Penerapan komponen teknologi pilihan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) padi sawah disesuaikan dengan kondisi, kemauan, dan kemampuan petani setempat. Komponen teknologi pilihan meliputi: 1. Pengolahan Tanah sesuai Musim dan Pola Tanam• Pengolahan tanah hingga berlumpur dan rata dimaksudkan untuk menyediakan media pertumbuhan yang baik dan seragam bagi tanaman padi serta mengendalkan gulma. Pada kondisi tertentu seperti mengejar waktu tanam dan kekurangan tenaga kerja, pengolahan tanah minimal atau bahkan dapat pula diterapkan tanpa olah tanah. • Pengolahan tanah dapat dilakukan dengan traktor atau ternak, menggunakan bajak singkat dengan kedalaman olah > 20 cm. Tunggul jerami, gulma, dan bahan organik yang telah dikomposkan dibenamkan ke dalam tanah, bersamaan dengan pengolahan tanah pertama. Pembajakan biasanya dilakukan dua kali, lalu diikuti dengan penggaruan untuk perataan lahan dan pelumpuran.Pengolahan tanah sempurna (bajak, garu, dan perataan) diperlukan untuk tanaman padi yang dibudidayakan pada musim tanam pertama. 2. Penggunaan Bibit Muda • Keuntungan tanam pindah menggunakan bibit muda ( • Untuk mendapatkan bibit yang baik, usahakan bibit berasal dari benih bermutu dan sebelum disemai direndam selama 24 jam lalu ditiriskan selama 48 jam. Kemudian, tambahkan bahan organik seperti kompos, pupuk kandang, dan abu pada persemaian untuk memudahkn pencabutan bibit. Lindungi bibit padi di persemaian dari serangan hama. Bila perlu, pasang pgar plastik dan bubu perangkap untuk mengendalikan tikus.Persemaian perlu dibuat sedemikian rupa agar bibit terhindar dari gangguan ternak dan rendaman air pada saat hujan. • Di daerah endemi keong mas, gunakan bibit yang berumur lebih tua. 3. Tanam Bibit 1-3 batang per rumpun• Bibit ditanam 1-3 batang per rumpun, lebih dari itu akan meningkatkan persaingan antarbibit dalam rumpun yang sama.• Rumpun yang hilang karena tanaman mati atau rusak diserang hama segera disulam, paling lambat 14 hari setelah tanam.• Di daerah endemi keong emas, tanam bibit 2-3 batang per rumpun. 4. Pengairan secara efektif dan efisien• Pengairan dengan teknik berselang, gilir giring, gilir glontor, dan basah kering menghemat pemakaian air hingga 30 %. • Teknik pengairan berselang, air di areal pertanaman diatur pada kondisi tergenang dan kering secara bergantian dalam periode tertentu.• Teknik gilir giring, air didistribusikan 4-5 hari sekali kalau debit air sungai sekitar 40%.• Teknik gilir glontor, air didistribusikan 2-3 hari sekali kalau debit air sungai sekitar 40 - 60%.• Teknik basah-kering menggunakan paralon berlubang untuk menentukan kapan sawah perlu diairi. Pada saat tanaman dalam fase berbunga, ketinggian air di areal pertanaman dipertahankan sekitar 3-5 cm. 5. Penyiangan dengan landak atau gasrok Penyiangan awal gulma menjelang 21 hari setelah tanam, penyiangan selanjutnya berdasarkan kepadatan gulma. Manfaatnya adalah (a) ramah lingkungan, (b) hemat tenaga kerja, (c) meningkatkan jumlah udara di dalam tanah, dan (d) merangsang pertumbuhan akar. Penyiangan gulma dngan landak atau gasrok menghemat penggunaan tenaga kerja. 6. Panen tepat waktu dan gabah segera dirontok• Tanaman dipanen jika sebagian besar gabah (90 – 95%) telah bernas dan berwarna kuning. • Panen terlalu awal, banyak gabah hampa, gabah hijau, dan butir kapur. Panen tepat waktu berperan penting dalam menekan kehilangan hasil pada saat panen. • Terlambat panen, terjadi kehilangan hasil karena gabah rontok di lapang dan jumlah gabah patah pada proses penggilingan meningkat. • Perontokan gabah 1-2 hari setelah panen, menggunakan alat perontok. Perontokan gabah dengan alat perontok (thresher) mempercepat proses perontokan dan mengurangi kehilangan hasil yang disebabkan oleh masih adanya gabah yang tidak rontok jika perontokan dilakukan secara gebot. • Gabah segera dijemur untuk mendapatkan beras dengan mutu yang lebih baik dan harga yang tinggi. Penulis: Mariati Tamba (Penyuluh Pertanian Pusat) Sumber: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementan