Loading...

Menanam Padi Harus Menguntungkan

Menanam Padi Harus Menguntungkan
Budidaya padi agar memeroleh hasil yang menguntungkan perlu memerhatikan dan menerapkan tahapan-tahapan yang sesuai dengan rekomendasi antara lain: penyiapan lahan dan benih, penananam, pemupukan, dan penyiangan, pengairan secara berkala, serta panen dan pasca panen.Penyiapan Lahan dan BenihLahan yang akan dipergunakan untuk menanam padi harus dipersiapkan dengan baik, yaitu harus diolah dengan cara dibajak/dicangkul, penggemburan, pelumpuran, parataan sehingga lahan siap untuk ditanam. Untuk daerah yang endemis keong mas dianjurkan dibuatkan parit keliling petakan/lahan agar keong mas tidak dapat masuk dan memakan tanaman padi.Selain lahan yang harus dipersiapkan dan diperhatikan adalah benih padi, yaitu benih unggul bersertifikat dan harus disesuaikan dengan agrosistem lahan. Saat ini telah tersedia bebagai varietas unggul padi antara lain ; INPARI untuk lahan irigasi, INPAGO untuk lahan kering (padi gogo), dan INPARA untuk lahan rawa/pasang surut. Pemilihan dan penentuan varietas padi sangat penting, karena jika benih tidak sesuai dengan agrosistem lahan, maka hasil yang diperoleh tidak akan maksimal. PersemaianBenih yang telah diperoleh kemudian disemai terlebih dahulu pada lahan yang subur dan memperoleh paparan sinar matahari penuh. Syarat lokasi persemaian antara lain ; lahan harus subur, diberi pupuk sesuai kebutuhan, dan sebaiknya tidak dekat dengan lampu penerangan. Karena lampu penerangan akan menarik serangga, sehingga akan mengganggu pertumbuhan persemaian. PenanamanSalah satu faktor yang dapat mempengaruhi produksi padi adalah bagaimana cara menata tanaman padi di lapangan. Pemilihan jenis sistem tanam padi oleh petani akan mempengaruhi jumlah populasi tanaman. Saat ini sistem tanam padi yang sering dilakukan oleh petani antara lain sistem tegel dan sistem jajar legowo (Jarwo). Sistem tanam jajar legowo yaitu cara tanam dengan lorong yang luas atau dikosongkan dan barisan berselang-seling sehingga mampu mengatur populasi tanaman agar jumlahnya optimal. Umur bibit yang ditanaman adalah umur muda antara 15-20 hari setelah semai.Contoh : sistem tanam jajar legowo 2 : 1 Populasi tanaman yang tadinya sistem tegel 20 x 20 cm dimodifikasi menjadi 40 x 20 x 10 cm dengan sendirinya populasi tanaman padi petani akan bertambah 30% (330.000 rumpun tanaman/ha). Prinsip sistem legowo yang harus diketahui petani yaitu dengan cara mengosongkan antar barisan 40 cm, gunanya yaitu untuk memudahkan petani untuk melakukan aktivitas apa apaun (pemupukan, pengendalian hama/penyakit, dan pengawasan lainnya). Tetapi dengan mengosongkan anatar barisan itu mensisipkan bibit tanaman di kanan dan kiri dalam barisan tanaman sehingga populasi tanaman akan bertambah satu baris tanaman.Pemupukan dan PenyianganPemupukan harus diberikan dalam jumlah/dosis dan waktu yang tepat. Untuk itu petani terlebih dahulu harus menganalisis keadaan tanahnya untuk mengetahui kebutuhan pupuk N,P, dan K serta status haranya. Anailis tanah yang cepat dan mudah dapat menggunanakan perangkat uji tanah sawah (PUTS) untuk tanah sawah, perangkat uji tanah kering (PUTK, dan perangkat uji tanah rawa/pasang surut (PUTR).Dengan menganalisis tanah, maka pupuk dapat diberikan sesuai dengan rekomendasi yang telah ditentukan agar tidak terjadi pemborosan atau terjadi kekurangan pupuk. Untuk memperoleh rekomendasi pemupukan yang tepat, petani dapat mengakses melalui internet kalender tanam terpadu dengan alamat ; www.katam.libang.pertanian.go.id atau melalui SMS. Pemberian pupuk yang paling tepat adalah pada umur tanaman 10 hari setelah tanam (hst), yaitu pemupukan lengkap (NPK) sesuai rekomendasi. Khusus untuk P dan K diberikan sekaligus. Untuk ureanya dibagi untuk 1/3 bagiannya dari total diberikan bersamaan dengan pemberian pupuk P dan K. Pemupukan susulan merupakan hal yang harus diperhatikan oleh petani, diberikan sesuai kebutuhan tanamannya, yaitu pada saat tanaman berumur 28 hst, karena pada saat itulah tanaman padi dalam fase anakan maksimum. Pemupukan susulan berikutnya adalah pada saat tanaman memasuki fase berbunga (43 hst) untuk mensuport kebutuhan pengisian bulir gabah. Sebelum melakukan pemupukan sebaiknya dilakukan penyiangan, yaitu membersihkan gulma-gulma yang mengganggu dan menjadi pesaing tanaman utama dengan car dicabut atau dengan alat. Biasanya gulma akan tumbuh pada saat tanaman padi beumur 21 dan 41 hst.PengairanPemberian air pada tanaman padi harus diatur secara tepat sejak padi ditanam sampai memasuki fase berbunga. Hal ini sangat penting untuk merangsang pertumbuhan akar tanaman padi sekaligus untuk mencegah penyebaran penyakit. Karena air merupakan media yang baik bagi penyebaran penyakit, maka pada saat dilakukan pengeringan penyebaran penyakit dapat diputus.Pada saat tanam kondisikan lahan dalam keadaan macak-macak, dan biarkan air sampai habis. Hal ini dimaksudkan agar perakaran tanaman langsung mencengkram tanah dengan kuat. Setelah itu petakan diairi kembali sampai permukaan petakan terpenuhi dan biarkan air sampai habis, hal ini untuk merangsang pertumbuhan tunas. Pada kondisi air tidak ada akar tanaman akan semakin dalam mencari air dan tanaman akan semakin kokoh. Pada saat tanaman memasuki fase berbunga varietas apapun, petakan harus tergenang air minimal 5 cm dan biarkan sampai kering. Air dibutuhkan tanaman untuk menyeimbangkan pertumbuhannya. Pemberian air harus dihentikan pada saat 10 hari menjelang panen, dengan tujuan agar bulir gabah dapat terbentuk dan matang secara serempak.Panen dan Pasca panen Pemanenan dapat dilakukan apa bila bulir padi pada malai telah menguning keemasan secara merata (90-95%) dengan kadar air 22-23%. Panen dapat dilakukan secara manual dengan cara dipotong/disabit menggunakan sabit bergerigi, dan disimpan sementara di atas alas. Perontokan dilakukan dengan menggunakan power treasher agar proses perontokan lebih cepat dan mengurangi kehilangan hasil panen. Pemanenan juga dapat dilakukan dengan menggunakan mesin pemanen (combain Harverster) yang saat ini sudah banyak beredar di masyarakat.PenjemuranSetelah perontokan segera lakukan penjemuran di lantai jemur yang beralaskan semen atau alas gedek (bambu) dan dilakukan pembalikan sehingga panas dapat menyebar secara merata dan kadar air gabah mencapai 12%. Penjemuran dengan alas terpal plastik tidak dianjurkan, karena apa bila terkena panas akan menimbulkan kelembapan.Ruslia AtmajaSumber : BBP Padi dan berbagai sumber