Peningkatan produksi pangan, khususnya beras masih tertumpu pada ketersedian lahan sawah. Luas baku sawah Indonesia sekitar 7,46 juta hektar (BPS 2019), terdiri atas sawah irigasi sekitar 2,90 juta hektar, sawah lebak dan pasang surut sekitar 1,52 juta hektar, dan sawah tadah hujan sekitar 3,04 juta ha (BPS 2016). Agroekosistem lahan sawah tadah hujan (LSTH) memiliki potensi yang sangat besar untuk meningkatkan produksi pangan, khususnya beras nasional. Program RPIK agroekosistem LSTH didahului dengan baseline survey untuk penentuan lokasi CoE. Program ini diharapkan terjadinya kolaborasi, tidak hanya pada internal instansi Balitbangtan, namun kolaborasi dan dukungan dari pihak Pemerintah Daerah, terutama Bupati dan Dinas Pertanian setempat. Program yang diusung adalah “PUSPITA” (program peningkatan produksi padi tadah hujan). Program ini adalah kali pertama dicanangkan dan Kabupaten Blora menjadi lokasi perdana. tepatnya di Desa Prantaan, Kecamatan Bagorejo, Kabupaten Blora Jawa Tengah. Kegiatan RPIK mengusung “Branding Paket” atau model paket teknologi peningkatan produktivitas padi sawah tadah hujan. Branding tersebut adalah “PUSPITA’` (Program Usaha Peningkatan Produksi Padi Tadah Hujan). Keterbatasan air di musim kemarau dan karakteristik tanah yang spesifik perlu upaya untuk membuat paket teknologi di Agroekosistem LSTH. Kegiatan RPIK LSTH dengan melakukan identifikasi, karakterisasi, validasi sumberdaya pertanian melalui CoE kolaboratif spesifik yang terdiri atas: Pengembangan benih padi spesifik Teknologi pengelolaan air Teknologi nutrisi Teknologi sistem tanam Teknologi pengendalian HPT Pendampingan penangkaran benih Pendampingan penguatan kelembagaan petani dan penyuluhan Jenis kegiatan yang akan dilaksanakan adalah : Pengelolaan Sumberdaya Lahan untuk Pengembangan Padi pada Lahan Sawah Tadah Hujan Pengembangan Varietas Padi dan Teknologi untuk Lahan Sawah Tadah Hujan Penelitian Pengembangan Koporasi Petani di Lahan Tadah Hujan Mendukung Swasembada Pangan Terlanjutkan Penguatan Kelembagaan Penyuluh Pertanian Mendukung Implementasi Inovasi Teknologi Padi Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BBPADI) sebagai koordinator kegiatan dengan melibatkan Unit Kerja (UK) dan Unit Pelaksana Teknis (UPT): Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan (Puslitbangtan) Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Tengah Rincian kegiatan CoE terdiri atas perbanyakan benih, display VUB, sistem tanam, pengendalian hama penyakit, pengolahan tanah, nutrisi hara, pengelolaan air, model sistem usahatani, dan kaji terap. Demplot produksi benih padi berupa VUB spesifik LSTH yang potensi hasil tinggi, berumur sangat genjah, toleran cekaman kekeringan, tahan terhadap HPT utama, yaitu VUB Cakrabuana. Pelaksanaan dimulai dengan pendaftaran ke BPSB wilayah Pati/Blora. Pendaftaran izin penangkaran benih saat ini an. BPTP Jawa Tengah. Pendampingan dimulai dari persemaian, penanaman, roguing 1, roguing 2, roguing 3, panen, dan prosesing pasca panen. Demplot display varietas akan dilakukan sebanyak 9 varietas, yaitu: Cakrabuana, Inpari 38, Inpari 39, Inpari 46 GSR, Inpari 42 GSR, Inpari 43 GSR, Inpago 8, Inpago 9, dan Cisaat. Diharapkan display varietas ini dapat menjadi pilihan petani dalam memilih varietas untuk pengembangan LSTH. Demplot sistem tanam arahkan untuk perbanyakan populasi dan diharapkan produktivitas meningkat. Sistem jajar legowo (Jarwo) yang akan diterapkan adalah Jarwo 2:1 dan Jarwo 4:1. Demplot peningkatan produktivitas padi dilakukan penggunaan VUB Cakrabuana. Penggunaan input (pupuk) sesuai dengan kondisi tanah dan kebutuhan tanaman. Diharapkan produktivitas tinggi dan biaya produksi dapat ditekan. Untuk mengendalikan hama di lokasi CoE telah terpasang Light Trap dan ada tanaman refugia. Pendampingan penguatan kelembagaan penyuluh mendukung implementasi inovasi teknologi padi LSTH diwujudkan dalam kegiatan Kaji terap Inovasi Teknologi Padi LSTH yang dilaksanakan oleh penyuluh dan petani Bimbingan Teknis Inovasi Teknologi Padi LSTH bagi penyuluh dan penyebaran media Kaji terap dilakukan pada lahan seluas 1 ha di Desa Jeruk Kecamatan Bogorejo. Teknologi yang dikaji adalah padi VUB Inpago 8, Cakrabuana dan Inpari 43 dengan pemupukan yang berbeda (dosis sesuai rekomendasi dan dosis yang biasa digunakan oleh petani setempat). Dilakukan kegiatan bimtek seed treatment, sosialisasi kegiatan kaji terap, persemaian padi dan pengolahan lahan. Teknologi lainnya yang diterapkan adalah seed treatment menggunakan Agrimeth, sistem tanam jarwo 2 : 1 dan penanaman refugia. Tanam perdana di lokasi CoE dilaksanakan simbolis oleh Bupati Blora Arief Rohman,S.IP.,M.Si. pada tanggal 8 April 2021. Menurut Kepala Puslitbangtan Kementan Priatna Sasmita alasan memilih Blora sebagai riset karena kondisi wilayahnya sebagian besar merupakan sawah tadah hujan. Pada kesempatan itu Bupati mengapresiasi langkah yang dilakukan oleh Kementan. Program RPIK LSTH diharapkan akan dihasilkan paket teknologi padi produksi tinggi spesifik agroekosistem LSTH. Disamping itu juga dihasilkan Aplikasi Model Sistem Pertanian dan Pusat Informasi Teknologi Padi Spesifik Agroekosistem untuk Lahan Sawah Tadah Hujan Kabupaten Blora Provinsi Jawa Tengah yang dapat direplikasi untuk provinsi lainnya. Lebih lanjut, tujuan utama dari kegiatan ini adalah meningkatkan produktivitas dan indeks pertanaman (IP) di LSTH, yang pada gilirannya dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani. Mut Hadiyanto, SST dan Dwi Setyaningsih, SP