Loading...

KABUPATEN MUSI BANYUASIN AKAN KEMBANGKAN TANAMAN BAMBU SEBAGAI KOMODITAS ALTERNATIF PENGUATAN EKONOMI KERAKYATAN

KABUPATEN MUSI BANYUASIN AKAN KEMBANGKAN TANAMAN BAMBU SEBAGAI KOMODITAS  ALTERNATIF PENGUATAN EKONOMI KERAKYATAN
Kabupaten Musi Banyuasin dengan luas Wilayah 14.265,96 km2, sebagian besar merupakan lahan rawa, kondisi ini merupakan kendala utama dalam mengembangkan wilayah. Namun dibalik hal tersebut masih ada potensi yang bisa digali bilamana dikelola dengan pendekatan inovatif dan kreatif, seperti misalnya pengembangan komoditas yang sesuai dengan karakteristik serta kelayakan fisik/geografis yang ada, salah satunya dengan upaya pengembangan komoditas tanaman bambu. Dari segi luasan wilayah 50% lebih wilayah Kabupaten Musi Banyuasin merupakan kawasan hutan, oleh karena itu cukup potensial jika dimanfaatkan untuk dikembangankan tanaman bambu. Potensi pengembangan dan pemanfaatan tanaman bambu secara umum belum banyak diketahui oleh masyarakat Musi Banyuasin, hal ini dikarenakan sebagian besar masyarakat terfokus pada budidaya dan pengembangan tanaman kelapa sawit dan karet, oleh karena itu diperlukan peran serta dan kerjasama dari berbagai pihak untuk memulai mensosialisasikan upaya pengembangan tanaman bambu dalam rangka untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. Rencana untuk mengembangkan tanaman bambu diKabupaten Musi Banyuasin, diawali ketika Pemerintah Kab.Muba diundang sebagai peserta oleh KBRI Brussel dan Kementerian Kehutanan RI pada konferensi bambu di yogjakarta yang pada saat itu dihadiri oleh wakil Bupati Muba Bp. Beni Hernedi dan kepala Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian dan Kehutanan Kab. Muba, sebagai salah satu hasil konferensi tersebut telah diusulkan oleh KBRI Brussel bahwa Kab.Musi Banyuasin adalah sebagai kabupaten diluar P. Jawa yang akan dijadikan sebagai lokasi pengembangan tanaman bambu. Untuk menindak lanjuti hal tersebut, Pemda Muba melalui Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian dan Kehutanan Kab. Muba telah melakukan langkah-langkah antara lain: melakukan koordinasi dan sosialisasi kepada pihak-pihak terkait, serta melakukan inventarisasi terhadap keberadaan tanaman bambu yang kurang lebih sudah ada sekitar 229.680 batang dan 132.468 rumpun (sumber:BPTanikhut). Selanjutnya juga telah dilaksanakan pelatihan pengolahan bambu bagi para petani dan pengrajin furniture yang berasal disetiap kecamatan dengan menghadirkan narasumber berasal dari “Sahabat Bambu Yogjakarta”. Selain itu pada tanggal 24 Juni 2013 telah dilaksanakan Seminar dan Lokakarya yang bekerjasama dengan LSM Wahana Bumi Hijau (WBH) Sumsel di Hotel Ranggonang Sekayu yang menghadirkan pembicara yaitu; Pakar Bambu dari Universitas Sriwijaya Bp. Profesor, Dr. Zulkipli Dahlan, DEa, Bp. Amir Panzuri dari APIKRI (Asosiasi Pengusaha Industri Kerajinan Republik Indonesia) dan dari Balithut Kemenhut dengan peserta terdiri dari SKPD terkait lingkup Pemda Muba, para Camat, pihak swasta/perusahaan perkebunan, perusahaan pertambangan, Koperasi, Pondok Pesantren, LSM, Perguruan Tinggi. Hasil seminar dan lokakarya tersebut dijadikan bahan pemantapan rencana pengembangan tanaman bambu di Kabupaten Musi Banyuasin dan sebagai bahan paparan Bupati Musi Banyuasin pada acara “ Bamboo Workshop – Platform Green Industry”, yang diadakan oleh KBRI Brussel pada tanggal 3 s/d 5 Juli di Denpasar Bali. Pada kesempatan tersebut Bupati Muba dalam hal ini diwakili oleh Wakil Bupati Bp. Beni Hernedi menyampaikan bahwa ± 50 % wilayah Muba merupakan kawasan hutan ± 719.976 ha,yang terdiri dari: Hutan Konservasi 58.578 ha, Hutan lindung 19.229 ha, HP Terbatas 93.369 ha, HP Tetap 423.889 ha, HP Konversi 124.549 ha. selebihnya merupakan Areal Penggunaan Lain (APL) yang peruntukannya sebagai kawasan budidaya untuk kegiatan ekonomi masyarakat. Luasnya wilayah hutan yang dimiliki ini dapat menjadi tantangan ataupun sebagai modal strategis di dalam melakukan pembangunan wilayah yang berkelanjutan (sustainable) di Kabupaten Musi Banyuasin, yang salah satunya dapat digunakan sebagai lahan pengembangan tanaman bambu. Selanjutnya pada kesempatan ini juga Bp. Beni Hernedi berencana mengundang para pakar bambu, peneliti maupun investor untuk datang ke Musi Banyuasin guna melakukan studi kelayakan(feasibility study) yang lebih mendalam dan komprehensif terutama mengenai prospek pasar industri hulu hingga hilir, sehingga dapat memberikan gambaran yang jelas tentang orientasi pasar serta keberlanjutannya (sustainable), yang pada akhirnya dapat dijadikan salah satu alternative bagi masyarakat untuk mengembangkan tanaman bambu untuk peningkatan kesejahteraaan. Guna menyusun perencanaan yang lebih mantap program pengembangan tanaman bambu tersebut, ada beberapa kebijakan utama yang akan dilakukan: Pendekatan Ekonomis, yaitu mengembangkan komoditas tanaman bambu dengan mengutamakan nilai tambahnya (value added) dari sisi industri hulu hingga hilir dalam rangka memperkuat ekonomi kerakyatan. Tanaman bambu merupakan salah satu alternatif solusi yang perlu dikembangkan, karena merupakan alternatif pengganti kayu yang bernilai ekonomis, sosial dan budaya, serta dapat tumbuh dengan cepat (2 - 3 tahun bisa panen), dan sekaligus dapat menyelamatkan dunia dari kerusakan hutan sehingga kedepan akan sangat berperan sebagai substitusi kayu yang semakin berkurang. Pendekatan Ekologis, yaitu dengan mengembangkan tanaman bambu sebagai fungsi konservasi lahan di koridor sempadan sungai sebagai kawasan perlindungan. Karena bambu adalah tanaman konservasi yang handal dalam menyerap karbon, mencegah erosi serta meningkatkan persediaan air tanah dan pada akhirnya layak menjadi instrument kebijakan mitigasi dan adaptasi bahaya pemanasan global (global warming) dan perubahan iklim (climate change). Pendekatan Land Recovery, yaitu dengan mendorong perusahaan pasca penambangan melakukan reklamasi dengan tanaman bambu. Pendekatan ini akan dikawal pada proses implementasi Analisi Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) pada setiap proses kegiatan pembangunan yang mengakibatkan menurunnya kualitas dan potensi lahan. Penulis: Ir. Rudyansyah