salah satu faktor penentu keberhasilan pengembangan kakao adalah adanya dukungan ketersediaan benih bermutu dari variertas unggul kakao yang dapat diperbanyak secara generatif dan vegetatif. perbanyakan kakao secara generatif menggunakan benih hibrida yang bersumber dari kebun benih yang diketahui kedua tetuanya dan bersertifikat. sedangkan perbanyakan kakao secara vegetatif dapat dilakukan dengan cara okulasi, sambung mata tunas, stek, sambung samping dan embriogenesis somatik. sumber vegetatif dapat diperoleh dari kebun entres yang bersertifikat dalam penyebarluasan benih unggul kakao masih menghadapi beberapa kendala antara lain masa simpan benih dan entres kakao yang sangat terbatas. untuk itu upaya yang dapat ditempuh untuk mengatasi masalah tersebut adalah pengembangan kebun benih sumber varietas/klon unggul yang dekat dengan lokasi pengembangan. dalam pembangunan kebun sumber benih kakao harus memenuhi persyaratan yang telah ditentukan antara lain : kemiringan tanah < 45%, kedalaman efektif > 1,5 m, tidak berbatu dan mempunyai drainase baik dengan tekstur tanah terdiri dari 50% pasir, 10-20% debu dan 30-40% lempung atau geluh lempung pasiran atau lempung pasiran dengan ph optimum 6 – 7; ketinggian tempat optimal 0 – 600 m dpl dengan curah hujan antara 1.500 – 2.500 mm per tahun, suhu maksimal 30 – 320c dan suhu minimal 18 – 210c dengan kelembaban relatif maksimum 100% pada malam hari dan 70 – 80% pada siang hari; mempunyai akses sarana transportasi baik, dekat dengan sumber air, harus terisolasi dengan tanaman kakao lainnya dengan jarak minimal 100 m agar tidak terjadi kontaminasi serbuk sari dari tanaman kakao yang lain serta bukan daerah endemik serangan penyakit vsd (vascular streak dieback) serta penyakit busuk buah. kebun benih sumber kakao terdiri dari kebun entres dan kebun induk. 1. kebun entres benih kakao untuk kebun entres adalah klon-klon kakao anjuran yang terdiri dari kakao mulia dan kakao lindak yang juga dimanfaatkan sebagai tetua kebun benih hibrida. rancangan untuk tata tanam kebun entres harus memperhatikan perkembangan tunas vegetatif. tunas vegetatif mempunyai dua bentuk yaitu tunas yang arah pertumbuhannya keatas (tunas ortotrop/tunas air) dan tunas yang arah pertumbuhannya ke samping (tunas plagiotrop/cabang kipas). untuk kebun entres ortotrop dapat menggunakan jarak tanam 1 x 1 m dan perlu dilakukan perundukan pada saat tanaman berumur 6 bulan sejak tanam. sedangkan untuk kebun entres plagiotrop dapat menggunakan jarak tanam 3 x 3 m, jarak tanam 2,5 x 3 m, 3 x 4 m atau 4 x 4 m dengan jumlah populasi minimal 600 pohon/ha dan melakukan pemangkasan tajuk tanaman setelah berumur 8 – 12 bulan sejak tanam, namun entres paling baik diambil pada saat tanaman berumur 6 bulan. dalam upaya untuk mendukung pengembangan kakao dengan target areal yang luas dalam waktu yang cepat, kebun entres kakao sebaiknya dirancang untuk produksi tunas cabang plagiotrop, hal ini dikarenakan pada tanaman cabang plagiotrop lebih banyak dibandingkan cabang ortotrop. 2. kebun induk dua tahapan penting yang harus diperhatikan dalam membangun kebun induk, yaitu a) pemilihan komposisi klon sesuai rekomendasi dan b) rancangan tata tanam klon tetua penyusun komposisi tersebut yang memungkinkan terjadinya proses penyerbukan antar klon secara alami sehingga benih yang dihasilkan merupakan hasil persilangan antar klon-klon induk. ada beberapa rancangan tata tanam kebun induk antara lain : 1. rancangan poliklonal rancangan ini digunakan untuk menghasilkan hibrida campuran. tata tanam disusun satu baris tetua jantan i (klon sca 6), dua baris tetua betina i (klon ics 60), satu baris tetua jantan ii (klon sca 12), dua baris tetua betina ii (klon gc 7), satu baris tetua jantan i (klon sca 6), dua baris tetua betina iii (klon uit 1). benih yang dipanen dalam rancangan ini hanya berasal dari klon induk betina. 2. rancangan biklonal 1 : 1 rancangan ini digunakan untuk dua klon yang memiliki keunggulan daya hasil dan mutu hasil yang sama, misalnya klon tsh 858 dan ics 60. penanaman dapat disusun dalam barisan berselang seling antara kedua klon tersebut. benih dapat dipanen dari kedua klon induk, sehingga produktivitas lahan maksimal. 3. rancangan biklonal 2 : 1 rancangan ini digunakan untuk menggabungkan sifat ketahanan yang dimiliki oleh masing-masing klon, misalnya klon jantan sca 6, sca 12 ditanam dengan klon betina yang mempunyai daya hasil unggul ics60,tsh 858,uit 1. benih dapat dipanen hanya dari induk betina sehingga produktivitas lahan hanya mencapai ± 60%. sedangkan untuk menghasilkan benih hibrida iccri 06h yang tahan vsd maka dapat digunakan rancangan biklonal 2 : 1 untuk klon tsh 858 dan kw 162 dengan pemanenan benih pada kedua induknya. pembangunan kebun benih sumber kakao harus memperhatikan syarat yang telah ditetapkan. hal ini dilakukan untuk menghasilkan benih bermutu varietas/klon kakao unggul. untuk itu pada proses pemuliaan tanaman kakao sifat morfologi tanaman harus betul-betul diperhatikan untuk selanjutnya dilakukan pemurnian dan sertifikasi benih sebelum disebarkan ke petani. penulis : mugi lestari (pp bppsdmp kementan) sumber : keputusan menteri pertanian ri nomor 25/kpts/kb.020/5/2017 tentang pedoman produksi, sertifikasi, peredaran dan pengawasan benih tanaman kakao (theobroma cacao l). rubiyo dan indah sulistiyorini, 2013. teknik pembangunan kebun benih sumber kakao. warta penelitian dan pengembangan tanaman industri 19 (1), april 2013.