Loading...

Kabupaten Enrekang Mengembangkan Sekolah Lapang Digital, Sebuah Alternative Penyuluhan Pertanian Di Masa Pandemic Covid-19

Kabupaten Enrekang Mengembangkan Sekolah Lapang Digital, Sebuah Alternative Penyuluhan Pertanian Di Masa Pandemic Covid-19
Nurdahalia Lairing[1], Muhammad Ikbar Ashadi[2], Loes Witteveen[3] [1] Dosen/Peneliti dari Universitas Muhammadiyah Enrekang. Email : lialairing@umenrekang.ac.id [2] Kabid Penyuluhan Pertanian, Dinas Pertanian Enrekang. Email: ikbarashadi82@gmail.com [3] Researcher/Lecturer; Communication, Participation & Social-Ecological learning, Van Hall Larenstein the university of applied sciences, Dalam pengembangan pertanian berkelanjutan di kabupaten Enrekang, pemerintah kabupaten Enrekang menjalin kerjasama dengan peneliti dari dalam dan luar negeri. Pada 2018, pemerintah mengajak Universitas Muhammadiyah Enrekang bersama dengan Van Hall Larenstein, university of applied science-Belanda, melakukan analisis situasi pertanian dan menjajaki kemungkinan mengembangkan sekolah lapang digital di Enrekang. Analisis tersebut menyimpulkan bahwa pembangunan pertanian di kabupaten Enrekang diperhadapkan pada sejumlah tantangan dalam meningkatkan produksi pertanian tanpa merusak lingkungan hidup[1]. Kekhawatiran akan kehilangan produksi akibat serangan penyakit dan hama telah memaksa petani untuk menggunakan pestisida yang berlebihan. Disamping itu, penggunaan pupuk kimia juga tanpa didasarkan atas pengetahuan tentang kondisi tanah. Hal ini telah menyebabkan degradasi sumber daya lahan dan air yang mengakibatkan penurunan tingkat kesuburan dan pencemaran lingkungan. Disisi lain program peningkatan kompetensi petani dan penyuluh serta pengembangan kelembagaan petani belum berjalan maksimal sehingga menyebabkan terbatasnya akses petani terhadap informasi terkini yang mereka butuhkan untuk meningkatkan praktek bertani yang lebih efektif dari segi ekonomis dan ekologis. Masalah-masalah tersebut didiskusikan melalui sebuah pertemuan koordinasi yang diselenggarakan oleh dinas pertanian kabupaten Enrekang dan melibatkan lintas sektor terkait antara lain dinas lingkungan hidup, dinas peternakan, perikanan serta dinas perdagangan, Universitas Muhammadiyah Enrekang dan Van Hall Larenstein. Peserta pertemuan koordinasi ini kemudian sepakat untuk mengembangkan sekolah lapang digital/digital farmer field school (DFFS Enrekang) berdasarkan pengalaman mengembangkan DFFS untuk rantai nilai kakao di Sierra Leone. Digital Farmer Field School (DFFS) adalah sebuah alternative pertukaran informasi berbasis tablet yang akan digunakan oleh kelompok tani dan petugas penyuluh pertanian yang di desain berdasarkan prinsip-prinsip sekolah lapang (SL) dalam perspektif responsible innovation (RI) yang diperkenalkan oleh Stilgoe dkk, (2013)[2]. DFFS dapat diakses oleh petani setiap saat dan dimana saja sesuai ketersediaan waktu mereka. Desain dan pengembangan DFFS menjadi semakin relevan dan mendesak dengan adanya pandemic covid-19. Penerapan pembatasan sosial untuk menekan penularan covid-19 memiliki dampak terhadap kegiatan penyuluhan atau pelatihan petani yang melibatkan banyak orang. Disamping itu kegiatan pemasaran hasil dan pengadaan sarana produski menjadi terganggu karena adanya pembatasan pergerakan orang. Sejak DFFS diperkenalkan di Enrekang, sejumlah kegiatan-kegiatan yang terkait persiapan tim lokal telah dilaksanakan atas prakarsa dan kerjasama lintas sektor terkait. Kegiatan tersebut antara lain pembentukan tim desain yang merupakan perwakilan dari Dinas Pertanian, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Peternakan