Kedelai di Indonesia dipandang sebagai salah satu komoditas pangan strategis, kebutuhan kedelai setiap tahunnya cenderung meningkat sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk, berkembangnya pabrik pakan ternak dan industri berbahan baku kedelai. Salah satu strategi yang ditempuh dalam upaya mencapai swasembada kedelai, yaitu dengan peningkatan produktivitas, untuk itu diperlukan inovasi teknologi termasuk pengenalan penyakit, penyebabnya dan pengendaliannya. Penyakit bila tidak dikendaikan dengan tepat dapat menurunkan produktivitas atau potensi produktivitas tidak tercapai. Dalam proses pengendalian penyakit diperlukan pengenalan penyebab penyakit sehingga dapat diambil pengendaliannya yang tepat sesuai penyebab penyakit tersebut. Salah satu penyebab penyakit yang dapat menurunkan produktivitas adalah kekurangan/kahat atau kelebihan hara dari yang dibutuhkan antara lain N (Nitrogen), Fosfor (P), Kalium (K), Kalsimum )Ca), Magnesium (Mg), dan Alumnium (Al). Kahat Nitrogen (N)Nitrogen merupakan komponen utama penyusun protein, klorofil, enzim, hormon dan vitamin. Nitrogen diserap dalam bentuk ion NO3- dan NH4+, dan merupakan unsur yang sangat mobil (mudah ditranslokasikan) dalam tanaman. Oleh karena itu gejala kahat N akan nampak pada daun tua. Gejala kekahatan N pada tanaman muda daun berwarna hijau pucat, dan pada kondisi. Kekahatan yang sangat berat daun berwarna kuning pucat, batangnya lemah dan memanjang. Sedangkan pada tanaman yang tua, daun-daun bagian bawah menunjukkan gejala paling parah dan akhirnya gugur. Secara umum kahat N menyebabkan tanaman kardil, batang berwarna kemerahan, perkembangan polong terhambat, daun mengecil dan berdinding tebal sehingga daun menjadi kasar/keras dan berserat. Kekahatan N umumnya terjadi pada tanah bertekstur pasir, tanah-tanah bereaksi masam (pH rendah) di mana aktivitas mikroorganisme tanah terganggu. Tanaman kedelai mampu memfiksasi N setara dengan 46 kg N/ha. Secara umum, sekitar 50% dari N yang dibutuhkan tanaman berasal dari penambahan oleh rhizobium. Lahan yang pernah tanami kedelai pada umumnya mempunyai populasi Rhizobium alami yang tinggi. Tanah dengan kandungan N-total Kahat Fosfor (P)Fosfor merupakan komponen utama penyusun nukleoprotein, asam nukleotida, fosfolipida, dan penyusun enzim yang berperan aktif dalam pengangkutan enerji. Fosfor berperan penting dalam proses fosforilasi, fotosintesis, respirasi, sintesis dan dekomposisi karbohidrat, protein, dan lemak. Unsur P sangat diperlukan untuk pembentukan biji. Fosfor diserap dalam tanaman, kekahatan P menurunkan aktivitas nodulasi dan fiksasi N, meningkatkan karbohidrat, menurunkan kadar air tanaman, pembentukan bintil akar, perkembangan akar, polong dan biji. Kekahatan P biasanya mulai muncul pada minggu ke 4 setelah tanam, dengan gejala : tanaman terlihat kerdil, ukuran daun kecil, daun tua berwarna hijau gelap kemudian dengan cepat berubah warna menjadi kuning dan gugur sebelum waktunya. Batang berubah warna menjadi ungu karena adanya akumulasi antosianin. Kahat P umumnya terjadi pada tanah Oxisol, Ultisol dan Inceptisol. Pada tanah masam yang mempunyai kandungan Fe, Al tinggi sering terjadi kekahatan P akibat adanya fiksasi P oleh Fe dan Al tersebut. Tanah yang mengandung P tersedia (Bray-1) 6 – 10 ppm P tergolong rendah untuk kedelai dan perlu pemupukan P 22,5 – 36 kg P2O5/ha. Kandungan P sebesar 0,25 – 0,50% dalam daun muda yang terbuka sempurna pada fase pembentukan polong dianggap cukup. Sumber: Badan Litbang Pertanian-Kementan 2011 Gambar : Badan Litbang Pertanian-Kementan 2011 Penulis: Marwati (Pusat Penyuluhan Pertanian-BPPSDMP-Kementan