Budidaya tanaman padi merupakan kegiatan utama pertanian di wilayah kec.Boyolangu. Rata – rata lahan sawah di Kec. Boyolangu melakukan penanaman padi selama 2 musim dalam satu tahun, yaitu pada MT 1 dan MT 2. Musim tanam utama, pada bulan Januari - April, sedangkan musim tanam gadu pada bulan Mei – Agustus. Dalam melaksanakan budidaya padi, tentunya tidak terlepas dari berbagai kendala, salah satunya adanya serangan hama penyakit. Salah satu penyakit utama yang menyerang tanaman padi adalah potong leher. Penyakit ini jika tidak ditangani secara tepat, dapat secara langsung menurunkan hasil panen. Penyakit potong leher atau penyakit blas pada padi disebabkan oleh cendawan Pyricularia grisea. Penyakit blas menginfeksi tanaman padi pada fase vegetatif dan generatif. Pada fase vegetatif, penyakit ini menginfeksi daun disebut blas daun (leaf blast). Gejalanya, berupa bercak-bercak berbentuk seperti belah ketupat dengan ujung runcing. Pusat bercak berwarna kelabu atau keputih-putihan dan biasanya mempunyai tepi cokelat atau cokelat kemerahan. Serangan pada fase generatif akan menginfeksi leher malai yang disebut blas leher (neck blast). Akibatnya, ujung tangkai malai menjadi busuk, mudah patah, dan gabah hampa. Berdasarkan gejala ini, penyakit blas pada fase generatif lebih dikenal dengan nama potong leher atau busuk leher (neck rot) atau penyakit busuk pangkal malai. Penyakit blas pada fase generatif (potong leher) lebih merugikan daripada blas daun (fase vegetatif). Padi merupakan inang utama sebagai tempat berkembang biaknya jamur Pyricularia orizae sehingga apabila tanaman padi yang tumbuh serempak dalam satu hamparan dan sudah ditemukan adanya gejala serangan, maka dimungkinkan penyakit ini akan dengan cepat menyebar apalagi jika didukung oleh cuaca dan kelembaban dan suhu optimum antara 24°C – 28°C. Perkembangan penyakit blas dipicu oleh penanaman varietas padi yang peka, jarak tanam rapat dan pemupukan N tinggi tanpa diimbangi dengan P dan K. Selain itu, penyakit blas tergolong seed born disease (penyakit terbawa biji/benih). Memerhatikan fakta ini, direkomendasikan pengendalian penyakit blas sebagai berikut. Tanam benih sehat. Benih sehat adalah benih yang tidak membawa patogen blas. Benih ini berasal dari tanaman yang tidak terserang patogen blas (tidak bergejala blas, baik daun maupun pangkal malai). Benih sehat juga dapat diperoleh dengan perlakuan benih (seed treatment) menggunakan fungisida sistemik Tanam varietas tahan. Penggunaan VUB ini menurunkan infeksi penyakit potong leher 46—94%, tergantung VUB yang digunakan. Tanam cara jajar legowo atau dengan pengaturan jarak tanam. Dengan tanam jajar legowo, kelembapan di pertanaman padi tidak tinggi dapat menghambat perkembangan penyakit blas. Dianjurkan penggunaan pupuk Urea jangan berlebihan. Pemupukan NPK sesuai kandungan hara tanah. Dengan pemupukan NPK sesuai kandungan hara tanah, kebutuhan unsur hara tanaman padi dapat dipenuhi sehingga tanaman padi tumbuh optimal dan dapat mempertahankan diri dari gangguan penyakit blas. Menyemprot tanaman padi dengan fungisida. Penggunaan fungisida seefektif mungkin dengan memperhitungkan tentang jenis, dosis, dan waktu aplikasi yang tepat. Fungisida Tricyclazole efektif mengendalikan penyakit blas leher bila disemprotkan pada saat bunting dan berbunga. Ditulis oleh : Niken Dyah Wardhani, S.Pt. Penyuluh Pertanian Pertama Kabupaten Boyolangu