Air merupakan salah satu kebutuhan dasar bagi tanaman. Tanaman yang kekurangan air tidak dapat tumbuh optimal apalagi bila kekurangan air terjadi pada fase kritis pertumbuhan tanaman. Kekurangan air pada fase vegetatif dapat menyebabkan tanaman kerdil bahkan mati, sedangkan kekurangan air pada masa pembungaan dan pengisian biji dapat menyebabkan berkurangnya hasil panen secara kuantitatif dan kualitatif bahkan puso. Kekurangan air inilah yang menjadi salah satu kendala yang dikeluhkan petani di Kelompok Tani Suka Makmur Desa Karangsoko Kecamatan Trenggalek Kabupaten Trenggalek. Selama musim kemarau, curah hujan menurun drastis membuat sungai dan saluran-saluran irigasi mengering. Akibatnya petani harus mengandalkan air tanah untuk menjaga kecukupan air bagi tanaman. Untuk dapat mengalirkan air tanah ke tanaman, mereka membutuhkan mesin pompa air/ diesel. Dengan mengandalkan pompa air untuk irigasi, otomatis biaya produksi meningkat untuk membeli bahan bakar berupa premium atau solar. Sebagai ilustrasi, lahan 250 ru (3500 m2) dalam satu kali pengairan membutuhkan bahan bakar premium 10 liter. Dengan harga premium Rp 7.000,00 per liter maka satu kali pengairan membutuhkan biaya pembelian bahan bakar Rp 70.000,00. Selama pertumbuhan tanaman sampai panen, tentunya pengairan yang dibutuhkan lebih dari satu kali. Rata-rata biaya pembelian bahan bakar untuk pompa air di Kelompok Tani Suka Makmur Desa Karangsoko disajikan dalam tabel berikut : Tabel 1. Rata-rata Biaya Pembelian Bahan Bakar Premium untuk Pompa Air di Kelompok Tani Suka Makmur Desa Karangsoko Jenis Tanaman Kebutuhan Pengairan Total Biaya BBM Padi 10-12 kali Rp. 700.000,00 - Rp. 840.000,00* Jagung 6-7 kali Rp. 420.000,00 - Rp. 490.000,00* Kedelai 3-4 kali Rp. 210.000,00 - Rp. 280.000,00* Catatan * : Luas lahan 250 ru (3500 m2), per musim tanam Biaya pembelian bahan bakar diesel yang tinggi dirasakan cukup berat bagi petani. Apalagi selama dua tahun belakangan ini musim kemarau lebih lama dan lebih kering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Petani harus mencari cara lain untuk menghemat biaya produksi. Salah satu alternatif yang dapat menjadi pilihan adalah mengganti mesin pompa air berbahan bakar premium/ solar dengan pompa air listrik. Cara ini telah diterapkan di beberapa daerah dan terbukti efektif mengurangi biaya irigasi. Setelah mengadakan musyawarah kelompok tani yang dihadiri anggota kelompok tani, Penyuluh Lapangan, serta mengundang Petugas PLN dan nara sumber petani berpengalaman akhirnya disepakati beberapa petani mencoba mengganti pompa air berbahan bakar premium/ solar dengan pompa air listrik. Petugas PLN juga menyatakan siap membantu dalam hal pemasangan instalasi listriknya. Secara garis besar biaya pemasangan instalasi listrik sekitar Rp. 5.000.000,00 yang terdiri dari biaya pemasangan jaringan listrik baru Rp. 1.500.000,00, biaya pembelian pompa air Rp. 2.000.000,00, serta untuk pembangunan tiang listrik, pipa dan tenaga kerja sebesar Rp. 1.500.000,00. Sedangkan biaya operasional pompa air listrik selama 1 musim tanam adalah sebagai berikut : Tabel 2. Rata-rata Biaya Operasional Pompa Air Listrik di Kelompok Tani Suka Makmur Desa Karangsoko Jenis Tanaman Kebutuhan Pengairan Biaya Padi 10-12 kali Rp. 170.000,00 - Rp. 200.000,00* Jagung 6-7 kali Rp. 100.000,00 - Rp. 120.000,00* Kedelai 3-4 kali Rp. 50.000,00 - Rp. 70.000,00* Catatan : Luas lahan 250 ru (3500 m2), per musim tanam Dari hitungan di atas dapat disimpulkan bahwa irigasi menggunakan pompa air listrik dapat menghemat biaya sekitar 75 % dibandingkan irigasi menggunakan pompa air berbahan bakar premium. Memang pompa air listrik membutuhkan biaya cukup besar di awal untuk pemasangan instalasi listrik, namun untuk selanjutnya biaya irigasi per musim menjadi lebih murah. Pompa air listrik dapat menjadi alternatif pilihan petani untuk irigasi sawah hemat biaya. Dengan menghemat biaya produksi diharapkan pendapatan petani menjadi lebih tinggi. VIVIN LESTARI, STP