Loading...

Mendapatkan Cabai Berkualitas Baik

Mendapatkan Cabai Berkualitas Baik
Cabai merupakan komoditas hortikultura yang banyak dimanfaatkan dalam keperluan membuat masakan. Komoditas ini pada hari-hari perayaan tertentu harganya bisa melonjak tinggi. Walaupun mahal harganya tetap saja komoditas ini dicari dan harga bukan menjadi kendala. Ramai-ramailah orang menanam cabe. Ada yang berhasil dan ada juga yang kecewa. Untuk mendapatkan cabai yang berkualitas tidak hanya bergantung benih cabai, pemupukan dan penyiramannya. Tetapi juga kualitas cabe ditentukan oleh perlakuan panen dan pascapanennya. Cabai dipanen pada saat memiliki bobot maksimal, bentuknya padat dan warnanya merah. Kriteria cabai siap dipanen apabila 80-90 % buah masak. Umur panen cabai pada dasarnya ditentukan oleh 3 ( tiga ) hal, yaitu varitas, lokasi tempat penanaman dan kombinasi pemupukan yang digunakan. Misalnya, dataran rendah dengan dataran tinggi mempunyai selisih umur panen sekitar 10 hari. Penanaman cabai di lokasi yang sama dengan varitas yang berbeda juga akan menentukan perbedaan umur panen. Cara pemetikan cabai yang baik lakukan dengan menyertakan tangkai buahnya. Bila cabai yang dipetik tanpa menyertakan tangkainya akan lebih cepat busuk. Pemanenan cabai dilakukan sekaligus antara cabai yang masak penuh dengan cabai yang 80-90 % masak dan simpan dalam satu wadah. Sedangkan cabai yang terserang penyakit harus ditempatkan pada wadah yang terpisah. Waktu panen yang baik pada pagi hari karena bobot buah dalam keadaan optimal sebagai hasil penimbunan zat-zat makanan pada malam harinya dan belum banyak mengalami penguapan. Para petani umumnya memanen buah cabai secara campur, ada yang sudah masak penuh dan ada yang masih kehitaman. Sebelum dipasarkan perlu dipisahkan antara buah yang masak penuh dengan yang belum yang masak penuh. Pemilihan atau penyortiran buah cabai sebenarnya dapat dilakukan pada saat pemetikan berlangsung. Akan tetapi, sebagian besar petani lebih suka melakukan penyortiran buah cabai setelah semua cabai dipetik dan ditampung dalam suatu tempat. Penyortiran cabai dilakukan untuk memilih kelas cabai segar, yaitu kelas I dengan ciri-ciri buah cabai masak penuh, warna merah merata, lurus sampai agak bengkok, gemuk, dan panjang lebih dari 11 cm. Untuk cabai kelas 2 dengan ciri-ciri cabai tidak masak penuh, warna merah kehitaman, bentuk dan ukuran campuran. Penyimpanan cabai dapat dilakukan dengan cara hipobarik, yaitu cara penyimpanan cabai dalam ruang dengan kondisi udara tertentu. Penyimpanan di ruang dingin hanya berkisar 10 s.d 20 hari. Sedangkan, penyimpanan hipobarik dapat mencapai 50 hari terutama untuk cabai warna hijau. Penyimpanan hipobarik tidak mengurangi kerenyahan buah cabai, tidak mengubah warna buah, tidak mengurangi mutu buah, bahkan buahnya masih tampak segar. Tempat penyimpanan hipobarik merupakan suatu ruangan yang tekana ,suhu , dan kelembapan udaranya dapat dikontrol. Untuk penyimpana cabai denga tekanan udara antara 4 – 400 mm Hg, suhu udara antara 2 – 15 derajat Celcius dan kelembapan antara 90 – 95 %. Pengemasan bertujuan untuk melindungi buah cabai dari kerusakan selama dalam pengangkutan. Kemasan dapat dibuat dari berbagai bahan dan juga bentuknya dapat disesuaikan dengan selera. Cabai yang akan dikirim dapat dikemas dalam karton kapasitas 10 kg. Buah disusun secara teratur sehingga memenuhi volume ruang kemasan yang dilengkapi dengan ventilasi. Pada bagian luar kemasan diberi label yang dapat menginformasikan keterangan isi kemasan. Untuk kemasan pasar lokal, cabai dapat dikemas dalam keranjang atau karung yang tembus udara. Berat setiap kemasan antara 25 sd 50 kg. Sumardi Sumber : Direktorat Jenderal Hortikultura, 2017