian besar (lebih dari 97%) luas areal perkebunan kakao merupakan perkebunan rakyat. Permasalahan yang ada adalah produktivitas dan mutu kakao rakyat masih rendah, Rendahnya mutu biji kakao tersebut menyebabkan citra kakao Indonesia menjadi kurang baik di pasar Internasional. Untuk itu perlu dilakukan berbagai upaya sebagai langkah antisipasi untuk dapat memenuhi persyaratan permintaan pasar yang akan menjadikan sertifikat produksi berkelanjutan sebagai persyaratan perdagangan dunia.. Integrasi Ternak-Kakao Mendukung Pengembangan Produksi Kakao BerkelanjutanDengan berkembangnya tuntutan penerapan konsep pembangunan berkelanjutan dan fenomena ancaman pemanasan global, maka arah pengembangan usaha perkebunan ke depan adalah mengurangi ketergantungan penggunaan agroinput dari luar yang serba kimia dengan menggunakan bahan yang tersedia setempat sebagai penggantinya. Pengembangan cabang usahatani ternak pada perkebunan kakao pada dasarnya telah merupakan bagian dari arah menuju produksi kakao berkelanjutan dan secara teknis dapat dilaksanakan serta secara sporadic telah dilakukan oleh petani tertentu. Pengembangan produksi kakao berlanjutan meliputi empat dimensi, yaitu ekologis, ekonomi, sosial dan kesehatan. Dalam kaitannya dengan ekologis, maka berlaku prinsip keberlanjutan lingkungan fisik lahan, yang dapat diperoleh melalui pengelolaan tanah yang berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas lahan serta memperbaiki karakteraistik lingkungan. Komponen pengelolaan tanah yang berkelanjutan diantaranya meliputi pengelolaan hara, pengendalian erosi, pengelolaan residu, pengelolaan air, pengelolaan tanaman dengan pola diversifikasi Dalam integrasi usahatani ternak pada perkebunan kakao, diterapkan pola sistem budidaya berkelanjutan, dimana dipersyaratkan adanya tanaman penaung /pelindung produktif. Tanaman pelindung sementara dilakukan pada periode Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) untuk melindungi tanah dari erosi, meningkatkan kesuburan tanah dan tambahan bahan organik yang berasal dari penutup tanaman sementara dan menekan pertumbuhan gulma. Setelah memasuki tanaman menghasilkan, dikembangkan tanaman pelindung tetap jenis tanaman produktif untuk mencegah berlangsungnya degredasi lahan yang akan mengancam keberlanjutan budidaya tanaman kakao serta untuk menjaga jumlah intensitas cahaya pada kondisi ideal untuk pertumbuhan tanaman kakao. Pemanfaatan Limbah.Dengan integrasi cabang usahatani ternak pada sistem perkebunan kakao, diharapkan akan terbentuk pemanfaatan zat-zat makanan secara tertutup dengan berlangsungnya proses pemanfaatan limbah, baik limbah dari perkebunan kakao maupun limbah dari usahatani ternak. Limbah tanaman kakao seperti pemangkasan tanaman pelindung, kulit buah kakao, dan kulit biji kakao dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan ternak. Mengingat penyediaan pakan ternak sampai saat ini masih merupakan masalah utama dalam pengembangan peternakan, maka pemanfaatan limbah perkebunan kakao ini dapat mendukung pengembangan usahatani ternak. Disamping tidak bersaing dengan kebutuhan manusia, ketersediaannya cukup banyak dan mempunyai kandungan nutrisi yang cukup baik. Untuk meningkatkan ketersediaan hijauan pakan ternak, maka perlu penanaman tanaman pelindung pada bibir teras atau tampingan sekaligus sebagai penguat teras. Limbah usahatani ternak berupa limbah padat (feses) dan limbah cair (urine) dapat diolah menjadi pupuk organik dan fungisida yang berkualitas yang sangat dibutuhkan bagi tanaman kakao. Prinsip yang digunakan dalam proses pembuatan pupuk organic adalah proses dekomposisi, yaitu proses perubahan limbah organik menjadi pupuk organik melalui aktivitas biologis pada kondisi yang terkontrol. Urine ternak merupakan limbah cair yang dapat dmanfaatkan sebagai pupuk daun dan fungisida. Keunggulan dari produk ini adalah baunya yang khas sehingga dibenci oleh hama tanaman seperti serangga penghisap buah, serangga perusak daun dan tikus pemakan buah. Disamping itu produk ini dapat meningkatkan zat gula pada bunga sehingga serangga madu akan akan lebih suka dan sangat membantu penyerbukan. Dengan berbagai keunggulannya tersebut, produk ini dapat merupakan pilihan yang sangat tepat bagi petani untuk menghasilkan produk tanaman organik, dan cocok untuk memupuk tanaman kakao, sebab ptoduk tersebut sangat mendukung penyerapan unsur-unsur hara