Tanaman kelapasawit merupakan tanaman yang memerlukan curah hujan cukup, yaitu 1.700 – 3000 mm/tahun. Selain itu tanaman kelapasawit juga merupakan tanaman heliofit yang memerlukan cahaya matahari optimal untuk pertumbuhan dan perkembangannya, yaitu lama penyinaran minimal 4 jam per hari. Kekeringan akan memicu bencana kebakaran hutan dan lahan yang menyebabkan gangguan asap. Defisit air akibat kemarau panjang dan reduksi radiasi matahari akibat gangguan asap dapat mempengaruhi performa tanaman kelapasawit karena tanaman kelapasawit memerlukan curah hujan sebagai sumber air untuk mendudung pertumbuhan perkembangan dan produktivitasnya. Kekurangan air akibat kemarau panjang dan reduksi matahari akibat gangguan asap dapat menurunkan tingkat pertumbuhan dan produksi tanaman. Cekaman kekeringan dapat menyebabkan penurunan laju pembelahan sel, penurunan laju penyerapan CO2, penyerapan hara dan fotosintesis serta penurunan produktivitas. Akibat kekeringan, tanaman juga akan mengalami stres yang ditandai dengan munculnya daun tombak, banyak muncul bunga jantan, malformasi tandan, pelepah segar mengalami sengkleh, serta cadangan buah dan bunga yang kurang. Untuk itu maka perlu dilakukan upaya meminimalisasi dampak kekeringan dan gangguan asap.Antisipasi dan tindakan penanggulangan dampak kekeringan.Ada tiga tahap yang dilakukan dalam mengantisipasi dan menanggulangi Dampak Kekeringan, yaitu pencegahan sebelum kekeringan, tindakan selama kekeringan dan tindakan pemulihan setelah kekeringan.Pada tanaman belum menghasilkan (TBM)Penanggulangan dampak kekeringan pada tanaman belum menghasilkan perlu dilakukan untuk mengatasi terhambatnya pertumbuhan tanaman. Sebelum kekeringan, perlu menebar satu lapis tandan kosong di dalam piringan, pengendalian gulma pada piringan secara khemis satu bulan sebelum kekeringan, segera dilakukan pemangkasan penutup tanah kacangan maupun gulma lainnya pada saat mulai defisit air, pemupukan berdasarkan rekomendasi dansegera dilakukan penyisipan tanaman.Selama kekeringan perlu dilakukan pemeliharaan tanaman sesuai keadaan, namun pengendalian lalang (wiping) sebaiknya ditingkatkan. Pemupukan, penyisipan tanaman sebaiknya tidak dilakukan, namun perawatan jalan dapat dilakukan bahkan ditingkatkan.Sesudah kekeringan, setelah defisit air kembali 0 mm dan curah hujan 150 mm/bulan sebaiknya segera melakukan pemupukan TBM sesuai rekomendasi terutama pupuk N dan P. Pemulihan penutup tanah kacangan pada areal TBM < 2 tahun sebaiknya dilakukan dengan pemupukan N dan P secukupnya atau masing-masing sekitar 50 kg/ha.Tanaman menghasilkanAntisipasi dan penanggulangan dampak kekeringan pada tanaman menghasilkan (TM) diupayakan untuk mengatasi terjadinya penurunan produksi. Sebelum kekeringan perlu ditebar satu lapis tandan kosong di gawangan, sebagai mulsa. Pengendalian gulma pada seluruh areal dilakukan secara khemis satu bulan sebelum kekeringan. Perlu memanfaatan limbah cair pabrik kelapa sawit sebagai air irigasi melalui parit-parit pada areal pertanaman. Penunasan pelepah dengan sistem pelepah penyangga ("songgo") sesuai umur tanaman. Pelepah penyangga satu untuk tanaman berumur > 10 tahun dan pelepah penyangga dua untuk tanaman berumur < 10 tahun. Pemupukan satu semester sebaiknya sudah selesai dilaksanakan. Pelaksanaan pemupukan K ekstra 25-50% dari dosis standar sebaiknya dilakukan 1 - 1,5 bulan sebelum kekeringan.Selama kekeringan, pemeliharaan tanaman sebaiknya dioptimalkan sesuai keadaan. Pemupukan tidak dilakukan, namun perawatan jalan sebaiknya ditingkatkan. Penunasan ditunda atau dapat dilakukan bila sangat diperlukan seperti pelepah yang menghalangi panen. Rotasi panen sebaiknya disesuaikan dengan kematangan dan kerapatan buah. Rotasi panen yang biasanya dalam keadaan normal 5/7, sebaiknya disesuaikan menjadi 4/7.Sesudah kekeringan, setelah defisit air kembali 0 mm dan curah hujan 150 mm/bulan sebaiknya dilakukan pemupukan dengan dosis 125 – 150% dari standar. Semua pelepah yang sengkleh dan kering perlu segera dipangkas, serta pemeliharaan sebaiknya mulai kembali. Begitu juga rotasi panen secara bertahap dinormalkan kembali. Tindakan pengamanan selama kekeringan seperti gangguan hama dan kebakaran juga perlu diantisipasi dan diupayakan penanggulangannya. Disamping itu pengelolaan tenaga kerja juga perlu disesuaikan dengan keadaan.Tim pencegahan kebakaran (Bakortiba) dan peralatannya sebaiknya dipersiapkan. Tim terdiri dari koordinator tingkat kebun, pengawas tingkat afdeting dan para pelaksana yang akan menempati 4 pos penjagaan setiap afdeling atau 1 pos penjagaan setiap 200-300 ha. Pada areal perbatasan perlu dilakukan penyuluhan mengenai pencegahan dan penanggulangan kebakaran kepada masyarakat. Monitoring dan pengendalian hama khususnya ulat api dan tikus sebaiknya disiagakan. Pengelolaan tenaga kerja sebaiknya disesuaikan dengan kapasitas setiap kegiatan. Demikian pula perlu dilakukan pengalihan tenaga kerja untuk pencegahan kebakaran.KesimpulanKekeringan dapat mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan dan penurunan produksi tanaman, terutama gangguan hama dan kebakaran. Untuk itu maka diperlukan berbagai upaya untuk menaggulanginya. (Sri Wijiastuti, Penyuluh Pertanian pada Pusat Penyuluhan Pertanian, BPPSDMP).Sumber:Jurnal Tanah dan Iklim Vol 40 No, 2 tahun 2016.Gabungan Pengusaha Sawit IndonesiaPedoman Penanggulangan Kekeringan pada Tanaman Kelapa Sawit oleh Hasril H. Siregar, Air Purba, Endang Syamsuddin dan Z. Peoloengan. 1995.