Kedelai potensial ditanam sebagai tanaman ketiga. Hasil penelitian Abdul Rahman dan Abdul Fattah Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Selatan menunjukkan bahwa tingkat serangan hama ulat grayak terendah pada varietas Detam-1 (9,87%) dan Gepak Ijo (10,19%). Tingkat serangan penggerek polong terendah pada varietas yang mempunyai biji kecil seperti Ijen (3,98%), Wilis (3,22%), Gepak Ijo (3,58%), dan Gepak Kuning (4,40%). Produksi tertinggi dicapai varietas Gepak Ijo (2,42 t/ha), sehingga varietas tersebut dianggap paling adaptif terhadap lingkungan dan iklim di Sulawesi Selatan. Namun dari segi sosial dan ekonomi, varietas tersebut kurang disenangi oleh petani dan pedagang karena bijinya kecil. Varietas yang dianggap paling cocok untuk dikembangkan di lahan irigasi setelah padi-II adalah Grobogan dan Anjasmoro yang mempunyai biji besar. Lahan sawah, setelah padi ke-2, ada waktu kosong tanpa tanaman sekitar 2,5–3,0 bulan. Untuk memanfaatkan lahan tersebut perlu mencari komoditas yang mempunyai umur pendek seperti kedelai dan kacang hijau. Pemanfaatan lahan sawah irigasi setelah padi ke-2 dengan penanaman kedelai di samping dapat menambah pendapatan petani juga dapat meningkatkan kesuburan tanah dengan adanya tambahan hara dari sisa-sisa tanaman kedelai. Varietas yang cocok dikembangkan pada lahan sawah irigasi setelah padi II adalah varietas yang mempunyai umur genjah seperti Grobogan, Argomulyo, Gepak Kuning, dan Gema. Pengembangan varietas unggul baru kedelai pada lahan sawah irigasi tidak hanya ditekankan pada aspek produksi, tetapi juga perlu diperhatikan aspek sosial-ekonominya. Petani kedelai umumnya lebih menyenangi kedelai yang mempunyai biji besar karena harganya mahal. Dalam memilih varietas kedelai untuk dikembangkan, dua hal penting yang menjadi perhatian yaitu mempunyai daya adaptasi yang tinggi sehingga produksinya tinggi dan berbiji besar. Kedelai biji besar mempunyai harga lebih tinggi dibanding biji sedang dan biji kecil. Dari hasil penelitian 2 varietas Anjasmoro dan Grobogan, termasuk varietas yang relatif tahan serangan hama ulat grayak dan penggerek polong yang sering menyerang kedelai . kalau dilihat dari tinggi tanaman maupun jumlah cabang per tanaman, ke 2 varietas tersebut juga termasuk menengah dibanding varietas lain. Berdasarkan penelian juga bahwa pengaruh jumlah cabang terhadap produktivitas akan mempengaruhi terbentuknya jumlah polong yang lebih banyak. Semakin banyak cabang terbentuk per rumpun, semakin besar peluang terbentuknya jumlah polong per rumpun, jumlah cabang berhubungan erat dengan jumlah polong isi. Galur-galur yang memiliki tanaman lebih tinggi juga mampu membentuk cabang yang lebih banyak dan kemudian membentuk polong yang lebih banyak pula.Salah satu faktor fisik yang mempengaruhi tinggi-rendahnya serangan penggerek polong adalah jumlah dan ukuran (panjang-pendeknya) trikoma. Berdasarkan hasil penelitian, kerapatan trikoma dapat mempengaruhi perilaku oviposisi khususnya serangga golongan Lepidoptera. Panjang trikoma efektif sebagai penghalang fisik dari polong terhadap serangga herbivora. Pada polong kedelai yang mempunyai trikoma yang banyak dan pendek, jumlah telur yang diletakkan penggerek polong lebih banyak (59 butir) dibanding polong yang mempunyai trikoma sedikit dan berukuran pendek, jumlah telur yang diletakkan lebih sedikit (4 butir). Faktor fisik lain dari tanaman yang ikut mempengaruhi tingkat serangan penggerek polong adalah luas permukaan polong. Polong yang memiliki permukaan lebih luas cenderung memiliki trikoma yang lebih banyak. Apabila dikaitkan dengan jumlah telur, maka telur lebih banyak diletakkan pada permukaan yang lebih luas. Selain sifat fisik polong, ukuran biji kedelai juga mempengaruhi tingkat serangan penggerek polong. Kedelai berbiji besar lebih rentan terhadap penggerek polong dan mampu menyediakan makanan lebih banyak sehingga mampu mendukung kehidupan larva. Jumlah polong hampa/rumpun untuk varietas anjasmoro dan Grobogan yaitu 67,20 dan 67,50 Sedangkan varietas lain berkisar antara 45,60 - 91,30. Bobot 100 biji tertinggi ditemukan pada varietas Grobogan dibanding beberapa varietas lainnya. Untuk Varietas Anjasmoro menduduki urutan ke 2 setelah Varietas Grobogan. Produksi tertinggi dicapai varietas Gepak Ijo 2,42 t/ha, sedangkan varietas Anjasmoro 2,21 t/ha sedangkan Grobogan (1,75 t/ha)Kesimpulan . Tingkat serangan hama ulat grayak terendah ditemukan pada varietas yang mempunyai ukuran biji kecil. Demikian juga hasil biji tertinggi juga dicapai oleh varietas yang mempunyai ukuran biji kecil. Namun dari segi sosial-ekonomi, varietas tersebut kurang disenangi oleh petani karena bijinya kecil. Sehingga varietas yang dianggap paling cocok untuk dikembangkan di lahan irigasi setelah padi ke-2 adalah Grobogan dan Anjasmoro. Penyunting: Yulia Tri SEmail: yuliatrisedyowati@yahoo.co.idSumber:Prosiding Seminar Nasional Hasil Penelitian Aneka Kacang dan Umbi tahun 2017. Badan Litbang Pertanian, Abdul Rahman dan Abdul Fattah Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Selatan; Jl. Perintis Kemerdekaan km 17,5 Makassar; e-mail: abdulfattah911@ymail.com