Kelompok Wanita Tani ( KWT ) adalah bagian dari kelompoktani memiliki peran penting dalam pembangunan pertanian di perdesaan. Kelompok Wanita Tani ( KWT ) menjadi ujung tombak penerapan jajar legowo karena mereka juga bertindak sebagai tenaga tanam dan tenaga pemeliharaan sampai dengan panen. Anggota Kelompok Wanita Tani ( KWT ) juga berperan untuk mengelola pekarangan dan sekitarnya dengan tanaman sayur dan buah, atau kolam terpal sederhana, ataupun memelihara unggas, selain untuk memenuhi kebutuhan keluarga, bila hasil berlebih bisa dijual dan menambah penghasilan keluarga. Anggota Kelompok Wanita Tani ( KWT ) pun bisa diajarkan dan diajak untuk mengelola limbah dapurnya, misal sayuran sisa ( batang sawi, bayam, kangkung, kulit buah ) untuk membuat pupuk organik cair, dan mengelola pupuk kandang dari unggas atau sapinya secara bokashi, kemudian diaplikasikan di lahan-lahan pertanian dan tanaman budidayanya maka ada banyak keuntungan yang didapat, antara lain: Mengurangi biaya pembelian pupuk. Memperbaiki kondisi fisik, biologi dan kimia lahan budidaya karena penggunaan pupuk organik cair atau padat. Lingkungan lebih sehat dan bersih karena limbah-limbah telah diolah. Hasil pertaniannya lebih sehat dengan pemanfaatan pupuk hasil olahan ibu-ibu KWT. Bisa menambah penghasilan keluarga bila pupuk-pupuk organik tersebut dikemas, dan dipasarkan. Anggota Kelompok Wanita Tani ( KWT ) yang bisa mengelola halaman / pekarangannya dengan baik, bahkan turus-turus jalan desa dapat ditanami bibit buah – buahan dan dipelihara secara bersama, kelak bisa ditata menjadi desa kunjungan wisata pertanian, menjadi sentra penghasil buah, sehingga perekonomian warga desa akan meningkat, kesejahteraannya pun makin meningkat pula. admin blora: Musriati, SP; Sri Endah M, SP.