Selain membutuhkan pakan utama, ternak juga memerlukan pakan tambahan yang cukup agar dapat tumbuh secara optimal. Pakan utama biasanya berupa bungkil kedelai, tepung ikan, jagung, produk samping gandum/ polar sedangkan pakan tambahan seperti mineral dan vitamin yang mengandung nutrien dan bernilai ekonomis tinggi. Sebagian pakan tersebut masih berasal dari impor yang tentu saja harganya cukup mahal. Untuk itu, perlu upaya alternatif penggunaan bahan pakan lokal secara optimal. Salah satu produk samping yang tersedia dalam jumlah banyak dan belum dimanfaatkan secara optimal sebagai bahan baku pakan ternak adalah bulu ayam/ unggas. Bulu ayam adalah limbah dari rumah pemotongan ayam (RPA) yang jumlahnya cukup berlimpah serta terus bertambah seiring meningkatnya populasi dan tingkat pemotongan ayam akibat meningkatnya permintaan daging ayam di pasar. Dengan meningkatnya jumlah ayam yang dipotong sehingga limbah bulu ayam yang dihasilkan juga semakin banyak sekaligus menimbulkan permasalahan tersendiri. Dalam proses pengolahan ayam menjadi karkas atau daging siap masak, bagian bulu ayam menjadi buangan. Untuk itu, perlu penerapan teknologi pengolahan bulu ayam yang tepat sehingga dapat memberi manfaat yang besar, antara lain disamping dapat mengurangi pencemaran lingkungan akibat pembuangan bulu ayam yang tidak tepat, juga termanfaatkan sebagai sumber protein pakan alternatif pengganti sumber protein konvensional.Bulu ayam mengandung protein kasar yang cukup tinggi, yakni 80-91% dari bahan kering (BK) melebihi kandungan protein kasar bungkil kedelai 42,5% dan tepung ikan 66,2%. Tingkat kecernaan bahan kering dan bahan organik bulu ayam secara in vitro masing-masing hanya 5,8 % dan 0,7 %. Ini disebabkan bulu ayam sebagian besar terdiri atas keratin yang digolongkan ke dalam protein serat. Dari hasil pemotongan setiap ekor ternak unggas akan diperoleh bulu sebanyak ± 6% dari bobot hidup (bobot potong ± 1,5 kg). Sebelum diberikan kepada ternak, bulu ayam diolah terlebih dahulu menjadi tepung. Pemrosesan ini untuk melemahkan ataupun memutuskan ikatan dalam keratin melalui proses hidrolisis. Banyak sekali metode pemrosesan bulu ayam menjadi tepung. Beberapa diantaranya: 1. Secara fisik. Proses mengunakan teknik fisik ini dilakukan dengan tekanan serta suhu tinggi, yakni pada suhu 105°C selama 8 jam. Sampel yang telah bersih diautoklaf, kemudian dikeringkan serta siap digiling; 2. Secara kimiawi, yaitu dengan penambahan HCl 12%, dengan ratio 2:1 pada bulu ayam yang telah bersih, lalu disimpan dalam wadah tertutup selama empat hari. Sampel yang sudah direndam dengan HCl 12% dikeringkan serta siap bagi atau bisa juga digiling menjadi tepung. 3. Secara enzimatis. Bulu ayam diproses dengan teknik enzimatis. Dilakukan dengan menambahkan enzim proteolitik 0,4% serta disimpan selama dua jam pada suhu 52oC. Bulu ayam dipanaskan pada suhu 87oC sampai kering serta digiling menjadi tepung. 4. Secara kimia. Pengolahan ini mempergunakan basa, bisa dilakukan dengan menambahkan NaOH 6%, disertai pemanasan serta tekanan mempergunakan autoklaf. Bulu ayam yang telah siap dikeringkan serta digiling. Bulu-bulu ayam amat potensial dijadikan sumber protein pakan ternak, lantaran kandungan protein kasarnya tinggi. Tepung Bulu ayam bisa dimanfaatkan untuk campuran pakan ternak ruminansia, pakan ternak unggas atau dijadikan pelet untuk pakan ikan; 1. Untuk Pakan Ternak Ruminansia. Hal ini masih sedikit dilakukan. Penyebabnya karena protein kasar yang terkandung didalam bulu ayam berjenis protein serat, yakni keratin yang sulit dicerna baik oleh mikroorganisme rumen maupun oleh enzim-enzim pencernaan pascarumen. Namun, keunggulannya terdapat sejumlah protein yang tahan terhadap perombakan oleh mikroorganisme rumen (rumen undegradable protein/RUP), mampu diurai secara enzimatis pada saluran pencernaan pascarumen. Nilai RUP yang telah disebutkan berkisar antara 53-88 %, sementara nilai kecernaan dalam rumen berkisar 12-46 % ; 2. Untuk Pakan Ternak Unggas. Penggunaan tepung bulu ayam untuk ransum unggas menjadi alternatif sumber protein pakan konvensional (bungkil kedelai) hingga yang dengannya taraf 40 % dari total protein ransum memberikan respons sebaik ransum kontrol. Banyak sekali hasil penelitian menunjukan bahwasanya tepung bulu bisa dipakai pada level tak lebih dari 4 % dari total formula ransum tanpa membuat produktivitas unggas merosot. Makin baik pengolahannya, makin baik juga hasilnya. Makin tidak sedikit dipakai tepung ini malah akan menekan prestasi unggas, produksi telur berkurang serta pertambahan berat badan pun merosot. Tepung bulu tak disukai (tidak lebih palatable) oleh ternak, menjadikan penggunaannya dalam ransum perlu dibatasi. Pemakaian yang berlebihan akan mengurangi konsumsi ransum, mengakibatkan kandungan asam amino yang tak berganti. Pemakaian dalam ransum unggas disarankan maksimum 5-7 % sedangkan untuk broiler (ayam potong) disarankan Berdasarkan hal-hal tersebut, diharapkan limbah bulu ayam dapat dijadikan sebagai salah satu bahan pakan ternak alternatif yang mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai usaha, serta sekaligus dalam rangka menekan ketergantungan terhadap bahan pakan impor. (Inang Sariati)Sumber Informasi : 1. https://organikilo.co/2014/12/cara-mengolah-bulu-ayam-menjadi-tepung-untuk-ransum.html2. https://ternakmudahuntung.blogspot.co.id/2017/01/tepung-bulu-ayam-untuk-pakan-ternak.html3. https://images.search.yahoo.com/search/imagesLIMBAH+BULU+AYAM+SEBAGAI+PAKAN+TERNAK