Loading...

Kiat Budidaya Kedelai Lahan Kering

Kiat Budidaya Kedelai Lahan Kering
Luas lahan pertanian (lahan kering dan basah) di Indonesia tercatat 59,7 juta ha, sedangkan luas lahan keringnya tercatat 51,7 juta ha, ini berarti di Indonesia ada tercatat 86,24 % lahan pertanian berupa lahan kering (Mulyani A, Syarwani M. 2013). Potensi lahan kering ini, dengan sentuhan inovasi teknologi yang spesifik akan memberikan harapan untuk peningkatan produksi kedelai guna mensukseskan tahun 2018 sebagai tahun kedelai. Peningkatan produktivitas kedelai melalui perbaikan dan penerapan teknologi masih sangat diperlukan, mengingat produktivitas pertanaman kedelai di tingkat petani masih rendah atau sekitar 1,3 ton/hektar dengan kisaran 0,6-2,0 ton/hektar, padahal teknologi produksi yang tersedia mampu menghasilkan 1,7-3,2 ton/hektar. Untuk budidaya di lahan kering, petani harus mengetahui caranya. Berikut kiat budidaya kedelai lahan kering agar kedelai mampu memiliki nilai produktivitas yang tinggi.1. Penyiapan LahanPengolahan tanah dilakukan 1-2 kali (tergantung kondisi tanah). Jika curah hujan cukup tinggi dan berpotensi tergenang, maka perlu dibuat saluran drainase setiap 3-4 meter, sedalam 20-25 cm, sepanjang petakan. Pada lahan yang baru dibuka pertama kali ditanami kedelai, benih perlu dicampur dengan rhizobium. Apabila tidak tersedia inokulan rhizobium (seperti Rizhoplus atau Legin), dapat digunakan tanah bekas pertanaman kedelai yang ditaburkan pada barisan tanaman kedelai.2. PenanamanLubang tanam dibuat dengan cara ditugal kedalaman 2-3 cm. jarak tanam 40 cm x 15 cm. Benih kedelai ditanam dua biji per lubang, ditutup dengan tanah ringan atau abu.3. Pemberian KapurKapur atau dolomit perlu diberikan untuk tanah-tanah yang masam. Dolomit selain meningkatkan pH, juga menambah kandungan Calsium (Ca) dan Magnesium (Mg). Takaran yang dianjurkan adalah setengah dari Al-dd (Alumunium yang dapat dipertukarkan); disebar rata bersamaan dengan pengolahan tanah atau paling lambat 2-7 hari sebelum tanam. Diberbagai daerah lahan masam takaran dolomit yang diperlukan umumnya 1-1.5 ton/ha. Jika diaplikasikan dengan cara disebar sepanjang alur baris tanaman, maka takaran dolomit dapat dikurangi menjadi hanya 1/3 dari takaran semula.Jika dibarengi dengan pemberian pupuk kandang 2.5 ton/ha, takaran pengapuran cukup ¼ dari Al-dd (500-750 kg dolomit/ha)4. PemupukanPupuk tunggal diberikan dengan takaran 75 kg urea, 100 kg SP36 dan 100 kg KCl per hektar, atau dapat juga diberikan 150-200 kg phonska/ha plus 100 kg SP36/ha. Semua pupuk tersebut paling lambat diberikan pada saat tanaman umur 14 hari5. Pengendalian GulmaPenyiangan perlu dilakukan dua kali pada umur 15 hari dan 45 hari. Pengendalian gulma secara kimia dengan herbisida dapat dilakukan sebelum pengolahan tanah. Herbisida dapat pula disemprotkan segera setelah tanam dengan syarat benih ditutup dengan tanah pada saat tanam dan herbisida yang digunakan adalah jenis kontak. Bersamaan penyiangan pertama sebaiknya dilakukan pembumbunan.6. Panen dan Pasca PanenWaktu, cara, dan alat panen yang digunakan dalam pemanenan dapat mempengaruhi jumlah dan mutu hasil kedelai. Untuk itu beberapa hal yang harus diperhatikan pada saat panen dan pasca panen yaitu : (1) Panen dilakukan apabila semua daun tanaman telah rontok, polong berwarna kuning atau coklat, dan mengering; (2) Panen dimulai sekitar pukul 9 pagi saat air embun sudah hilang. Pangkal batang tanaman dipotong menggunakan sabit bergerigi atau sabit tajam; (3) Hindari pemanenan dengan cara mencabut, agar tanah tidak terbawa; (4) Hasil panenan dikumpulkan di tempat yang kering dan diberi alas.Penanganan pasca panen perlu mendapat perhatian yang cukup dari mulai penjemuran hasil panen, pembijian, pengeringan, pembersihan, dan penyimpanan biji. Sebab, kegiatan ini mempengaruhi kualitas biji atau benih yang dihasilkan. Kedelai sebagai bahan konsumsi bsia dipetik pada umur 75-100 hari, sedangkan untuk benih umur 100-110 hari, agar kemasakan biji betul-betul sempurna dan merata. Penjemuran yang terbaik adalah penjemuran hasil panen kedelai yang diberi alas terpal.Demikian informasi yang dapat disampaikan semoga bermanfaat.Siti Nurjanah Penyuluh Pertanian Utama, Pusat Penyuluhan Pertanian. BPPSDMP Kementerian Pertanian. Email : snurjanah8514@yahoo.comSumber : 1) Mulyani A, Syarwani M. 2013. Karakteristik dan Potensi Lahan Sub Optimal untuk Pengembangan Pertanian di Indonesia. Prosiding Seminar Nasional Lahan Sub-optimal "Intensifikasi Pengelolaan Lahan Sub-optimal dalam Rangka Mendukung Kemandirian Pangan Nasional" 2) Sumber Gambar : https://www.google.com3) www.litbang.pertanian.go.id