Loading...

Kompos Jerami Padi Sangat Aman Bagi Kelestarian Lingkungan

Kompos Jerami Padi Sangat Aman Bagi Kelestarian Lingkungan
Pemakaian pupuk buatan seperti dalam bentuk Urea, TSP/SP-36, dan KCl pada pengelolaan sawah intensif secara terus menerus dapat merusak kesuburan tanah dan akhirnya berdampak pada menurunnya hasil produksi padi. Terlebih lagi kalau penggunaan pupuk anorganik tersebut melebihi ambang batas ekonomi. Petani terkadang terpacu untuk terus meningkatkan hasil pertaniannya tanpa mempedulikan akibatnya pada lahan pertanian miliknya. Tanpa disadari unsur-unsur hara di dalam tanah terus diambil oleh tanaman tanpa ada upaya untuk mengembalikan unsur hara tersebut. Unsur-unsur dimaksud adalah unsur-unsur mikro, yang jarang terperhatikan oleh petani, padahal meskipun mikro (kecil) namun manfaatnya tidak bisa diremehkan. Unsur mikro tersebut bisa dipenuhi dengan , menggunakan pupuk alam sebagai sumber bahan organik seperti pupuk kandang, pupuk hijau, kompos, dan lain–lain. Pupuk organik mengandung unsur-unsur makro dan mikro meskipun dalam jumlah yang sedikit namun lengkap. Jerami merupakan sumber kalium yang sangat murah dan dapat dimanfaatkan kembali sebagai pupuk organik, sementara kebiasaan petani di lapangan masih ada saja yang membakar jerami, ini suatu yang memprihatinkan karena akan menyebabkan kerusakan pada lingkungan, disamping itu dengan pembakaran jerami/bahan organik sebagai usaha mempercepat proses mineralisasi, tidak akan diperoleh penambahan humus dan N ke dalam tanah karena habis terbakar. Oleh karena itu kita/penyuluh harus selalu mengingatkan agar jerami sebaiknya dijadikan kompos saja, sehingga bisa untuk memulihkan kesuburan sawahnya. Pupuk kompos merupakan salah satu jenis pupuk yang ramah lingkungan. Selain berguna untuk meningkatkan kesuburan tanah yang dapat menigkatkan produksi pertanian, juga sangat aman bagi kelestarian lingkungan. Hal ini disebabkan karena bahan-bahan untuk pembuatan pupuk kompos ini selain bisa dari jerani juga bisa berasal dari tumbuh-tumbuhan yang berasal dari alam itu sendiri. Selain itu pembuatan pupuk kompos ini hanya memerlukan biaya yang relatif murah. Sehingga dapat menekan pengeluaran yang dibayarkan oleh petani. Berkurangnya biaya yang dikeluarkan petani juga dapat meningkatkan pendapatan mereka, hal ini dapat mengakibatkan terjadinya peningkatan kesejahteraan para petani. Cara pembuatan kompos jerami adalah sebagi berikut:a. Jerami ditumpuk dengan ketinggian mencapai 15-20 cm, tumpukan dapat diulang sampai mencapai ketinggian + 1 meter.b. Pada setiap lapisan jerami dicipratkan larutan dekomposer. c.Kondisi optimum jerami yang akan dikomposkan berada pada kadar air 50-65%. c. Bagian atas tumpukan jerami ditutup dengan plastik berwarna gelap untuk mempertahankan kelembaban dan untuk menghindari tumpukan terguyur hujan atau terkena panas matahari yang berlebihan.d.Dilakukan pembalikan seminggu sekali.e. Kompos akan matang pada umur 6-7 minggu. Kompos yang matang berwarna kecoklatan dan tumpukan jerami terlihat mengempis hampir setengahnya.f. Kompos dibongkar dan diangin- anginkan untuk menstabilkan kondisi kompos. Didalam pembuatan kompos selalu terjadi berbagai macam perubahan yang dilakukan oleh jasad-jasad renik. Perubahan-perubahan