Loading...

MENAIKKAN DERAJAT KEASAMAN (pH) TANAH DENGAN DOLOMIT

MENAIKKAN  DERAJAT KEASAMAN (pH) TANAH DENGAN DOLOMIT
Beberapa tahun terakhir ini, beberapa wilayah lahan sawah di Kecamatan Boyolangu seperti Desa Pucung Kidul, Boyolangu, Serut, Moyoketen dan Waung mengalami gejala tanah asem-aseman. Gejala asem-aseman ini biasa terjadi pada musim tanam kedua (Gadu ) yaitu bulan April-Agustus, yang salah satu gejalanyaditandai dengan rendahnya derajat keasaman (pH) tanah . Tanah dengan pH tanah yang rendah menyebabkan tingkat penyerapan unsure-unsur hara dalam tanah menurun, sehingga kebutuhan tanaman akan unsure hara tidak terpenuhi akibatnya pertumbuhan tanaman tidak optimal. Menurut Anonim (2019), rendahnya pH pada tanah bisa disebabkan adanya proses perombakan sisa-sisatanaman padi yang belum selesai sehingga menimbulkan panas dan menurunkan pH tanah sehingga tanah cenderung asam. Selain itu pH rendah juga bisa disebabkan oleh penggunaan pupuk Nitrogen seperti urea secara berlebihan tanpa diimbangi penggunaan pupuk Phosphat dan Kalium. Salah satu upaya untuk mengatasi tanah dengan pH rendah adalah menaikkan pH tanah melalui pengapuran menggunakan dolomit. Dolomitdengan rumus CaMg(CO3)2 merupakan kapur yang terbuat dari mineral karbonat dengan kandungan kalsium (CaO) dan (MgO) cukup tinggi, dengan komponen utama dari batuan sedimen yang dikenal sebagai dolostone dan batuan metamorf. Kandungan CaO dan MgO dalam dolomit ini digunakan untuk pengapuran tanah sehingga tanah dari asam berubah menjadi netral atau mendekati netral. Berikut ini manfaat dari dolomit: Kandungan hara dolomite dapat membantu menyeimbangkan pH tanah Pupuk dolomit memberikan tambahan nutrisi hara Kalsium (Ca) dan Magnesium (Mg) untuk tanaman pada jenis tanah krisis hara Manfaat kandungan pupuk dolomite dapat menyeimbangkan zat aluminium (Al), tembaga (Cu) dan besi (Fe) yang berlebihan Memperbaiki struktur tanah dan sirkulasi udara tanah sehingga perkembangan akar dapat lebih baik dan maksimal Membantu akar mempercepat proses penyerapan zat hara yang sudah ada di dalam tanah. Menurut Wahyudi (2019), penggunaan kapur pertanian yang paling efektif adalah disebarkan secara merata ke seluruh lahan sebelum pengolahan tanah. Dengan maksud agar kapur akan bereaksi di lapisan olah hingga kedalaman 20 cm, yakni di seluruh zona perakaran tanaman. Persyaratan lainnya agar bahan kapur bisa segera bereaksi di dalam tanah adalah tanah harus dalam kondisi lembab. Jika kondisi tanahnya kering dan berharap ingin segera dilakukan penanaman, maka dianjurkan untuk melakukan penyiraman air ke seluruh permukaan tanah setelah selesai pengolahan tanah. Penggunaan dolomite bisa juga dicampur dengan pupuk seperti Za dan disebar secara merata pada tanah. Dosis penggunaan dolomite disesuaikan dengan pH tanah dan jenis tanaman yang ditanam. Sebagai contoh untuk tanaman padi yang dapat hidup pada pH tanah anatara 5-6.5, apabila pH tanah 4.1 membutuhkan dolomit sekitar 9.76 Ton/HaBerikut contoh dosis dolomit yang dibutuhkan tanaman setiap hektar, sementara tanaman jagung dengan pH tanah 4.0 membutuhkan dosis dolomit sebesar 10.25 Ton/Ha. Dolomit selain berperan dalam menaikkan pH tanah, juga berperan sebagai pupuk karena mengandung unsure mikro kalsium dan magnesium. Tanah yang kekekurangan unsur Calsium dan Magnesium akan memeberikan efek buruk bagi tanaman. DAFTAR PUSTAKA Anonim.2019. Dosis dan Cara Penggunaan Pupuk Dolomit. Online (https://pupuklahan.blogspot.com/2018/07/manfaat-pupuk-dolomit-dosis-dan-cara-aplikasi-agar-tanah-dan-tanaman-produktif.html) Diakses 29 Juli 2019 Wahyudi.2019. Sekilas Kapur Pertanian dan Pengapuran. Online (https://www.kompasiana.com/yudisahabatpetani/58be5c26e3afbd9104541ff9/sekilas-kapur-pertanian-dan-pengapuran?page=all)Diakses) 7 Agustus 2019 Ditulis Oleh; PURWATI, STP Penyuluh Pertanian Pertama Kabupaten Tulungagung