Loading...

MEMPERTAHANKAN STOK BAWANG MERAH SEPANJANG TAHUN (OFF SEASON DAN IN SEASON)

MEMPERTAHANKAN STOK BAWANG MERAH SEPANJANG TAHUN (OFF SEASON DAN IN SEASON)
Bawang merah adalah salah satu komoditas sayuran yang paling banyak diusahakan, mulai daerah dataran rendah (< 1 m dpal) sampai daerah dataran tinggi (> 1000 m dpal). Hasil bawang merah di Indonesia antara daerah yang satu dengan yang lainnya sangat bervariasi, yang antara lain disebabkan oleh perbedaan varietas yang diusahakan. Bawang merah merupakan salah satu jenis sayuran yang digunakan sebagai bahan/bumbu penyedap makanan sehari-hari dan juga biasa dipakai sebagai obat tradisional atau bahan untuk industri makanan yang saat ini berkembang dengan pesat. Selain itu, bawang merah juga merupakan salah satu komoditas bernilai tinggi (high value comodity) sehingga banyak petani yang mengusahakannya. Potensi dan Pusat penghasil bawang merah di Indonesia tersebar di 10 provinsi diantaranya Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat, D. I. Yogyakarta, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, Bali dan Nusa Tenggara Timur. Adapun Provinsi-provinsi ini baru dapat menyumbang produksi bawang merah sebesar 87.16 persen produksi total bawang merah di Indonesia pada tahun 2014. Sedangkan sumbangan sebesar 78.46 persen diproduksi oleh provinsi-provinsi yang ada di Pulau Jawa (Kementerian Pertanian, 2015). Produksi bawang merah di Indonesia pada tahun 2013 mencapai 1.01 juta ton dan mengalami peningkatan pada tahun 2014 sebesar 1.23 juta ton atau sebesar 21.48 persen. Meskipun Indonesia mampu untuk memproduksi bawang merah sendiri, sampai saat ini Indonesia masih menjadi pengimpor (net importer) bawang merah. Pada tahun 2014, volume impor bawang merah mencapai 74 903 ton, sedangkan volume ekspornya hanya 4 439 ton (Kementan, 2015). Masih tingginya volume impor bawang merah ini disebabkan oleh rendahnya produktivitas di bawah potensial, produksi yang masih bersifat musiman dan tingginya biaya produksi. Permasalahan yang menjadi bagian dari kompleksitas usahatani bawang merah adalah harga jual bawang merah yang berfluktuasi, bahkan harga akan turun pada saat panen raya dan masuknya bawang merah impor. Fluktuasi harga bawang merah tergantung dengan kondisi pasar yaitu terhadap jumlah permintaan dan penawaran bawang merah. Perubahan harga dan permintaan bawang merah tertinggi terjadi pada saat terjadinya peningkatan permintaan pada bulan bulan perayaaan budaya besar antara lain bulan Ramadhan, hari raya Idul Fitri, hari raya Idul Adha, tahun baru, acara hari-hari besar ke Agamaan dan acara pernikahan. Berdasarkan uraian tersebut, apabila permasalahan tersebut tidak dapat dikelola dengan baik, maka pasar akan dikuasai oleh produk impor. Volume impor bawang merah setiap tahunnya selalu lebih besar dibandingkan volume ekspornya. Kenyataan ini memberikan dampak negatif bagi petani, karena dengan masuknya bawang merah impor akan menjatuhkan harga bawang merah lokal sehingga petani dapat dirugikan dan akan malas berusahatani bawang merah. Kemalasan berusaha tani bawang merah tersebut juga karena disebabkan juga oleh para petani menanam bawang merah dengan biaya produksi yang tinggi (BAPPENAS, 2013) serta produktifitas bawang merah yang diusahakan petani di Indonesia masih rendah dengan rata-rata produktivitas bawang merah nasional hanya sekitar 9,48 ton/ha, jauh dibawah potensi produksi yang berada diatas 20 ton/ha (menurut Renstra). Beberapa permasalahan rendahnya produktivitas tersebut antara lain: (a) ketersediaan benih bermutu, (b) prasarana dan sarana produksi terbatas, (c) Belum diterapkannya GSP-SOP spesifik lokasi secara benar sehingga belum dapat diatasinya permasalahan budidaya yang terjadi. (BAPPENAS, 2013) Dengan rata-rata produksi 944.182 ton/tahun dan rata-rata konsumsi 611.362 ton/tahun atau dapat dikatakan rata-rata surplus 326.820 ton/tahun dari tahun 2008 hingga 2012. Namun distribusi yang tidak merata sepanjang tahun ada (off season) serta mekanisme stok yang belum berjalan dengan baik sehingga produksi saat in season tidak dapat mampu mencukupi kebutuhan saat off season. Dengan demikian fluktuasi harga bawang merah masih selalu menjadi permasalahan pasar bawang merah domestik. Untuk itu perlu penataan sistim produksi bawang merah musim kemarau (in-season) dan sistim produksi di musim hujan (offseason) serta ditata penjadwalan serta pola tanam yang disesuaikan dengan permintaan pasar pada momen bulan-bulan besar keagamaan dan lainnya, sehingga produksi bawang merah dapat berksinambungan sepanjang tahun. Strategi penataan sistim produksi bawang merah musim kemarau (in-season) dan sistim produksi di musim hujan (offseason) perlu menerapkannya budidaya bawang merah secara GSP-SOP spesifik lokasi secara benar sehingga dapat mengatasi permasalahan produksi bawang merah tersebut. Tercapainya Strategi penataan sistim produksi bawang merah sepanjang tahun perlu melakukan adanya pengolahan dari beberapa penggunaan input yang tepat pada penggunaan sarana produksi pertanian, seperti penggunaan benih, pupuk dan pestisida. Selanjutnya petani bawang merah perlu menggunakan benih yang bersertifikat dan bermutu tinggi, karena benih bawang merah sangat berpengaruh besar terhadap produksinya. Harapan kedepan petani tidak lagi menggunakan benih yang dibeli di pasar yang pada umumnya berasal dari hasil panen sebelumnya karena penggunaan umbi bibit hasil panen sebelumnya mempunyai banyak kelemahan, kualitasnya semakin menurun yang disebabkan karena infeksi virus. Selanjutnya penggunaan pupuk kimia dan pestisida harus tepat dosis dan juga diimbangi dengan penggunaan pupuk organik sehingga dapat menjaga kesuburan lahan. Bila penggunaan pupuk kimia dan pestisida yang terlalu tinggi dapat memberikan dampak negatif terhadap kesuburan tanah dan sumber daya air baik air tanah maupun air irigasi. Strategi penataan sistim produksi bawang merah musim kemarau (in-season) dan sistim produksi di musim hujan (offseason) dengan cara menerapkannya budidaya bawang merah secara GSP-SOP spesifik lokasi secara terjadwal terpola dengan benar akan dapat mempertahankan Stok bawang merah sepanjang tahun. Ditulis ulang oleh : Dalmadi BBP2TP Bogor Sumber : Balitbangtang dan Berbagai sumber media elektronik (Internet) Gambar : Petani bawang merah di lahan berpasir Yogja Karta