dan Perikanan serta Universitas Muhammadiyah Enrekang. Tugas utama tim desain adalah merancang dan mengembangkan sekolah lapang digital sesuai dengan kebutuhan dan kondisi setempat. Tim desain ini akan bertanggungjawab untuk menjaga kelangsungan penggunaan DFFS dengan memperbaharui materi-materi penyuluhan sesuai kebutuhan petani. Disamping tim desain, ada juga tim koordinasi dan manajemen yang beranggotakan para pengambil kebijakan dari masing-masing instrusi yang tergabung dalam DFFS ini. Tim koordinasi dan manajemen akan bertugas memberikan arahan strategis dan kebijakan untuk mendukung penggunaan DFFS secara berkelanjutan. Proses desain dan pengembangan DFFS Enrekang menganut prinsip kehati-hatian dan memastikan bahwa hasil desain tidak akan mengecewakan petani. Oleh sebab itu proses desain dan pengembangan tidak akan dilakukan secara terburu-buru dan akan melibatkan serangkan ujicoba sebelum aplikasinya diluncurkan untuk digunakan secara luas oleh petani. Prinsip ini lahir secara spontan dan selanjutnya disepakati oleh tim lokal sebagai standar etis (DFFS ethical standard) yang diartikulasikan dengan “we do not want to disappoint farmers” yang berarti bahwa semua proses dan hasil desain DFFS mengutamakan kepentingan terbaik petani dan penyuluh pertanian sebagai penggunanya. Sebagai bagian dari respon terhadap covid-19, aplikasi DFFS Enrekang akan dilengkapi dengan fitur yang menyediakan informasi terkait covid-19 agar petani dan keluarganya mendapatkan informasi yang cukup untuk melindungi diri dan keluarganya dari penularan covid-19. Tahap selanjutnya adalah pelatihan bagi tim desain untuk melengkapi mereka dengan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan dalam mendesain, mengembangkan dan mengimplementasikan DFFS. Pelatihan akan disampaikan oleh tim ahli dari Belanda yang memiliki keahlian dan pengalaman menjalankan proyek serupa di Sierra Leone[3] dan Mongolia. Berhubung dengan adanya pandemic covid-19 maka pelatihan akan dilaksanakan secara jarak jauh yang mengkombinasikan kelas online dan penugasan di tempat kerja masing-masing. Untuk mengatasi hambatan perbedaan bahasa antara peserta dan pemateri, pelatihan akan disampaikan dengan menggunakan pendekatan trilingual (Inggris, Bahasa Indonesia dan Bahasa Visual). Pelatihan ini rencana akan dimulai pada bulan Oktober 2020. Dengan adanya DFFS di kabupaten Enrekang, peran penyuluh dapat lebih dimaksimalkan untuk meningkatkan kualitas materi penyuluhan dan pendampingan kelompok tani dalam penerapan teknologi yang mereka butuhkan. Dengan demikian diharapkan dapat meningkatkan akses petani terhadap informasi dan teknologi terkini yang dapat mendukung praktek bertani yang berkelanjutan secara ekologis dan ekonomis. Dengan demikian dapat berkontribusi terhadap upaya peningkatan keamanan pangan di Indonesia. [1] Lairing, N., & Witteveen, L. (2018). Assessment report of the Digital Farmer Field School in the Coffee Value Chain in Enrekang District, South Sulawesi, Indonesia. [2] Stilgoe, J., 2013. Developing a framework for responsible innovation. Res. Policy 42, 1568–1580. http://dx.doi.org/10.1016/j.respol.2013.05.008. [3] Witteveen, L., Lie, R., Goris, M., & Ingram, V. (2017). Design and development of a digital farmer field school. Experiences with a digital learning environment for cocoa production and certification in Sierra Leone. Telematics and Informatics. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.1016/j.tele.2017.07.013 Diadaptasi dari : Group DFFS Enrekang admin : [Amiruddin, SP., M.Agr.] Verif. : -