Salah satu usaha untuk meningkatkan pendapatan petani jambu mete adalah penerapan sistem usahatani jambu mete campuran (polikultur). Pola tanam yang dikembangkan pada kebun jambu mete adalah pola perennial-annual yaitu menanam tanaman tahunan (jambu mete) sebagai tanaman pokok dan tanaman semusim sebagai tanaman sela (intercultur). Pola tersebut memiliki beberapa keunggulan serta keuntungan yaitu: (1) pemanfaatan lahan usahatani menjadi lebih efisien dan produktif, (2) meningkatkan produktivitas usahatani, (3) meningkatkan pendapatan usahatani, (4) pemakaian input usahatani lebih efisien dan (5) pendapatan petani lebih terjamin sehingga resiko usahatani lebih kecil dan berwawasan konservasi. Tingkat keberhasilan kebun jambu mete adalah bagaimana mengkondisikan lahan itu dapat dimanfaatkan secara optimal, selain itu juga faktor iklim sangat dominan seperti distribusi curah hujan, sifat tanah, cuaca dan lain-lain. Begitu halnya pada pertanaman yang baru di tanam/tanaman muda jambu mete, terdapat lahan kosong sehingga dapat dimanfaatkan dengan menanam kacang tanah. Penanaman kacang tanah sebagai tanaman sela diantara tanaman jambu mete yang sinergis merupakan salah satu usaha optimalisasi pemanfaatan lahan untuk meningkatkan produksi lahan melalui diversifikasi tanaman. Kombinasi 2 jenis tanaman berumur tidak sama, kebutuhan cahaya matahari, CO2, air, dan unsur hara maksimum dari masing-masing jenis tanaman terjadi pada waktu berbeda bila kedua jenis tanaman tersebut ditanam pada waktu bersamaan. Dengan demikian kompetisi antar jenis tanaman dapat diperkecil atau ditiadakan. Masalah yang timbul adalah kebutuhan cahaya bagi tanaman sela menjadi terbatas karena tanaman jambu mete berhabitus tinggi sehingga dapat menaungi tanaman yang lebih rendah. Pengaturan saat tanam tanaman sela pada jambu mete dimaksudkan agar tanaman sela yang ditanam lebih awal mendapatkan cahaya matahari cukup, karena tanaman mete masih kecil sehingga ruang tumbuh masih terbuka. Sebaliknya tanaman sela yang ditanam lebih lambat, cahaya matahari yang dibutuhkan berkurang karena mendapatkan naungan dari tajuk tanaman yang semakin lebar. Teknologi budidaya tumpangsari yang dikembangkan harus selalu mengacu pada minimalisasi kompetisi terhadap berbagai faktor tumbuh, baik kompetisi antara spesies tanaman yang sama (intra-specific competititon), kompetisi antara bagian tanaman (inter-plant competition) dan kompetisi antara spesies tanaman yang berbeda (inter-specific competition). Untuk mengurangi kompetisi sekaligus memaksimalisasi hasil dalam sistem tumpangsari beberapa alternatif yang dapat dilakukan antara lain: (1) defoliasi daun-daun tua dan atau detasseling pada tanaman yang lebih tinggi, (2) pemilihan kombinasi jenis tanaman sesuai dan bernilai ekonomis, (3) pengaturan populasi/jaraktanam, dan (4) penentuan waktu tanam relatif. Jenis-jenis tanaman yang digunakan sebagai tanaman sela sebaiknya bukan merupakan inang hama atau penyakit jambu mete, seperti kacang tanah. Beberapa alternatif pola diversifikasi pada usahatani jambu mete adalah pola pertanaman dengan kacang tanah. Kacang tanah merupakan komoditi yang biasa ditanam petani secara tumpangsari dengan jambu mete karena habitus tanaman berbeda, sehingga kemampuan memanfaatkan faktor-faktor tumbuh berbeda pula. Kacang tanah merupakan tanaman Leguminosa yang mempunyai sifat dapat memperbaiki kesuburan tanah karena adanya kerjasama akar tanaman tersebut dengan bakteri rhizobium. Nitrogen yang difiksasi bakteri tersebut, selain untuk memenuhi kebutuhan tanaman inangnya, juga dapat tersedia untuk tanaman jambu mete. Selain itu, nilai gizi dan ekonomi kacang tanah tinggi. Kacang tanah merupakan komoditas yang diperdagangkan (cash crop). Pola tanam jambu mete dengan kacang tanah sebagai tanaman sela diantara merupakan alternatif untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan dan berpengaruh nyata terhadap peningkatan pendapatan petani. Tanaman sela yang digunakan harus menggunakan varietas tanaman yang adaptif sesuai dengan syarat tumbuh kembang tanaman jambumete, memiliki nilai ekonomis tinggi, ramah lingkungan dan berkelanjutan.Introduksi tanaman sela yang prospektif kedalam sistem usahatani berbasis jambu mete akan memberikan keuntungan yaitu pemanfaatan usahatani yang lebih efisien dan produktif dengan memperpendek masa nonproduktif, meningkatkan pendapatan usahatani, diversifikasi pendapatan, pendapatan petani lebih terjamin dan membuka lapangan pekerjaan. Ditulis kembali oleh : Kukuh Wahyu W (BBP2TP) widjajantokukuh@yahoo.comTanggal : 3 Agustus 2017Sumber : BPTP NTB, 2013Foto : BPTP NTB, 2013