Untuk mencapai swasembada beras, berbagai upaya telah dilakukan pemerintah diantaranya memperluas areal tanam di lahan gambut yang tersebar sebagian di luar pulau Jawa. Budidaya padi di lahan gambut terbatas pada gambut dangkal, karena jika ditanam lahan gambut tebal akan bermasalah nakare miskinnya unsur hara. Budidaya padi di lahan gambut, perlu memperhatikan aspek-aspek sebagai berikut:Penyiapan Lahan dan Pengelolaan AirPenyiapan lahan dilakukan dengan penebasan rumput-rumput/belukar dengan menggunakan parang. Rumput/belukar yang sudah ditebas dikumpulkan di suatu tempat kemudian dibakar. Selanjutnya dibuat saluran didalam petakan dengan lebar saluran 30 cm dan kedalaman 20 cm, Jarak antar saluran berkisar antara 6-10 m. Selain di dalam petakan juga dibuat saluran di sekeliling petakan. Kedalaman air di lahan gambut sangat penting yaitu dengan ketinggian muka air tanah disesuaikan dengan rhizospher tanaman, semakin dalam perakaran tanaman maka permukaan air tanah juga semakin dalam Pula. BenihSyarat-syarat benih yang dipakai, merupakan unggul bermutu, mempunyai daya kecambah tinggi (lebih dari 90%); murni (tidak tercampur dengan kotoran/biji tanaman lain. Kebutuhan benih per satu hektar 30-45 kg. Varietas benih yang adaptif dengan lahan gambut diantaranya Cisangarung, Cisadane, Kapuas, IR 42, IR 64, Lematang dan Way Seputih.Persemaian Kita mengenal dua cara persemaian yaitu persemaian basah dan kering. Persemaian basah dilakukan dengan cara: merendam benih selama 12-24 jam, kemudian diangkat dan dibiarkan berkecambah selama 1-2 hari. Persemaian dibuat pada lahan yang lembab, dengan luas lahan persemaian 300-500 m2 untuk setiap hektar pertanaman. Tanah untuk persemaian diolah sempurna (dua kali), bebas dari rumput, belukar, dan sisa-sisa tanaman lainnya. Kemudian tanah diratakan dan diberi pupuk setiap meter persegi persemaian sebesar 10gr Urea, 14 gr SP36 dan 10 gr KCl. Sedang persemaian kering dilakukan sama dengan persemaian basah hanya tempat persemaian pada guludan, benih disemai tanpa direndamlebih dahulu. Setelah disemai kemudian ditaburi dengan tanah halus atau abu sekam. Untuk mencegah serangan organism pengganggu tanaman (OPT) benih dicampur dengan insektisida seperti Furadan sebanyak 1 gr untuk 1 m2 persemaian sedangkan untuk mencegah penyakit blast benih di campur dengan fungisida. seperti Benomil sebanyak 1 gr untuk setiap kg benih. PenanamanWaktu tanam pada musim tanam pertama dilakukan pertengahan Oktober sampai dengan awal Nopember sedang musim tanam kedua. penanaman dilakukan pertengahan bulan Maret sampai dengan April. Cara penanaman dapat dilakukan dengan sistim Jajar legowo atau tandur jajar. Penyiangan dan penyulamanPenyiangan dilakukan dua kali, yaitu pada umur 3 dan 6 minggu setelah tanam dan penyiangan dapat dilakukan dengan manual (dicabut) kemudian dibenamkan atau dapat juga dengan menggunakan herbisida. Penyulaman dilakukan umur 1-2 minggu setelah tanam.PemupukanDosis saat pemberian pupuk untuk tanaman padi di lahan gambut adalah sebagai berikut, 1) Urea sebesar 250 kg/ha yang diberikan sebanyak tiga kali yaitu 1/3 diberikan pada saat tanam, 1/3 umur 4 minggu setelah tanam, 1/3 7 minggu setelah tanam; 2) SP36 sebesar 135 kg/ha diberikan semua pada saat tanam; 3) KCl sebesar 100 kg/ha diberikan semua pada saat tanam. Cara pemupukan disebar rata di permukaan lahan. Selanjutnya pemberian kapur diberikan 2 minggu sebelum tanam dan saat pengapuran kondisi air macak-macak. Perlindungan TanamanOPT/hama yang banyak menyerang pertanaman padi pada lahan gambut adalah: orong-orong, tikus, kepinding tanah, walang sangit, wereng coklat dan hama putih, sedangkan penyakit utama di lahan gambut adalah blast.Hama orong-orong dapat dikendalikan dengan cara: 1) menggenangi lahan; dan 2) Merendam bibit sebelum tanam dengan larutan pestisida karbuforan (Curater 3G, Dharmafur, atau Furadan 3G); Hama tikus dikendalikan dengan : 1) memelihara kebersihan lingkungan; 2) penanaman serempak;3) pemasangan umpan beracun; 4) melakukan gropyokan. Kepinding tanah dikendalikan dengan : penyemprotan pestisida sebanyak 1 - 2 lt/ha.Walang sangit dikendalikan dengan: 1) membersihkan gulma di pematang, pertanaman, dan di sekeliling tanaman padi; 2) walang sangit datang di pertanaman sebelum tanaman padi berbunga, hidup pada gulma; 3) memasang bangkai binatang. Walang sangit tertarik kapada bau bangkai, setelah berkumpul dapat disemprot dengan insektisida; dan 4) menggunakan bahan kimia (Decis, Regent, BPMC) bila populasi sudah mencapai ambang ekonomi 10 ekor/20rpn.Wereng coklat pengendaliannya dengan: 1) tanam serentak; 2) menggunakan varietas yang tahan yaitu Inpari 13, inpari 31 dan Inpari 33; dan 3) menggunakan perangkap lampu (light trap) kemudian wereng-wereng yang tertangkap dikubur; 4) menggunakan insektisida yang direkomendasiPenyakit blas dikendalikan dengan: 1) menyemprotkan fungisida Beam atau Fujiwan sebanyak 1-2 kg/ha; 2) menanam varietas yang tahan blas; dan 3) tidak menggunakan pupuk N secara berlebihan/melebihi takaran. PanenPanen dilakukan pada saat tanaman padi menunjukkan tanda-tanda sebagian besar gabah (90%) sudah berwarna kuning, bila digigit gabah patah. Panen dapat dilakukan dengan menggunakan alat sabit bergerigi, reaper atau stripper. PascapanenPerontokan gabah dapat dilakukan dengan cara menggunakan tresher. Setelah dirontok, gabah dijemur di atas terpal atau lantai jemuran. Ketebalan gabah pada saat dijemur tidak lebih dari 5 cm. Selama penjemuran, gabah dibolak balik dan lama penjemuran sekitar 2-3 hari dalam keadaan panas terik. Gabah yang sudah kering dibersihkan dari kotoran, gabah hampa, dan malai yang masih tersisa, alat pembersih gabah dapat digunakan tampah atau mesin pembersih. Gabah yang sudah kering dan bersih dimasukkan ke dalam karung untuk disimpan, digiling atau dipasarkan. oleh : Ir. Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.comSumber : Dihimpun dari beberapa sumber