Air merupakan salah satu faktor penting yang sangat menunjang keberhasilan berusahatani padi. Pada budidaya padi sawah kebutuhan air lebih banyak dibandingkan dengan palawija, mulai dari pengolahan lahan, penanaman, dan pemeliharaan. Datangnya musim kemarau yang cukup panjang berakibat sumber-sumber air juga berkurang, maka diperlukan teknik penerapan sistem budidaya padi hemat air yang tidak menjadi penghambat dalam peningkatan produksi tanaman. Tanaman padi bukanlah tanaman air walaupun dalam menunjang pertumbuhannya memerlukan air. Tetapi apa bila sistem pengairannya juga boros air dengan cara menggenangi areal lahan secara terus-menerus malah bisa menurunkan produktivitasnya.Teknik Hemat AirTeknologi hemat air dapat diartikan sebagai upaya pemanfaatan air dari berbagai sumber terutama air gravitasi pada petak usahatani padi sawah agar terjamin produktivitas, efisiensi dan produksi yang meningkat secara berkelanjutan. Teknik hemat air dalam budidaya padi sawah dapat ditempuh pada tahapan persiapan lahan dan selama pertumbuhan tanaman bahkan pada fase menjelang panen. Teknik hemat air dapat dilakukan dengan cara perbaikan atau penyesuaian teknik budidaya dengan cara perbaikan atau penyesuaian teknik budidaya dengan potensi sumber daya air setempat dan melalui inovasi cara pemberian air.Prinsip hemat air dalam budidaya padi sawah penting atas dasar pertimbangan: a) ketersediaan air semakin terbatas, b) kemarau panjang akibat El-Nino (anomali iklim), c) intensifikasi tanam masih rendah, d) efisiensi pemanfaatan air masih rendah, e) pendistribusian air antara wilayah hulu dan hilir bahkan antar golongan air masih terdapat kesenjangan yang tinggi dan, f) efisiensi masukan (input) produksi sangat ditentukan oleh cara pengelolaan air yang tepat.Praktek teknik hemat air mudah dilaksanakan melalui : a) pemilihan varitas yang berumur genjah, b) kalender tanam dalam suatu hamparan tersier seragam, c) waktu dan cara pengolahan tanah yang sesuai dengan jadwal pemberian air, d) pengaturan penggenangan air menurut fase pertumbuhan tanaman baik tinggi dan durasinya (kondisi pasokan air normal), e) penerapan pergiliran air (kondisi pasokan air di bawah normal), f) pemeliharaan pematang termasuk kerapatan pematang dalam luasan tertentu dan g) drainase permukaan terutama pada musim hujan.Sasaran utama teknik hemat air yaitu produktivitas air (perbandingan antara hasil gabah dan konsumsi air total) yang lebih tinggi dari pada produktivitas air dengan cara pemberian kontinyu. Ada dua strategi dalam perbaikan produktivitas air : a) hasil gabah meningkat dengan konsumsi air total tetap atau b) hasil gabah meningkat dengan konsumsi air total berkurang. Peningkatan hasil dapat ditempuh melalui perbaikan komponen teknik budidaya, input air dan penurunan konsumsi air total. Selang 4 (empat) hari pemberian merupakan batas kritis waktu pemberian air untuk varietas padi sawah dan batas jenuh lapangan selama fase vegetatif dan pematangan tidak menurunkan hasil. Selama fase reproduktif (primordia bunga sampai pembungaan) perlu pemberian air dengan genangan air dangkal 3 – 5 cm. Dalam kondisi kekurangan air, pemberian air perlu diprioritaskan selama fase reprodutif (fase sensitif kekurangan air).Padi sawah sebenarnya tidak memerlukan genangan air untuk seluruh fase pertumbuhannya, namun penggenangan terutama ditujukan untuk mengurangi pertumbuhan gulma dan pengendalian beberapa hama.Penggenangan air yang dalam (di atas 15 cm) dan dalam jangka waktu yang lama dapat menciptakan kondisi tanah semakin masam, ekstrim reduktif, ketersediaan hara mikro semakin berkurang, infeksi penyakit dan infestasi hama meningkat, kerebahan batang, sistem perakaran tanaman cepat rusak sehingga kapasitas penyerapan hara berkurang. Selain itu potensi kehilangan hara melalui pencucian dan aliran permukaan meningkat. Kondisi tanpa penggenangan air selama periode tertentu diperlukan terutama untuk memperbaiki kondisi aerasi di daerah perakaran, merangsang pembentukan anakan, aktivitas perakaran meningkat, mengurangi populasi hama wereng, menekan laju perlokasi, rembesan, aliran permukaan dan pencucian hara.Fase pertumbuhan tanaman padi sawah yang memerlukan drainase permukaan (tanpa genangan air) adalah: awal tanam, fase anakan aktif (20 HST), (45 – 55 HST) dan 10 hari menjelang panen. Pada saat penyiangan dan pemupukan biasanya tidak membutuhkan penggenangan air masing-masing sekitar 4 hari. Drainase permukaan juga penting untuk menekan emisi gas metan (efek rumah kaca) dan juga mengurangi keracunan di daerah perakaran.Drainase PermukaanDrainase permukaan biasanya dilakukan pada musim hujan , yaitu membuang kelebihan air akibat curah hujan atau irigasi yang berlebihan dengan tujuan agar tanaman lebih kuat (tidak rebah), kondisi aerobik tanah terjaga dan mengatur pembentukan anakan. Fase pertumbuhan tanaman padi sawah memerlukan tindakan drainase permukaan terutama menjelang panen. Drainase permukaan lebih efektif yaitu dengan pembuatan parit tengah (ukuran lebar 30 cm dan dalam 30 cm) dengan jarak 1,5 meter sampai 2,0 meter tergantung tekstur tanah. Pada fase pematangan, tanah perlu didrainase yaitu dua minggu menjelang panen. Drainase permukaan dapat dilakukan pada umur tanaman 30 – 40 hari setelah tanam (sebelum tercapai anakan maksimal) selama 5 - 7 hari untuk menekan munculnya anakan yang tidak produktif, sehingga tingkat produksi gabah per malai, bobot individu gabah dan hasil meningkat. Teknik ini sesuai dilakukan terutama pada lahan sawah dengan kondisi drainase buruk yang dapat dilakukan pada musim hujan maupun kemarau.Ruslia AtmajaSumber : Puslitbang Tanaman Panga