Kesadaran pentingnya bahan organik dalam tanah mendapat dorongan dari gerakan "pertanian organik" dan pada awal abad ke 21 ada anjuran penanaman padi dengan metoda SRI (System of Rice Intensifikasi ) (Uphoff dan Gani 2003). Dalam anjuran penerapan agroekoteknologi dan teknologi produksi dengan pendekatan Pengelolaan Tanaman Dan Sumber Daya Terpadu (PTT), pengembalian dan penambahan bahan organik ke dalam tanah juga sangat penting di samping penggunaan pupuk anorganik sesuai kebutuhan tanaman..Pentingnya bahan organik bagi tanah dan tanaman tidak perlu lagi diragukan, karena banyaknya manfaat yang diberikan oleh bahan organik, yaitu :1) Sebagai sumber hara makro dan mikro2) Mengikat kation yang mudah tersedia bagi tanaman tetapi menahan kehilangan hara akibat pencucian (leaching)3) Meningkatkan nilai kapasitas tukar kation (KTK) tanah4) Membentuk ikatan organik (chelat) dengan hara mikro seperti Fe, Mn dan Zn sehingga tetap tersedia bagi tanaman.5) Menyediakan energy bagi kehidupan mikroba tanah6) Meningkatkan kesehatan biologis tanah oleh berkembangnya mikroba tanah yang bermanfaat7) Meningkatkan daya simpan air tanah (wolter holding capacity), sehingga dalam kondisi sumber pengairan terbatas, tanaman tidak cepat mengalami kekeringan 8) Memperbaiki struktur tanah (pembenah tanah)9) Mencegah pengerasan tanah10) Menyangga reaksi tanah dari kemasaman, kebasaan dan salinitas11) Mempermudah pengolahan tanah dan berkembangnya akar tanaman Mengingat pentingnya bahan organik dalam tanah, pengembalian bahan organik dari residu tanaman merupakan keharusan dalam setiap praktek usahatani.Jerami Sebagai Sumber Hara TanamanJerami padi merupakan salah satu bahan organik sebagai sumber hara makro dan mikro untuk tanaman. Sehubungan semakin mahal dan langkanya pupuk anorganik (urea, SP36, KCl, ZA) serta perlunya konservasi hara tanah melalui pendauran ulang maka pemanfaatan jerami padi yang berlimpah di lahan sawah perlu diperhitungkan kembali sebagai salah satu alternative untuk subtitusi penggunaan pupuk kimia. Di Indonesia rata-rata kadar hara jerami padi adalah 0,4%N; 0,02% P; 1,4% K; dan 5,6% Si. Untuk setiap 1 ton gabah (GKG) dari pertanaman padi dihasilkan pula 1,5 ton jerami yang mengandung 9 kg N; 2 kg P; 25 kg K; 2 kg S; 70 kg Si; 6 kg Ca dan 2 kg Mg.Sebagai bahan pupuk, jerami padi tidak efektif dan tidak efesien bila diandalkan sebagai sumber hara N dan P, tetapi cukup efektif sebagai sumber K, Si dan C.Penggunaan mikroba ( Trichoderma sp., Aspergillus sp., Beijerinckia sp., Azotobacter sp., dan EM4) dan jerami padi (disebar atau dibenamkan) terhadap sifat tanah vertic tropaquepts dari Cilamaya - Karawang Jawa Barat dan pada tanah typic hapludox di Lampung, menghasilkan kesimpulan bahwa pemberian jerami dengan cara disebar maupun dibenamkan ke tanah vertic tropaquepts dapat meningkatkan kandungan C, N da K-dd.Penggunaan 5 ton bahan organik/ha berupa jerami padi, Sesbania rostrata, azolla pinnata, atau pupuk kandang pada tanah alluvial Kepanjen - Malang dan Banyuwangi dengan tipe iklim masing-masing C3 dan D2 dapat menggantikan pupuk N anorganik sebanyak 45 kg N/ha pada tanaman padi sawah. Jerami Sebagai Pembenah Tanah Jerami padi merupakan salah satu bahan organik yang dapat memperbaiki sifat fisik tanah atau disebut sebagai pembenah tanah. Pembenan jerami padi ke guludan ubi jalar dapat memperbaiki kondisi tanah, mengurangi kekerasan tanah, dan penetrasi lebih ringan dibandingkan tanpa jerami. Bila jerami padi dikeluarkan dari petakan, kemampuan tanah menahan air menurun dan suhu tanah menjadi tinggi. Akibatnya, hasil jagung sebagai tanaman berikutnya turun 26%. Sebaliknya apabila jerami digunakan sebagai sumber bahan organik pada pertanaman jagung, maka kemampuan tanah menahan air meningkat, suhu naik tanah relative stabil, dan hasil jagung naik 22%.Sumber: Badan Libang Pertanian. 2007Gambar : http://alamtani.com/pupuk-organik.htmPenulis: Marwati (Pusat Penyuluhan Pertanian-BPPSDMP-Kementan)