Tanaman kakao merupakan salah satu komoditas tanaman perkebunan yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Saking bagusnya nilai ekonomis dari komoditi ini, maka dulunya banyak petani dapat merubah ekonomi keluarganya melalui hasil yang diperoleh dari budidaya tanaman ini. Ini dapat dilihat dari adanya perubahan status sosial mereka yang dicerminkan dari barang-barang yang dimiliki seperti sepeda motor, mobil, rumah bagus dll., yang bersumber dari hasil tanaman ini. Namun seiring dengan perkembangan waktu tentu banyak tantangan yang dihadapi petani sehingga komoditi ini yang semula menjadi komoditas utama dalam usaha taninya, namun sekarang menjadi komoditas sampingan yang tidak dapat diharapkan hasilnya, lantaran kurangnya perhatian petani pada tanamannya tersebut. Beberapa faktor penyebab yang fatal, tidak optimalnya produksi yang diperoleh dari budidaya ini adalah adanya gangguan hama penggerek buah kakao (PBK), penyakit busuk buah, pemupukan yang kurang optimal, serta pemeliharaan yang kurang optimal. Berkembangnya hama maupun penyakit ini juga dipengaruhi oleh tingkah laku petani dalam melaksanakan budidaya tanaman kakao. Karena dibeberapa daerah tanaman ini tetap dapat memberi konstribusi bagi pendapatan petani, lantaran petani mau dan mampu melakukan pemeliharaan dengan baik. Beberapa hal yang dapat menyebabkan produksi tidak optimal adalah sebagai berikut : Pemangkasan. Pemangkasan merupakan usaha untuk membentuk tajuk tanaman menjadi lebih baik, sehingga cabang tanaman dapat menyebar secara merata, mengatur intensitas cahaya yang optimal, membuang cabang-cabang tanaman yang sudah tidak produktif, terserang hama dan penyakit, wiwilan dll., serta yang paling utama adalah upaya pengendalian hama/penyakit yang menyerang tanaman. Peran pemangkasan yang tidak kalah pentingnya juga adalah merangsang pertumbuhan bunga tanaman, yang tentunya nanti menjadi buah dan inilah yang paling utama yang diharapkan bagi petani dalam budidaya tanaman kakao.` Apabila pemangkasan telah dilakukan dengan baik, maka tanaman dapat tumbuh secara optimal. Namun dalam kenyataan di lapangan tanaman ini kurang dilakukan pemangkasan dengan baik, sehingga cabang-cabang tanaman saling bersentuhan dan berserakan, dan bahkan yang lebih parah lagi tanaman ini dapat tumbuh jorjet beberapakali sehingga tanaman menjulang tinggi sampai-sampai tidak terjangkau dalam pemetikan buah, sehingga buah dibiarkan begitu saja apalagi buah-buah yang terserang hama/penyakit yang tentunya menjadi sumber inokulum bagi tanaman sehat. Sanitasi kebun. Sanitasi adalah merupakan upaya untuk membuat kondisi kebun menjadi bersih, baik pada lahan kebun/ lingkungan kebun maupun pada tanaman kakao itu sendiri. Karena bila kondisi kebun tidak bersih, maka kondisi itu dapat merupakan faktor mendorong berkembangnya hama dan penyakit. Adanya ranting-ranting berserakan merupakan sarang yang sangat bagus bagi perkembangan pupa dari hama PBK dan berkembangnya penyakit busuk buah yang disebabkan olen cendawan Phytophtora sp. Tanaman kakao yang kurang bersih seperti adanya buah-buah busuk menghitam yang masih menggantung pada tanaman yang dibiarkan begitu saja oleh petani, tentu ini merupakan sumber inokulasi patogen bagi tanaman yang sehat. Oleh karena itu dalam pemeliharaan tanaman agar dapat berproduksi secara optimal, buah-buah yang masih menggantung menghitam dalam tanaman, baik yang terserang oleh hama PBK maupun buah-buah yang terserang oleh penyakit busuk buah semestinya di pungut dan dikumpulkan dan selanjutnya dikubur ataupun dibakar. Jadi dengan demikian hama maupun penyakit yang ada dalam buah tersebut tidak menyebar ke tanaman-tanaman yang sehat. Pemupukan tanaman. Pupuk merupakan sumber makanan bagi tanaman kakao, walaupun secara alami unsur hara telah ada di dalam tanah, namun tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan untuk menghasilkan produksi tanaman kakao secara optimal, karena kebutuhan tanaman kakao terhadap unsur hara sangat tinggi, apalagi di musim hujan kita lihat tanaman begitu cepat perkembangan vegetatifnya berupa tumbuhnya wiwilan-wiwilan dan daun-daun muda dengan cepat. Oleh karena itu pemupukan ini wajib dilakukan oleh petani. Pemupukan pun harus lengkap yaitu pupuk yang mengandung unsur N, unsur P dan unsur K, serta unsur mikro lainnya, karena masing-masing unsur ini mempunyai fungsi yang berbeda-beda dalam menjalankan proses fisiologi tanaman. Bila kebutuhan terhadap unsur hara ini telah dipenuhi dengan baik tentunya tanaman dapat berproduksi secara optimal. Dengan penerapan teknologi sesuai ketentuan yang direkomendasikan pada tanaman kakao tentu akan berdampak pada hasil yang diperoleh petani, makin baik penerapannya maka makin baik pendapatan yang akan kita peroleh. Tentu semuanya ini sangat tergantung dari kemauan dan kemampuan petani dalam melaksanakan di lahan usaha taninya. Penyuluhan terbatas pada mengawal dan mendampingi petani dalam penerapan teknologi tersebut tentu faktor utamanya adalah petani itu sendiri ( I Made Widiada, Dinas Pertanian Kab.Tabanan, Bali)