Loading...

Mencermati Peristiwa Kulminasi Maksimum Radiasi Matahari Sebagai Penanda Perubahan Iklim

Mencermati Peristiwa Kulminasi Maksimum Radiasi Matahari Sebagai Penanda Perubahan Iklim
Skema peredaran bumi dalam mengelilingi matahari telah banyak diketahui bersama, yang dalam ilmu alam disebut dengan revolusi bumi terhadap matahari. Disamping ber-revolusi, bumi kita juga mengalami rotasi yaitu berputar pada porosnya dengan kemiringan 23,5O terhadap bidang tempuhan/peredaran bumi. Dari kedua gerakan itu muncul istilah peredaran semu matahari, yaitu adanya pergerakan matahari yang seolah-olah berada di bumi belahan utara, dan seolah-olah bergerak ke bumi bagian selatan. Peredaran semu matahari seolah melewati garis-garis lintang sepanjang 23,5O LU sampai dengan 23,5O LS, yang mengakibatkan peristiwa kulminasi maksimum di setiap garis lintang yang dilewati. Kulminasi maksimum adalah posisi tegak lurus sinar matahari di suatu wilayah pada garis lintang tertentu. Pada Jam 12 siang bayangan benda akan tegak lurus (tidak punya bayangan). Pada sumur konvensional, bayangan matahari bisa dilihat di permukaan air sumur. Kulminasi Maksimum radiasi matahari memiliki fungsi strategis bagi para petani untuk mengetahui perubahan iklim di wilayahnya. Saat-saat terjadi kulminasi maksimum radiasi matahari, merupakan tonggak untuk mengetahui perubahan arah angin. Pergerakan angin pada dasarnya mengikuti peredaran semu matahari. Jika matahari sedang berada di belahan bumi bagian utara, maka anginpun bergerak dari arah selatan menuju belahan utara, demikian pula sebaliknya. Angin yang bergerak memiliki karakter yang berbeda-beda di setiap waktu. Ada kalanya membawa uap air yang berpotensi menyebabkan hujan, ada kalanya bersifat kering dan menyebabkan kekeringan di permukaan bumi. Kearifan lokal masyarakat Jawa telah mengetahui bahwa kulminasi maksimum radiasi matahari di atas Pulau Jawa terjadi sekitar tanggal 10 Oktober dan tanggal 5 Maret setiap tahun. Kulminasi maksimum radiasi matahari yang terjadi pada tanggal 10 Oktober menjadi penanda akan datangnya musim hujan, sedangkan kulminasi maksimum tanggal 5 Maret menjadi penanda akan datangnya musim kemarau. Secara normal setelah bulan Oktober, angin di atas pulau Jawa akan bergerak menuju Tenggara, bersifat membawa uap air sehingga berpotensi menimbulkan hujan di Pulau Jawa. Sedangkan setelah bulan Maret, angin bergerak ke utara yang berpotensi menimbulkan musim kering / kemarau. Berkenaan dengan peristiwa kulminasi maksimum radiasi matahari tersebut, penting kiranya terus dicermati terutama oleh para petani, karena dapat digunakan sebagai prediksi terhadap iklim yang akan menerpa. Harapannya, terbangun suatu pemahaman bahwa perubahan iklim adalah suatu hal yang biasa. Dengan demikian para petani mampu merancang sistem budidaya tanaman yang baik sesuai perubahan iklim yang diduga akan terjadi. Pemilihan varietas tanaman, skema jarak tanam, maupun manajemen pemupukan menjadi faktor penting untuk dipertimbangkan dalam rangka menyikapi keberadaan air dan kelembaban udara yang mungkin akan diterima. Perlu kita ingat bersama bahwa potensi kegagalan panen bukan saja disebabkan oleh serangan hama dan penyakit tanaman, tetapi juga karena kegagalan petani dalam mencermati perubahan iklim yang terjadi di wilayahnya. Hernawan Widyatmiko, SP