Loading...

KOPI MERUPAKAN KOMODITAS PENTING DI BENGKULU

KOPI MERUPAKAN KOMODITAS PENTING DI BENGKULU
Kopi merupakan komoditas sektor perkebunan yang penting bagi perekonomian negara Indonesia. Jenis kopi yang paling banyak diusahakan adalah kopi Robusta. Luas tanaman kopi Robusta di Indonesia mencapai 1.254.382 ha dan 96% merupakan perkebunan rakyat serta Perkebunan Besar Negara (PBN) dan Perkebunan Besar Swasta (PBS) masing-masing 2%. Kopi Robusta juga menjadi salah satu komoditas penting sebagai sumber pendapatan masyarakat di Provinsi Bengkulu setelah Karet dan Kelapa Sawit. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, luas tanaman kopi Robusta mencapai 86.840 ha, dengan luas Tanaman Menghasilkan (TM) 73.711 ha, Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) 8.022 ha serta Tanaman Tua (TT) atau Tanaman Rusak (TR) seluas 5.107 ha. Perkebunan kopi Robusta di Provinsi Bengkulu tersebar di Kabupaten Rejang Lebong, Kepahiang, Bengkulu Utara, Kaur, Seluma, dan Bengkulu Selatan. Kabupaten Kepahiang dan Rejang Lebong merupakan sentra pengembangan kopi di Provinsi Bengkulu. Empat puluh lima persen pertanaman kopi Robusta (45.735 ha) berada di Kabupaten Kepahiang dan Rejang Lebong.Produksi rata-rata kopi Robusta di Provinsi Bengkulu 748,45 kg/ha lebih rendah jika dibandingkan dengan potensi produksi yang dapat mencapai 1.500 kg/ha. Rendahnya rata-rata produksi kopi di Provinsi Bengkulu disebabkan oleh penggunaan bahan tanam asalan, tanaman suda tua atau rusak serta pemeliharaan tanaman yang dilakukan belum optimal. Perbanyakan kopi secara generatif melalui biji asalan menghasilkan kopi dengan produksi rendah. Varietas kopi lokal yang dikembangkan oleh masyarakat sebagian besar berasal dari bahan tanaman biji sapuan dengan produktivitas relatif rendah yaitu 702 kg/ha. Selain itu, penggunaan bahan tanam yang tidak sesuai dengan kondisi agroekosistem juga menjadi salah satu penyebab masih rendahnya produksi kopi Robusta.Peningkatan produktivitas kopi Robusta dapat dilakukan melalui perbanyakan secara vegetatif. Perbanyakan vegetatif pada tanaman kopi dapat dilakukan melalui kultur jaringan, setek, okulasi dan penyambungan (grafting). Grafting dapat dilakukan dengan menggunakan batang bawah dari bibit muda (berumur 5-6 bulan), maupun dengan tunas pada tanaman kopi menghasilkan. Salah satu keunggulan dari grafting adalah dapat memadukan sifat unggul dari batang bawah dengan batang atas (entres).Kopi Robusta mempunyai sifat untuk melakukan penyerbukan silang (cross pollination). Perbanyakan yang dilakukan melalui biji menyebabkan turunanya tidak dapat mewarisi sifat-sifat unggul yang dimiliki induknya dan penampilanya kurang seragam karena mengalami segregasi sehingga hasil yang diperoleh umumnya lebih rendah dari induknya. Karena sifat kopi Robusta yang dapat melakukan penyerbukan silang, penanaman kopi harus dilakukan poliklonal dengan 3-4 klon untuk setiap hamparan kebun. Selain itu, sifat kopi Robusta yang sering menunjukkan reaksi yang berbeda jika ditanam pada kondisi yang berbeda, maka komposisi klon untuk suatu lingkungan tertentu harus berdasarkan pada stabilitas daya hasil, kompatibilitas (keserempakan saat berbunga) antar klon untuk lingkungan tertentu dan keseragaman ukuran biji.Perbanyakan pada tanaman kopi dapat dilakukan secara generatif maupun klonal. Perbanyakan secara klonal dapat dilakukan dengan teknik penyambungan dan setek. Teknik penyambungan bertujuan untuk memanfaatkan dua sifat unggul dari bibit batang bawah tahan terhadap netoda parasit akar, dan sifat unggul batang atas dengan produksi tinggi maupun mutu biji baik. Sedangkan perbanyakan kopi Robusta dengan teknik setek hanya memanfaatkan salah satu sifat keunggulan.Penentuan komposisi klon kopi Robusta dan Arabika yang sesuai dengan kondisi lingkungan diperlukan data tipe iklim menurut Schmidt dan Ferguson serta ketinggian tempat penanaman. Untuk memperoleh kopi Robusta dengan citarasa dan produktivitas, ketinggian tempat yang optimal adalah 500-700 meter di atas permukaan laut (m dpl). Salah satu contoh komposisi klon untuk jenis iklim A atau B dengan ketinggian tempat >400 m dpl, komposisi klon yang dianjurkan adalah BP-42:BP-234:BP-358:SA-237 dengan perbandingan 1:1:1:1 atau dengan komposisi BP-42:BP-234:BP-358 dengan komposisi 2:1:1. Selain penanaman harus dilakukan secara poliklonal, penanaman kopi Robusta juga harus dilakukan secara berseling.Peningkatan produktivitas kopi di Provinsi Bengkulu dapat dilakukan melalui rejuvinasi tanaman dengan menggunakan klon unggul. Terdapat beberapa klon lokal di Provinsi Bengkulu yaitu klon Tamiman, Juremian, Erlanggan, Kirmanan, Misranan, seri klon A, C, E dan H serta beberapa gentotipe klon Ciari. Diantara beberapa klon tersebut terdapat beberapa klon yang sudah resmi dilepas oleh Menteri Pertanian pada tahun 2014 sebagai klon unggul nasional yaitu Sehasence, Sintaro 1, Sintaro 2, dan Sintaro 3. Produksi rata-rata masing-masing klon tersebut adalah 2,17 ton/ha; 1,7 ton/ha; 2,2 ton/ha dan 1,8 ton/ha. Citarasa masing-masing klon tersebut adalah sangat bagus (Sintaro 1), baik (Sintaro 2 dan Sintaro 3) serta cukup baik untu klon Sehasence.Komposisi penanaman klon unggul di Provinsi Bengkulu belum banyak dilakukan oleh petani. Sehingga perlu dilakukan kajian untuk mengetahui komposisi klon unggul yang dapat meningkatkan produktivitas serta kualitas kopi di Provinsi Bengkulu. Ditulis Kembali Oleh : Harnati Rafiastuti, SP (Penyuluh BBP2TP)Alamat Email : harnati_r@yahoo.com Sumber Bacaan :1. Badan Pusat Statistik. 2016. Provinsi Bengkulu Dalam Angka. Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu2. Ditjenbun. 2014. Pedoman Teknis Budidaya Kopi Yang Baik (GAP on Coffee). Kementan. Jakarta3. Sumber gambar berasal dari inspirasipertanian.com