Merpati merupakan salah satu burung hewan peliharaan yang sangat populer. Selain menghasilkan daging yang enak dikonsumsi, keindahan bentuk dan warnanya merupakan kesenangan tersendiri bagi penggemarnya. Merpati telah dibudidayakan sejak ratusan tahun yang lalu dan memproduksi beberapa keturunan yang unik dan menarik. Salah satu diantaranya adalah merpati carneau. Seperti burung merpati lainnya, carneau juga memiliki daya tahan tinggi terhadap penyakit. Oleh karena itu peternak tidak perlu terlalu khawatir akan kendala dalam membudidayakannya. Yang terpenting adalah peternak : 1) Menyediakan tempat teduh untuk merpati yang kering, terang, ventilasi baik dan burung merpati dapat menghindari tiupan angin dari satu arah (graught); 2) Menyediakan tempat tinggal (kandang) yang terjaga bersih; 3) Memberi makanan yang bermutu, bersih, bergizi dan seimbang; 4) Memberikan grif yang cukup dan seimbang mutunya; 5) Memberi air bersih yang terpisah dari air yang biasa untuk memandikan. Namun demikian, kita tetap waspada dengan penyakit umum merpati yang biasanya disebabkan oleh binatang kecil pengganggu yang menyebabkan burung merpati terkena infeksi. Merpati terkadang mendapat gangguan dari beberapa binatang kecil seperti : 1) Kutu : Kutu merpati cukup besar untuk dilihat dengan mata telanjang. Berbeda dengan kutu burung berkicau, kutu merpati tidak menghisap darah tetapi hidup dengan memakan bulu dan sisik kulit merpati; 2) Tunggau Merah : Tungau ini sama dengan tungau ayam. Berbeda dengan kutu, tungau ini sulit ditangani bila jumlahnya sudah banyak; 3) Lalat Merpati : lalat ini lebih kecil ketimbang lalat yang biasa berkeliaran di rumah-rumah. Bukan hanya pengganggu, lalat ini juga membawa bibit penyakit. Sedangkan gejalanya, yaitu terdapat luka di mulut atau leher yang diliputi cairan kental putih kekuningan. Luka akan membesar dan akan menyebabkan kematian burung merpati. Ada beberapa cara penyembuhan yang tergolong efektif, yakni menyapu luka dengan larutan yang terdiri dari 3 bagian glycerin dan 1 bagian jodium/iodine. Meski penyakit ini dapat diobati, tetapi jika tidak begitu berharga maka sebaiknya burung yang terjangkit dimatikan saja agar isi kandang tidak terjangkit semua. Ada pihak yang menyebutkan penyakit ini tidak menular, namun kita tetap harus berhati-hati. Selain itu, burung merpati termasuk jenis burung yang mudah dirawat dan gampang didapat, karena merpati banyak dijual di pasar burung di Indonesia. Usahakan jangan membeli burung merpati yang sudah tua, ini tidak bagus baik bagi sekedar membeli untuk disembelih maupun untuk diternak. Untuk membeli burung merpati yang sehat, dengan ciri-ciri sebagai berikut memiliki bulu yang bagus, bagian ujung sayapnya tidak melor alias turun dan bila ditangkap dengan tangan tenaga reaksi/perlawanan burung merpati besar. Sedangkan ciri-ciri burung merpati yang telah berusia tua adalah : daging di sekitar paruh kelihatan tebal, bagian lubang hidungnya yang terlihat ada kerutan daging tebal, bila dicermati paruhnya sudah tidak mengkilat. Sebelum memelihara burung merpati Carneau, sebaiknya memahami terlebih dahulu Standar Mutu Bibit Merpati Carneau. Standar ini berupa standar umum maupun standar khusus. Untuk lebih jelasnya sebagai berikut : Standar Umum bibit burung merpati Carneau, sebagai berikut : 1) Bibit burung merpati Pedaging yang dimaksudkan harus mempunyai Surat Keterangan/Sertifikat yang dikeluarkan oleh breeder/ Peternaknya atau Badan-badan Pemerintahan/ Swasta yang berwenang yang menjamin mengenai : warna bulu, warna kulit, bentuk badan, tanda-tanda khusus dan kualitasnya sebagai bibit burung merpati; 2) Bibit burung merpati tersebut harus sehat, tidak cacat, bentuk dan warna seragam bulu baik dan bersal dari induk burung merpati yang sehat. Standar Khusus bibit burung merpati Carneau : 1) Bibit burung merpati tersebut dapat mencapai berat badan : pada umur 25 – 30 hari (merpati potong muda squab) berat 629 – 715 gram (jantan) dan berat 600 – 714 gram (betina). Adapun yang dewasa dengan berat 658 – 743 gram (jantan) dan berat 624 – 715 gram (betina); 2) Umur mulai bertelur 6 – 7 bulan; 3) Kemampuan bertelur rata-rata per tahun/ekor minimal 24 butir; 4) Kemampuan menghasilkan merpati potong muda (squap) per tahun/ekor 10 – 14 ekor; 5) Berat karkas dari merpati potong muda (squap) tersebut : 400 – 500 gram; 6) Jumlah makanan untuk menghasilkan berat karkas tersebut : 2,9 – 3,2 kg. Demikian gambaran sekilas mengenai burung merpati Carneau khususnya dalam hal pemilihan bibit yang harus memenuhi standar mutu. Semoga dengan memanfaatkan informasi ini sebaik-baiknya para peternak mendapatkan hasil yang optimal. (Inang Sariati). Sumber : Peraturan Menteri Pertanian Nomor : 36/Permentan/OT.140/8/2006 Tentang Sistem Perbibitan Ternak Nasional 2) https://cara-memelihara.blogspot.com/2013/11/burung-dara-pedaging-merpati-carneau.html 3) https://www.google.com/search?q=merpati+Carneau&oq=merpati+Carneau&aqs