Loading...

MEMBUAT MENTEGA ALA RUMAHAN

MEMBUAT MENTEGA ALA RUMAHAN
Menurut Standar Nasional Indonesia (SNI 01-3744-1995), mentega adalah produk makanan berbentuk padat lunak yang dibuat dari lemak atau krim susu atau campurannya, dengan atau tanpa penambahan garam (NaCl) atau bahan lain yang diizinkan, serta minimal mengandung 80 persen lemak susu. Selain garam dapur, ke dalam mentega juga ditambahkan vitamin, zat pewarna, dan bahan pengawet (misalnya sodium benzoat). Emulsi pada mentega merupakan campuran 18 persen air yang terdispersi pada 80 persen lemak, dengan sejumlah kecil protein (maksimal 1%) yang bertindak sebagai zat pengemulsi dan Bahan Kering Tanpa Lemak (Milk Solids-Non-Fat) tidak lebih dari 2 %. Mentega adalah produk dari susu, dibuat dengan mengaduk krim yang didapat dari susu. Biasanya digunakan sebagai olesan roti dan biskuit, sebagai perantara lemak di beberapa resep roti dan masakan, dan terkadang bahan untuk menggoreng. Pengganti mentega ialah margarin, yang biasanya lebih murah, dan memiliki sedikit lemak dan kolesterol. Alat dan Bahan Membuat Mentega Bahan utama pembuatan mentega adalah krim yang memiliki kadar lemak antara 25 - 45%. Krim diperoleh dari susu sapi dengan menggunakan alat separator. Alat-alat yang digunakan : Separator, adukan, Termometer (Mentega susu atau mentega yang dibuat dari cream susu (kepala susu) banyak mengandung lemak susu. Dengan memakai alat pemisah cream (separator) kepala susu dipisahkan dan 40% kepala susu diolah untuk membuat mentega). Susu yang digunakan untuk pembuatan mentega adalah susu yang berasal dari ternak yang sehat dan serta ditangani dan disimpan pada kondisi yang bersih pada suhu rendah. Tahap Pembuatan Mentega Pada dasarnya pembuatan mentega adalah mengubah kedudukan globula lemak susu yang semula berupa emulsi lemak dalam air menjadi emulsi air dalam lemak. Pembuatan mentega terdiri dari beberapa tahap: Pertama, Separasi : Untuk memisahkan skim dank rim, dikerjakan dengan separator dengan putaran 6000 rpm. Dengan putaran tersebut 99,5% lemak susu dapat dipisahkan. Kedua, Standarisasi : Penyesuaian kadar lemak krim yang akan dibuat mentega. Kadar lemak krim yang baik untuk pembuatan mentega adalah 30-33%. Ketiga, Netralisasi : Untuk menghindari terjadinya penggumpalan apabila dilakukan pasteurisasi. Pada prinsipnya netralisasi dilakukan dengan menambahkan larutan alkali sehingga dicapai Ph sekitar 6,8-7,2. Netralisasi juga berfungsi untuk mencegah timbulnya cita rasa yang tidak baik selama pemanasan dan dapat memberikan pengaruh pada sifat yang lebih baik pada hasil akhir. Keempat, Pasteurisasi : Dilakukan dengan metode yang lambat (suhu 70-750C selama 30 menit) atau metode cepat (suhu 80-850C selam 25 detik). Kelima, Pemeraman : Jika dikehendaki mentega dengan cita rasa yang spesifik. Pemeraman dilakukan pada suhu 210C. Mikroba yang digunakan adalah Streptococcus lactis, Str. Citrovorus, Str. Paracitrovorus Pemeraman dihentikan apabila keasaman krim mencapai 0,2-0,4% dihitung sebagai asam laktat, biasanya dicapai dalam waktu 12-18 jam. Enam, Pendinginan : Selama semalam pada suhu 100C. Pendingan berfungsi untuk memberikan tekstur yang baik dan memudahkan pembalikan emulsi lemak dalam air menjadi emulsi air dalam lemak. Ketujuh, Churning : Merupakan proses pengadukan, yang perlu diperhatikan adalah: a) Churning secara lambat dikerjakan pada suhu 100 C selam semalam dan secara cepat suhu 3-40C selam 3 jam, b) Jumlah krim yang dimasukkan 1/3 - 1/2 isi churn, kadar lemak krim 30-33%) Keasaman krim 0,4-0,5%. Delapan, Pencucian Sembilan, Partikel – partikel mentega terbentuk terpisah dari serumnya. Serum harus dibuang dan diganti dengan air yang suhunya sama dengan suhu mentega, dengan jumlah air kurang lebih sama dengan jumlah serum yang dibuang. Demikian seterusnya proses churning dan pencucian ini diulangi 4 atau 5 kali. Sepuluh, Penggaraman : Untuk mentega dengan rasa asin. Dikerjakan sebelum proses churning yang terakhir. Jumlah garam berkisar 5,25%. Garam yang tertinggal dimentega berkisar 1-2%. Berdasarkan proses pembuatannya, mentega dibedakan antara mentega yang diperam (Ripened butter) dan mentega yang tidak diperam (Unripened butter). Sedangkan berdasarkan rasanya, mentega digolongkan menjadi mentega asin (salted butter) dan mentega tidak asin ( Unsalted butter). Tanda-tanda mentega yang baik antara lain a) warnanya kuning mengkilat, b) berbau segar dan berbau kepala susu, c) jika dilelehkan harus ada bagian yang jernih dan yang keruh, d) bila masih dalam kaleng, mentega tidak cair. Mentega yang baik apabila kadar airnya hanya 15%, jumlah bakteri tidak melebihi 100 sel/gram. Untuk mentega asin, kadar garam antara 1,5-2% saja. Edizal – Pusat Penyuluhan Pertanian Literatur : Susilo, T.E, Sawitri, M.E, Produk Olahan Susu, Penebar Swadaya. Wisma Hijau, Jl. Raya Bogor, Km. 30 Mekarsari – Cimanggis, Depok. 2010.