Kedelai di Indonesia dipandang sebagai salah satu komoditas pangan strategis, kebutuhan kedelai setiap tahunnya cenderung meningkat sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk, berkembangnya pabrik pakan ternak dan industri berbahan baku kedelai. Salah satu strategi yang ditempuh dalam upaya mencapai swasembada kedelai, yaitu dengan peningkatan produktivitas, untuk itu diperlukan inovasi teknologi termasuk pengenalan penyakit, penyebabnya dan pengendaliannya. Penyakit bila tidak dikendaikan dengan tepat dapat menurunkan produktivitas atau potensi produktivitas tidak tercapai. Dalam proses pengendalian penyakit diperlukan pengenalan penyebab penyakit sehingga dapat diambil pengendaliannya yang tepat sesuai penyebab penyakit tersebut. Salah satu penyebab penyakit yang dapat menurunkan produktivitas adalah kekurangan/kahat atau kelebihan hara dari yang dibutuhkan antara lain N (Nitrogen), Fosfor (P), Kalium (K), Kalsimum )Ca), Magnesium (Mg), dan Alumnium (Al).Kahat Magnesium (Mg)Magnesium adalah komponen penyusun klorofil daun sehingga sangat penting dalam proses fotosintesis. Dalam tanaman, Mg termasuk unsur yang mobil sehingga mudah ditranslokasikan dari daun tua, oleh karenanya gejala awal kekahatab akan nampak pada daun-daun tua. Kekahatab Mg ditandai adanya klorosis yang berawal dari tepi daun, kemudian menjalar ke bagian tengah di antara tulang daun. Kekahatan yang meningkat menyebabkan perubahan warna tepi daun menjadi merah kekuningan, daun gugur, pertumbuhan terhambat dan hasil rendah. Kahat Mg umum terjadi pada tanah bertekstur pasir, tanah Oxisol, Ultisol dengan pH masam dengan kejenuhan basa rendah. Batas kritis kandungan Mg dalam tanah adalah 50 ppm Mg. Kisaran nilai cukup pada daun muda kedelai adalah 0,26 – 1,0%. Kahat Mg pada tanah masam dapat diatasi dengan pemupukan melalui daun dan tanah dengan pupuk yang mengandung Mg, seperti kiserit (MgSO4) dan dolomit { CaMg(CO3)2} dosis setara 11 – 22 kg MgO/ha, dapat juga dengan pemberian pupuk kandang 2 – 2,5 t/ha. Keracunan Aluminium (Al) Kandungan Al yang berlebihan di dalam tanah masam menyebabkan pertumbuhan tanaman kedelai terganggu dan mengakibatkan rendahnya hasil. Gejala awal keracunan akan nampak pada sistem perakaran; akan tumbuh tidak normal, percabangan akar tidak normal. Gejala pada daun adalah adanya bercak-bercak klorosis di antara tulang daun pada daun muda, tetapi tulang daun tetap hijau. Pada gejala yang parah, tanaman kerdil dan daun berbentuk seperti mangkuk. Keracunan Al sering terjadi pada tanah masam dengan kejenuhan basa rendah. Batas toleransi kedelai terhadap kejenuhan Al adalah 20%. Kandungan Al-dd dalam tanah sebesar 22 ppm atau sekitar 0,24 me Al/100 g termasuk tinggi. Beberapa varietas kedelai di Indonesia yang saat ini mempunyai batas kritis keracunan Al sekitar 1,33 me Al/100 g. Dampak negatif akibat Al dapat diatasi dengan pemberian kapur. Pada tanah masam di Lampung, pemberian dolomit dosis setara 1/4-1/2 x Al-dd dapat memperbaiki pertumbuhan dan meningkatkan hasil kedelai. Pemberian kapur akan lebih efisien jika kejenuhan kemasaman (Al+H)>10% dan pHSumber: Badan Litbang Pertanian-Kementan 2011 Gambar : Badan Litbang Pertanian-Kementan 2011 Penulis: Marwati (Pusat Penyuluhan Pertanian-BPPSDMP-Kementan