Loading...

KEGIATAN EKSPLORASI PROGRAM PEMBERDAYAAN PETANI DALAM PEMASYARAKATAN PHT ( P4) DI KWT KENANGA

KEGIATAN EKSPLORASI PROGRAM PEMBERDAYAAN PETANI DALAM PEMASYARAKATAN PHT ( P4) DI KWT KENANGA
Penulis: Tirta Perwitasari, S.P. (Penyuluh Pertanian, BPP Palabuhanratu, Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat). SUKABUMI - Kegiatan Pemberdayaan Petani dalam Pemasyarakatan PHT (P4) merupakan Program dari Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan Kementerian Pertanian. Kegiatan P4 diharapkan mampu mengurangi penggunaan pestisida kimia sehingga petani dapat melakukan pengendalian serangan OPT dengan menerapkan Pengelolan Hama Terpadu. Prinsip PHT terdiri dari penerapan budidaya tanaman sehat, pemanfaatan musuh alami, pengamatan rutin, dan menjadikan petani sebagai pengamat PHT. Eksplorasi kegiatan P4 merupakan kegiatan menginventarsasi Agen Pengendali Hayati (APH) yang berpotensi dalam mengendalikan hama/ penyakit di suatu wilayah. Kegiatan Eksplorasi P4 di KWT Kenanga, Desa Citepus, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat dilakukan pada hari Rabu tanggal 30 Juni 2021. Kegiatan Eksplorasi dipandu oleh Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit (LPHP) Cianjur dan POPT Kecamatan Palabuhanratu. Kegiatan Eksplorasi diawali dengan sosialisasi mengenai Program P4 dan penjelasan mengenai Agen Pengendali Hayati yang berpotensi sebagai musuh alami bagi hama/ penyakit. Setelah penjelasan mengenai APH dilanjutkan dengan pengamatan ekosistem tanaman padi di sawah. Peserta kegiatan eksplorasi mencari serangga yang terparasit penyakit yang berpotensi menjadi APH. Serangga terparasit yang ditemukan kemudian dikumpulkan untuk selanjutnya di identifikasi jenisnya. Dalam melakukan inventarisasi di ekosistem padi sawah peserta menemukan hama wereng yang terkena Hirsutella citriformis dan walang sangit yang terkena Beauveria bassiana. Setelah itu peserta kegiatan eksplorasi yang dipandu LPHP melakukan isolasi entomoatogen yang memarasit serangga tersebut. Isolasi dilakukan dari walang sangit yang terkena Beauveria bassiana. Hasil isolasi tersebut kemudian disimpan dan diamati perkembangannya. Apabila isolasi berhasil maka entomopatogen dimurnikan dan bisa dikembangkan untuk diperbanyak sebagai Agen Pengendali Hayati (APH).