Loading...

Menanam jagung Tanpa Olah Tanah (TOT)

Menanam jagung Tanpa Olah Tanah (TOT)
Menanam jagung Tanpa Olah Tanah (TOT) Sampai saat ini jagung masih banyak dibudidayakan di Indonesia sebagai salah satu sumber pangan kedua setelah padi/beras. Untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri Indonesia masih perlu impor dengan nilai yang cukup tinggi yaitu sekitar 503 ribu ton periode Januari-Oktober 2018 senilai US$ 109,9 juta. (BPS) Untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri telah dilakukan berbagai cara salah satunya metode tanpa olah tanah. Tanpa olah tanah (TOT) dalam arti tanpa persiapan lahan seperti pembalikan dan penggemburan tanah terlebih dahulu, hanya diperlukan lubang untuk membenamkan benih ke dalam tanah. Untuk membenamkan benih ke dalam tanah bisa menggunakan tugal. Perlu diketahui bahwa cara menanam jagung tanpa olah tanah tidak bisa ditepakan untuk semua jenis tanah, hanya lahan yang mempunyai tingkat kesuburan dan kegemburan tertentu yang cocok untuk penerapan metode ini. Metoda cara tanam tanpa olah tanah hanya cocok pada lahan sawah bekas tanaman padi yang baru baru selesai dipanen, bisa lahan sawah tadah hujan, sawah irigasi teknis yang akan menerapkan sistem rotasi tanaman. Jerami bekas tanaman padi sangat berguna sebagai mulsa untuk tanaman jagung. Keuntungan Metode TOT adalah ; 1). dapat menghemat waktu dan biaya karena tidak perlu melakukan pengolahan tanah sempurna, 2). Mengurangi kerusakan tanah, karena tanah yang sering dibalik akan berakibat pengerasan dalam waktu jangka panjang, 3) mengurangi erosi lapisan hara tanah bagian atas karena proses pengolahan. Sedangkan kekurangannya ; 1) ada kemungkinan tanah telah ditumbuhi gulma yang bisa menjadi pesaing pertumbuhan tanaman, 2) Kemungkinan sisa-sisa hama berkembang biak di atas lahan yang bisa mengganggu pertumbuhan tanaman akibat tanah karena tanah tidak dibuka. Persiapan lahan Penyiapan mulsa jerami Bersihkan lahan dari jerami sisa panen padi dengan cara merajang atau mencacahnya. Kemudian taburkan secara merata di atas permukaan lahan yang berguna sebagai mulsa penutup tanah. Penyiapan drainase Saluran drainase perlu dipersiapkan dibentuk garis lurus dengan jarak antar ruas sekitar 2 meter. Dimaksudkan untuk membuang kelebihan air, karena tidak ada pengolahan tanah, seperti peninggian bedeng tanam. Jangan sampai lahan terendam air pada saat turun hujan. Pembersihan gulma Bila laha yang kita gunakan ditumbuhi gulma sebaiknya terapkan pembersihan gulma. Penggunaan herbisida sistemik bisa dilakukan apabila gulma cukup banyak karena bisa membasmi gulma hingga ke akarnya. Silahkan gunakan herbisida yang sesuai dengan kebutuhan dan gunakan sesuai dengan takaran yang dianjurkan. Setelah 3 hari penyemprotan masih terdapat gulma yang tumbuh lakukan penyemprotan kembali. Setelah seminggu penyemprotan herbisida lahan siap untuk ditanam. Pemupukan dan pengapuran Bila bekas lahan yang digunakan kurang subur, bisa ditambahkan penambahan pupuk organik. Pupuk yang digunakan berupa kompos atau pupuk kandang. Pupuk ditaburkan dalam larikan sesuai dengan baris lubang tanam. Dosis pupuk organik untuk tanaman jagung sekitar 1,5-2 ton per hektar. Lakukan pengapuran apabila diperlukan yaitu dengan cara menebarkan kapur sama dengan pupuk dalam bentuk larikan. Dosis pengapuran sekitar 300-400 kg per hektar. Penyiapan benih Untuk memperoleh hasil yang optimal gunakan benih unggul yang memiliki tingkat keberhasilan tumbuh lebih dari 95%. Apabila menggunakan benih bukan hasil pabrikan, bisa disiapkan terlebih dahulu dengan cara merendam terlebih dahulu dengan insektisida. Gunanya agar benih terlindung dari serangan penyakit. Pengaturan jarak tanam Jarak tanam untuk tanaman jagung dalam satu baris sekitar 20 cm, sedangkan jarak antar baris 70-75 cm. Bila bedengan yang dibuat selebar 2 meter, akan terdapat setidaknya 3 baris tanaman jagung dalam satu bedeng. Penanaman Penanaman benih bisa dilakukan maksimal seminggu setelah pemberian pupuk organik dan pengapuran. Lubang tanam dibuat dengan tugal atau mesin planter. Kedalaman lubang tanam sekitar 3-5 cm. Masukkan 2 benih jagung dalam satu lubang tanam. Kemudian tutup dengan dengan tanah, jangat dipadatkan. Pemberian pupuk tambahan Pemupukan tambahan dilakukan sebanyak 2- 3 kali dalam satu masa tanam tergantung dari tingkat kesuburan tanah dan jenis benih yang digunakan. Jagung hibrida biasanya membutuhkan pemupukan yang lebih banyak dibanding jagung biasa. Takaran pupuk untuk budidaya jagung berdasarkan rekomendasi per hektarnya adalah 350 kg Urea + 200 kg SP-36 + 100 kg KCl. Bila kesulitan mendapatkan KCL, unusr K bisa didapatkan dari pupuk NPK. Dengan takaran sebagai berikut , 400 kg NPK 15:15:15 + 270 kg urea + 80 kg SP-36 untuk setiap hektarnya. Untuk frekuensi pemukan dua kali, berikan pada 10 dan 35 hari setelah tanam (hst). Untuk frekuensi pemupukan 3 kali berikan pada umur 7-10 hst, 28-30 hst dan 40-45 hst. Pengairan Pengairan yang paling mudah digunakan untuk penanaman jagung di lahan sawah adalah dengan sistem penggenangan. Caranya alirkan air ke saluran drainase yang telah dibuat. Biarkan air meresap pada tanah bedengan. Setelah tanah tampak basah, keluarkan kembali air dari saluran drainase. Ada 5 fase pertumbuhan tanaman jagung yang memerlukan pengairan, yakni fase pertumbuhan awal, fase pertumbuhan vegetatif, fase pembungaan, fase pengisian biji dan fase pematangan. Ruslia Atmaja Sumber : Badan Libang Pertanian