itu antara lain: a). Penguraian hidrat arang ( selulosa, hemiselulosa,dsb) menjadi CO2 dan H2O atau CH4 dan H2. b). Penguraian protein menjadi amoniak, CO2 dan air, c). Pengikatan beberapa jenis unsur hara dalam tubuh jasad renik terutama N disamping P dan K yang akan terlepas kembali bila jasad itu mati, d). Pembebasan unsur hara dari senyawa organik menjadi senyawa anorganik yang tersedia bagi tanaman, e). Penguraian lemak dan lilin menjadi karbondioksida dan air. Akibat dari perubahan-perubahan tersebut diatas berat dan isi bahan-bahan itu sangat berkurang. Sebagian besar dari senyawa-senyawa karbon hilang ke udara. Kadar senyawa N yang larut meningkat dan peningkatan ini akan tergantung pada perbandingan C/N bahan asalnya. Dengan demikian nisbah C/N semakin kecil dan akhirnya relatif konstan pada 15-22. Sejalan dengan perubahan-perubahan dan kehilangan karbon tersebut akan terjadi peningkatan kadar humus dalam bahan organik tersebut. Kompos selain dibuat dari jerami dapat juga dibuat dari seresah atau sisa-sisa tanaman lain. Rumput-rumputan, sisa-sisa daun dan batang pisang, atan daun-daun tanaman dapat juga dibuat kompos. Pada prinsipnya semua limbah organik dapat dijadikan kompos. Batang kayu, bambu, ranting-ranting pohon, atau tulang juga termasuk bahan organik tetapi sebaiknya tidak ikut dikomposkan dengan jerami. Limbah-limbah ini termasuk limbah organik keras. Meskinpun dapat juga dibuat kompos, namun bahan-bahan ini memerlukan waktu yang lama untuk terdekomposisi Beberapa alasan bahan organik harus dikomposkan terlebih dahulu adalah :a.Pupuk kandang atau bahan organik lainnya pada saat dibutuhkan tidak selalu tersedia. Jadi dalam hal ini pembuatan kompos merupakan cara penyimpanan bahan organik sebelum digunakan sebagai pupuk. b. Struktur bahan organik segar sangat kasar dan daya ikatnya terhadap air kecil. Bila bahan ini lansung dibenamkan akan menyebabkan tanah akan berderai. Hal ini mungkin baik bagi tanah-tanah berat tapi tidak demikian untuk tanah-tanah ringan. c. Bila tanah cukup mengandung udara dan air, penguraian bahan organik berlangsung cepat. Akibatnya jumlah CO2 dalam tanah akan meningkat dengan cepat sehingga pertumbuhan tanaman akan teganggu. Disamping itu jumlah NO3 dalam tanah akan berkurang karena adanya pengikatan oleh jasad renik yang menguraikan bahan organik itu. d.Bahan segar pada penguraiannya hanya sedikit sekali memberikan humus dan unsur hara ke dalam tanah. Jadi untuk memperoleh humus yang cukup banyak diperlukan banyak sekali bahan segar. e. Pada pembuatan kompos, biji-biji gulma, benih, hama dan penyakit bisa mati karena panas.Setelah kompos jadi dan sudah diangin-anginkan baru kompos dapat dipakai, sehingga akan membantu untuk kelestarian lingkungan. • Penyunting: Yulia Tri SEmail: yuliatrisedyowati@yahoo.co.id Sumber:1. Asmara, L. 1999. Pengaruh Perbanyakkan medium starter Trichoderma harzianum terhadap kecepatan proses pengomposan dan kualitas kompos jerami padi ( Oryza sativa ). Skripsi fakultas Pertanian Universitas Andalas. Padang.BPTPH II padang. 20002. http://diary-monic.blogspot.co.id/2013/01/pemanfaatan-limbah-pertanian-jerami.html3. http://5infopetani.blogspot.co.id/2011/08/mengembalikan-jerami-ke-dalam-sawah.html4. http://forum.detik.com)