tanah bagi tanaman. Potensi limbah kebun kakao untuk ternak kambingPada perkebunan kakao rakyat, limbah kulit kakao dan hijauan dari tanaman pelindung seperti gamal dan lamtoro dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak kambing. Dengan interval dan cara pemotongan yang benar, hijauan dari tanaman gamal dan lamtoro sebagai tanaman pelindung merupakan bahan pakan yang selalu tersedia, dan berkualitas tinggi. Limbah dan hasil samping dapat tersedia secara lestari, sehingga dapat diperhitungkan jumlah ternak yang dapat dikembangkan pada luasan tertentu. Sebagai gambaran, daya dukung kebun kakao per hektar dapat dihitung sebagai berikut. Pelindung lamtoro berpotensi sebagai pakan ternak sebesar 8,9 kg daun segar/pohon/tahun, sementara kebutuhan pakan kambing 11 kg / ekor /hari, sehingga dengan populasi 600-800 pohon/ha diperoleh 5.874-7.120 kg daun lamtoro segar per tahun atau 1.674-2.029 kg daun kering /tahun. Satu ekor kambing memerlukan 1,3 pohon lamtoro/hari atau 475 pohon/tahun. Dengan demikian, daya dukung kebun kakao per hektar untuk ternak kambing adalah 1,4-1,7 ekor/ha. Disamping dari pangkasan lamtoro masih tersedia kulit buah kakao untuk ternak sekitar 200 kg kulit buah kakao basah /tahun. Kulit buah kakao dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan ternak. Kulit buah kakao terutama mengandung bahan berserat dengan kadar protein yang rendah, sehingga lebih cepat digunakan sebagai sumber energi bagi ternak ruminansia. Komposisi zat makanan pada kulit kakao setara dengan rumput gajah. Disamping kulit buah kakao terdapat kulit biji kakao yang diperoleh dari proses penyosohan yaitu pemisahan kulit biji dan keping biji kakao. Ketersediaan kulit biji kakao yang cukup banyak merupakan potensi yang dapat dimanfaatkan. Kandungan protein kulit biji kakao lebih tinggi dari pada dedak padi. Kulit biji kakao dapat digunakan sebagai substitusi dedak halus dalam ransum ayam, dengan menggunakan 10% kulit biji kakao dalam ransumnya dapat menghemat penggunaan dedak halus sebanyak 13% dan sebagai substitusi jagung dalam ransum, dengan menggunakan 10% kulit biji kakao dapat menghemat penggunaan jagung sebanyak 10%. Penggunaan 35% kulit bii kakao dapat menghemat penggunaan jagung sebanyak 20%, sedang sebagai substitusi bungkil kelapa, penggunaan 40 % kulit biji kakao pada ransum sapi potong dapat menghemat penggunaan bungkil kelapa sebanyak 5%. Namun pemberian kulit biji kakao yang berlebihan dapat menimbulkan keracunan atau mengganggu proses pencernaan. karena mengandung Theobromine, dan dapat menyebabkan penurunan berat badan ternak. Kandungan Theobromine ini dapat dikurangi dengan penggilingan dan pengeringan. Limbah dan hasil samping dapat tersedia secara lestari, sehingga dapat diperhitungkan jumlah ternak yang dapat dikembangkan pada luasan tertentu.Potensi limbah ternak kambing untuk pupukHasil samping berupa kotoran kambing berpotensi 2,1-2,6 kg per ekor/hari setara dengan pupuk kandang pupuk kandang 766,5 kg-949 kg/tahun. Apabila dikonversikan dengan pupuk an organik menjadi 15 kg urea, 10 kg SP36 dan 7 kg KCl. Melalui pendekatan ini maka akan tersedia pupuk dari sumberdaya lokal, yaitu dari limbah ternak, sebagai substitusi hara sebagai pengganti penggunaan pupuk kimia dan pestisida dari luar yang secara umum tidak terjangkau oleh petani.. Dalam pendekatan ini, ternak kambing harus dikandangkan. Pengolahan limbah Kulit buah kakao mengandung kadar air lebih kurang 80% dan kandungan serat kasar yang tinggi , sehingga hampir tidak pernah diberikan dalam bentuk segar, namun perlu dilakukan pengolahan fisik, kimia dan biologis. Pengolahan secara biologis pada umumnya menggunakan jamur dan kapang, Untuk memperbaiki nilai gizi kulit buah kakao, perlu dilakukan perendaman atau dengan biofermentasi.Limbah padat ternak yang terdiri dari feses dan sisa-sisa pakan yang akan digunakan menjadi pupuk organik harus dilakukan proses dekomposisi yaitu proses perubahan limbah organik menjadi pupuk organik melalui aktivitas biologis pada kondisi yang terkontrol. (Sri Wijiastuti, Penyuluh Pertanian pada Pusat Penyuluhan Pertanian, BPPSDMP).Sumber: 1. Panduan Pengembangan Pola Sistem Usahatani Perkebunan Rakyat Diversifikasi Integratif (SUPRADIN) Berbasis Tanaman Perkebunan. 2 Pengembangan Peternakan Terpadu dengan Tanaman Coklat. Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan, Departemen Pertanian.