Loading...

Konservasi Lahan Kakao

Konservasi Lahan Kakao
Degradasi lahan merupakan suatu proses dimana kondisi lingkungan biofisik berubah disebabkan oleh alam maupun manusia sehingga menyebabkan penurunan kapasitas dan kualitas tanah. Faktor alam yang dapat menyebabkan degradasi lahan misalnya erosi, angin, dan mekanis, Erosi merupakan proses hilangnya lapisan permukaan tanah karena pergerakan air maupun angin. Degradasi lahan ini dapat menjadi masalah yang serius karena mempunyai pengaruh terhadap kehidupan makhluk hidup. Untuk mengurangi terjadinya degradasi lahan pada perkebunan kakao, perlu dilakukan konservasi lahan,sehingga tanaman kakao dapat tumbuh pada kondisi lahan yang optimal. Prinsip Konservasi LahanDalam pelaksanaan konservasi lahan pada perkebunan kakao, prinsip yang harus diperhatikan adalah: 1) Semua ekosistem alam yang ada diidentifikasi, dilindungi dan dipulihkan melalui konservasi, 2) Harus ada buffer zone daerah produksi dengan pemukiman atau ekosistem alam tempat agrokimia tidak diperbolehkan; 3)Ekosistem perairan harus dilindungi dari erosi dan produk agrokimia; 4) Pertanian tidak boleh menghancurkan ekosistem alami; 5) Tidak boleh membuang atau menambah limbah industri atau limbah rumah tangga ke badan air alami; 6)Tidak boleh menumpuk padatan organik dan anorganik ke badan air alami. Penerapan teknisErosi merupakan penyebab utama degradasi lahan di perkebunan kakao di Indonesia, terutama terjadi pada areal yang kemiringannya cukup terjal, sehingga dilakukan upaya penangulangannya. Air hujan yang berlebih dapat berpengaruh buruk selama periode persiapan lahan dan tanaman muda (tanaman belum menghasilkan, TBM), namun setelah tanaman dewasa dan tajuk tanaman menutupi seluruh permukaan tanah, maka pengaruh air hujan terhadap kerusakan menjadi berkurang. Pada tanah yang kemiringannya cukup terjal dapat terjadi aliran permukaan yang menyebabkan terjadinya erosi, sehingga perlu diupayakan pengendaliannya Jika kemiringan lahan kurang dari 8%, tidak perlu dibuat teras melainkan cukup rorak. Jika kemiringan lahan lebih dari 8% perlu dibuat teras bangku kontinyu atau teras "sabuk gunung" dan rorak. Jika kemiringan lahan lebih dari 45% sebaiknya tidak dipakai untuk budidaya tanaman kakao dan digunakan untuk tanaman kayu industri atau sebagai hutan cadangan/hutan lindung. TerasAda beberapa macam teras, diantaranya yaitu teras gulud, teras bangku dan teras individu Teras gulud berupa guludan yang dilengkapi saluran pembuangan air dan dibuat memotong lereng. Teras gulud sesuai untuk tanah yang jeluknya dangkal dan kemiringannya Teras bangku adalah bangunan teras yang dibuat sedemikian rupa sehingga bidang olah miring ke belakang dan dilengkapi dengan bangunan pelengkap lainnya untuk menampung dan mengalirkan air permukaan secara aman dan terkendali. Teras bangku berfungsi untuk memperpendek panjang lereng, memperlambat laju aliran permukaan, meningkatkan laju infiltrasi air ke dalam tanah, dan mempermudah pengolahan tanah. Teras bangku diperuntukkan pada tanah dengan keluk dalam. Pembuatan teras bangku dimulai dengan penentuan garis kontur. Garis kontur dapat ditentukan dengan alat teodolit dan klinometer. Sedangkan teras individu adalah teras yang dibuat pada lahan dengan kemiringan lereng antara 30-50 % yang direncanakan untuk areal pertanaman perkebunan di daerah yang curah hujannya terbatas dan penutupan tanahnya cukup baik sehingga memungkinkan pembuatan teras individu. Teras individu dilakukan dengan perataan tanah di sekitar pokok tanaman, biasanya garis tengahnya 1,0 – 1,5 m. Pembuatan teras bangku: 1) Dibuat garis kontur dan ditandai dengan ajir; 2) Jarak antara kaki alat bantu pembuatan kontur disamakan dengan jarak tanam; 3) Perataan tanah dimulai ari ajir terasan yang paling atas; 4) Mencangkul tanah 1 m di depan garis kontur (batas ajir) kemudian di Tarik ke belakang sesuai "bokongan" teras.; 5) Tanah hasil galian selanjutnya diinjak supaya padat dan tidak mudah terbawa air hujan RorakRorak berupa lubang di dalam kebun, dibuat setelah bibit kakao ditanam di kebun, diutamakan pada lahan yang miring. Rorak dibuat sejajar dengan kontur, dengan ukuran panjang × lebar × dalam = 100cm × 30 cm × 30 cm. Antara rorak yang satu dengan yang lain dibuat zigzag. Ke dalam rorak dapat diisikan bahan organic. Bila sudah penuh, rorak ditutup tanah dan dibuat rorak yang baru. (Sri Wijiastuti, Pusat Penyuluhan Pertanian, BPPSDMP)Sumber: Pedoman Teknis Budidaya Kakao yang Baik (Good Agriculture Practices/GAP on Cocoa). Direktorat Jenderal Perkebunan. Kementerian Pertanian. Jakarta. 2014.