Sistem tanam Tumpang Sari antar komoditas pangan telah banyak dipraktekan petani. Sistem tanam Tumpang Sari yang dipraktekkan petani hasilnya rendah karena jarak tanam tidak diatur, kombinasi tanaman tidak tepat dan tidak saling komplementer. Bila komposisi tanaman, jarak tanam dan waktu tanam antar komoditas ditata dengan tepat maka hasil dari kombinasi tanaman per satua n luas lebih tinggi dari sistem monokultur. Hal ini dapat menjadi solusi dan terobosan dalam pencapaian swasembada pangan nasional dan untuk peningkatan pendapatan petani. Untuk pencapaian swasembada pangan nasional dan untuk peningkatan pendapatan petani, maka, dilaksanakan kegiatan Pengembangan Sistem Tanam Tumpang Sari Padi Jagung dan Kedelai secara nasional dengan luasan 1.050.000 hektar yang tersebar di 31 provinsi dengan Kombinasi pola tumpang sari yang dilaksanakan adalah : 1) Padi gogo dan Jagung; 2) Padi gogo dan Kedelai; 3) Jagung dan Kedelai. Kegiatan Pengolahan tanah dan penanaman menjadi syarat teknis yang harus dilaksanakan. Berikut ketentuan Pengolahan tanah dan penanaman tumpangsari serta kombinasinya. Pengolahan Tanah Untuk lahan sawah pengolahan tanah dengan olah tanah minimum dan tanpa olah tanah (TOT). Olah tanah minimum dilakukan setelah panen padi sawah dengan cukup membersihkan lahan dari tunggul jerami dan rumput. Selanjutnya dibuat alur bajak untuk tanaman dan saluran drainase keliling lahan juga disiapkan. Pengolahan tanah di lahan kering dilakukan sebelum turun hujan dan atau paling lambat pada saat hujan pertama dengan cangkul atau garpu. Pada daerah dengan kondisi tanah ringan, pengolahan tanah cukup dengan pembajakan 1 kali dan diratakan dengan garpu satu kali atau menyesuaikan dengan kondisi lapangan. Penanaman Padi Gogo dan Jagung Setelah kondisi lahan optimal, segera dilakukan penanaman benih padi dengan tugal. Jarak tanam padi gogo adalah 20 cm (antar barisan) x 10 cm (dalam barisan), sedangkan jarak tanam jagung 40 cm (antar barisan) x 15 cm (dalam barisan). Jarak antara blok padi atau jagung 40 cm dengan memperhitungan jumlah populasi tanaman dalam satu hektar. Untuk mempermudahkan pada waktu pemanenan, lebar antar blok dapat disesuaikan dengan lebar combine harveste Untuk pertanaman padi gogo dilakukan lebih awal dengan selang waktu tiga minggu sebelum penanaman jagun Penanaman benih padi sebanyak 5-7 biji per lubang atau disesuaikan dengan kondisi setempat, sehingga diperlukan benih hingga 50 kg/ha (disesuaikan dengan kondisi pertanaman setempat). Penanaman benih jagung sebanyak 1 biji per lubang, dengan kebutuhan benih hingga 20 kg/ha (disesuaikan dengan kondisi pertanaman setempat). Populasi tanaman per hektar pada sistem Tumpang Sari ini menggunakan populasi rapat, dengan jumlah populasi kurang lebih 20000 rumpun/ha untuk padi dan 80.000 batang/ha untuk jagung. Padi Gogo dan Kedelai Setelah kondisi lahan jenuh air, segera dilakukan penanaman benih padi dengan tugal dengan jarak tanam padi gogo adalah 20 cm (antar barisan) x 10 cm (dalam barisan), sedangkan jarak tanam kedelai 30 cm (antar barisan) x 15 cm (dalam barisan). Jarak antara blok padi atau kedelai adalah 30 cm disesuaikan dengan perhitungan populasi tanaman dalam satu hektar. Untuk mempermudahkan pada waktu pemanenan, lebar antar blok dapat disesuaikan dengan lebar combine harveste Untuk penanaman padi dapat dilakukan pada waktu yang bersamaan dengan penanaman kedelai atau akan lebih baik, bilamana dapat dilakukan penanaman padi lebih awal sekitar 2 (dua) minggu sebelum penanaman kedelai. Penanaman benih padi sebanyak 5-7 biji per lubang atau disesuaikan dengan kondisi setempat, sehingga diperlukan benih hingga 50 kg/ha (disesuaikan dengan kondisi pertanaman setempat). Penanaman benih kedelai sebanyak 2 benih per lubang, dengan penggunaan benih maksimum hingga 40 kg/ha (disesuaikan dengan kondisi pertanaman setempat). Populasi tanaman per hektar pada sistem Tumpang Sari ini menggunakan populasi rapat, dengan jumlah populasi kurang lebih 200.000 rumpun/ha untuk padi dan 20000 batang/ha untuk kedelai. Jagung dan Kedelai Setelah kondisi lahan optimal, segera dilakukan penanaman benih jagung dengan tugal. Jarak tanam jagung 40 cm (antar barisan) x 15 cm (dalam barisan), sedangkan jarak tanam kedelai 30 cm (antar barisan) x 15 cm (dalam barisan). Jarak barisan antara jagung dan kedelai adalah 40 cm, sedangkan jarak antara blok jagung atau kedelai adalah disesuaikan dengan perhitungan populasi tanaman dalam satu hektar. Untuk mempermudahkan pada waktu pemanenan, lebar blok dapat disesuaikan dengan lebar corn combine harveste Untuk pertanaman kedelai dilakukan lebih awal dengan selang waktu tiga minggu sebelum penanaman jagun Penanaman benih kedelai sebanyak 2 benih per lubang, dengan kebutuhan benih hingga 40 kg/ha (disesuaikan dengan kondisi pertanaman setempat). Penanaman benih jagung sebanyak 1 benih per lubang, sehingga digunakan benih hingga 20 kg/ha (disesuaikan dengan kondisi pertanaman setempat). Populasi tanaman per hektar pada sistem Tumpang Sari ini menggunakan populasi rapat, dengan jumlah populasi kurang lebih 80.000 batang/ha untuk jagung dan 20000 batang/ha untuk kedelai. Untuk memperoleh hasil yang optimal dalam pola tanam tumpangsari, maka kombinasi tanaman, jarak tanam dan waktu tanam menjadi faktor penentu untuk keberhasilan. Selain itu, kegiatan penyiangan, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit dengan melakukan pengamatan pada pertanaman juga harus diperhatikan. Demikian informasi yang dapat disampaikan semoga bermanfaat. Siti Nurjanah Penyuluh Pertanian Utama, Pusat Penyuluhan Pertanian. BPPSDMP Kementerian Pertanian. Email : snurjanah8514@yahoo.com Sumber : Petunjuk Pelaksanaan Kegiatan Serealia 2019, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian. Petunjuk Teknis Tumpangsari Padi, Jagung dan Kedelai, 2018 Badan Litbang, Kementan. litbang.pertanian.go.id Gambar : https://www.google.com