Loading...

KOPI MANIA

KOPI MANIA
Beberapa tahun belakangan ini kopi menjadi salah satu komoditas primadona sebagai bahan baku minuman selain teh dan coklat. Banyak generasi milenial yang beralih dari minuman ringan bersoda ke minuman berat seperti teh dan kopi. Tidak sedikit yang terjun dan menekuni bidang perkopian, mulai dari hulu ( budidaya ) sampai hilir ( olahan kopi, cafe atau resto ). Banyak anak – anak muda yang begitu lulus kuliah membuka usaha kuliner atau cafe baik perseorangan maupun patungan sesama teman penghobi kopi. Mulai kelas warung kaki lima sampai cafe kelas elit bermunculan dan merambah kota – kota kecil yang dulunya awam dengan yang namanya cafe dan tempat nongkrong sejenisnya. Dan sebagian besar dimiliki maupun dioperasionalkan oleh generasi milenial. Tidak ketinggalan di kawasan wisata Gunung Bromo di Kabupaten Probolinggo, mulai dari Desa Ngepung sampai Dusun Cemoro Lawang, dalam 2 tahun belakangan mulai bermunculan cafe – cafe yang menyajikan hasil olahan kopi baik kopi lokal maupun luar daerah. Seperti Cafe De Potrek di Sapikerep yang sedang hits menyasar konsumen kelas atas dengan tambahan sajian pemandangan pegunungan dan spot selfie, Cafe Pak Guru, Cafe Ranu, dan lainnya. Selain cafe banyak usaha di bidang perkopian yang digeluti anak muda jaman now. Mulai dari olahan kopi, pengemasan kopi ataupun usaha makanan berbahan dasar kopi semisal permen kopi, brownies kopi, roti kopi dan lainnya. Dan juga diadakannya festival - festival bertemakan kopi di berbagai daerah, salah satunya Festival Kopi dan Petik Merah di Krucil Kabupaten Probolinggo. Bahkan tidak sedikit pula anak – anak muda baik laki – laki maupun perempuan yang tertarik untuk belajar ataupun menjadi seorang Barista ( peracik minuman ) kopi yang profesional. Berbagai macam jenis minuman berbahan dasar kopi maupun teknik pembuatan dan penyajian dipelajari secara otodidak maupun di sekolah khusus Barista. Banyak jenis minuman berbahan dasar kopi dari luar negeri dan dalam negeri semisal kopi tubruk, kopi luwak, esspresso, capucino, americano, latino, vietnam coffe dan masih banyak yang lainnya. Selain anak – anak muda generasi milenial, para petani kopi juga mulai mempelajari berbagai macam teknik pengolahan kopi. Para petani kopi yang biasanya hanya mengenal cara mengolah kopi secara tradisional sekarang dituntut oleh pasar untuk meningkatkan kuantitas, keberagaman dan kualitas hasil panen kopi. Para petani kopi mulai mengenal petik merah yaitu hanya memanen buah kopi ( Coffe cherry ) yang sudah benar – benar masak dan berwarna merah. Selain meningkatkan harga jual, hasil panen petik merah kopi juga menjaga kualitas hasil kopi yang seragam. Selain itu petani juga mempelajari teknik - teknik pengolahan pasca panen biji kopi sesuai dengan tuntutan pasar saat ini. Petani mulai mengenal apa itu teknik olah basah dan kering. Teknik olah basah Dalam Olah Basah, proses ini bertujuan untuk menghilangkan getah dan kulit luar ( pericarp ) dengan gesekan mesin depulper, fermentasi, dan air. Durasi, atau lamanya kopi difermentasi berkisar antara 24-36 jam tergantung temperatur, ketebalan mucilage pada kopi, dan konsentrat enzimnya. Jika suhu di sekitarnya semakin hangat, maka prosesnya akan semakin cepat pula. Kopi-kopi hasil full washed process umumnya memiliki karakter yang lebih bersih, light, sedikit berasa buah, body cenderung ringan dan lembut dengan tingkat keasaman (acidity) lebih banyak. Teknik olah kering Ada 2 jenis dalam olah kering kopi yaitu natural process dan honey process Natural process : Proses ini termasuk teknik paling tua yang ada dalam sejarah proses pengolahan kopi. Setelah dipanen, ceri kopi akan ditebarkan di atas permukaan alas-alas plastik dan dijemur di bawah sinar matahari tanpa melalui proses pengupasan kulit luar . Pada proses natural, buah kopi yang dikeringkan masih dalam berbentuk buah/ceri, lengkap dengan semua lapisan-lapisannya, Proses natural memiliki biji kopi dengan variasi rasa buah-buahan (fruity). Setelah kering, dapat diperhatikan bahwa kulit dan buah kopi yang sudah kering menempel pada kulit tanduk kopi dan proses selanjutnya adalah untuk memecah kulit tanduk kopi, hal ini dapat dilakukan secara manual (ditumbuk) atau pun menggunakan hulling machine Honey process : Setelah panen, buah kopi dikupas tanpa melibatkan air. Pengupasan ini akan menghasilkan biji kopi yang masih berlendir / mucilage. Biji kopi berlendir ini kemudian dijemur. Diharapkan rasa manis yang ada di lendir akan meresap ke dalam biji kopi, seiring proses pengeringan Kopi hasil Metode Kering, Proses natural ini dianggap mampu memberi citarasa ala buah-buahan pada kopi, seperti berry – berry an atau buah-buahan tropis. Kopi pun cenderung memiliki keasaman (acidity) rendah, rasa-rasa yang eksotis dan body yang lebih banyak. Petani juga mempelajari cara roasting yang baik dan benar sesuai dengan karakteristik kopi dan permintaan konsumen. Proses pemanggangan atau roasting biji kopi dilakukan untuk mengubah senyawa kimia dalam kopi. Sehingga menghasilkan karakteristik dan rasa khas pada kopi. Proses ini menyebabkan warna biji kopi berubah. Jika tadinya biji kopi berwarna hijau ke kuning, cokelat muda hingga cokelat tua, Dari proses itu jugalah akan ditentukan berikutnya apakah kopinya akan menjadi light, medium, atau dark.