Loading...

Mengelola Lahan Hortikultura Yang Memiliki Keunggulan Kompetitif

Mengelola Lahan Hortikultura Yang Memiliki Keunggulan Kompetitif
Keunggulan kompetitif suatu daerah untuk komoditas tertentu dicerminkan oleh kemampuan memproduksi dan memasarkan komoditas dengan biaya lebih murah dibandingkan daerah lain. Ada beberapa faktor yang dipertimbangkan untuk mengembangkan keunggulan kompetitif suatu wilayah dalam pengelolaan lahan hortikultura. Didalam konsep keunggulan kompetitif, faktor – faktor tersebut dikelompokkan kedalam beberapa kelompok sumber daya, yaitu, : sumberdaya manusia, sumberdaya lahan tempat berusaha, ilmu pengetahuan dan penelitian, sumberdaya modal, dan infrastuktur.Sumberdaya manusia. Sejalan dengan pergeseran pengelolaan usahatani dan tantangan lingkungan ekonomi baru yang dihadapi para pelaku agribisnis hortikultura pada masa kini dan yang akan datang, maka harus diikuti juga upaya perbaikan atau pengembangan sumberdaya manusia untuk mengembangkan komoditas hortikultura yang memiliki daya saing tinggi. Kualitas sumberdaya manusia harus mampu menjawab tantangan dalam hal meningkatkan dayasaing (competitiveness). Kemampuan sumberdaya manusia pada agribisnis hortikultura tidak hanya memahami kegiatan agribisnis pada on farm saja, melainkan juga pada off farm. Karena itu, sumberdaya manusia yang bergerak dalam agribisnis hortikultura harus memiliki wawasan bidang lain yang saling terkait dengan kegiatan pokok. Untuk menjawab tantangan itu harus ditunjang oleh sistem pengembangan sumberdaya manusia yang lebih mengarah kepada pengembangan kewirausahaan (entrepreneurship). Lahan usaha. Ketepatan dan pemilihan lahan usaha berpengaruh terhadap pengembangan agribisnis hortikultura yang memiliki keunggulan kompetitif. Kesesuaian pengelolaan lahan hortikultura yang akan dikembangkan merupakan hal yang penting, seperti kesesuaian agroklimat, jenis lahan / tanah dan kemudahan akses pasar. Permodalan. Sumber permodalan untuk usaha hortikultura relatif terbatas, sementara pengembangan usaha hortikultura membutuhkan biaya investasi lebih besar dengan rentang waktu yang sangat bervariasi jika dibandingkan dengan komoditas pertanian lainnya. Rendahnya sumber permodalan yang dapat diakses petani dapat mempengaruhi kualitas pengelolaan tanaman, misalnya penerapan teknologi yang tidak sempurna, selanjutnya akan berdampak terhadap produktivitas dan kualitas produk yang dihasilkan. Lembaga penelitian. Dukungan lembaga penelitian dalam menghasilkan teknologi baru di bidang pembibitan, tehnis budidaya, perbaikan mutu produk, dan pemasaran sangat besar peranannya untuk menghasilkan suatu produk yang memiliki keunggulan kompetitif. Penciptaan dan diseminasi varietas unggul yang diikuti oleh teknologi budidaya dan penanganan pasca panen merupakan upaya dasar untuk menjawab tantangan persaingan global di masa yang akan datang. Infrastruktur. Dukungan infrastruktur, seperti jalan usahatani, sistem pengairan, fasilitas pemasaran dan penanganan pasca panen, ruang sortasi dan pengepakan serta akses pasar sangat berperan terhadap efisiensi usaha agribisnis hortikultura. Ketersediaan jenis – jenis infrastruktur akan berpengaruh terhadap aksesibilitas produk hortikultura ke pasar konsumen, biaya pemasaran, keamanan produk dan kualitas produk. Pembangunan jalan usahatani merupakan salah satu upaya untuk memecahkan masalah kecepatan dan ketepatan waktu pendistribusian input dan output dari produsen ke konsumen. Untuk memperkuat posisi tawar petani, upaya pemasaran bersama melalui pusat distribusi hortikultura di daerah sentra produksi, dapat dilaksanakan dengan membangun terminal agribisnis. Pengembangan kelembagaan usaha yang berakar dari sosial dan budaya masyarakat setempat menjadi pelaku utama pembangunan agribisnis juga merupakan salah satu bentuk pelaksanaan agribisnis yang berkerakyatan. Penumbuhan kelompok tani. Upaya penumbuhan kelompok tani diarahkan pada tumbuhnya suatu kerjasama yang bersumber dari kesadaran para petani untuk meningkatkan taraf hidupnya. Upaya tersebut dilakukan melalui bimbingan dan penyuluhan pertanian untuk memberikan motivasi dan kemampuan agar petani dapat bekerjasama dalam kelompok / agribisnis yang mereka bentuk.Organisasi petani. Untuk meningkatkan skala usaha dan peningkatan usaha kearah komersial (agribisnis) maka kerjasama petani dalam kelompok dapat ditingkatkan menjadi kerjasama antar kelompok dengan menghimpunnya ke dalam suatu wadah dengan pembentukan gabungan kelompok tani (Gapoktan), Asosiasi Produsen dll.Fungsi kelompoktani. Tujuan pengembangan fungsi kelompok tani menjadi kelompok usaha / koperasi adalah untuk mewujudkan berkembangnya kelompok tani menjadi kekuatan sosial dan ekonomi pedesaan dengan cara :Meningkatkan dan memantapkan kemampuan kelompok tani dalam melaksanakan usaha agribisnis melalui wadah kelompok usaha / koperasi. Meningkatkan efisiensi dan efektivitas pemanfaatan sumberdaya pertanian setempat sebagai upaya peningkatan nilai tambah bagi para anggota kelompok. Meningkatkan partisipasi para petani khususnya dalam pembangunan sub sektor hortikultura dan pembangunan wilayah pada umumnya. Mengembangkan usaha melalui peningkatan skala usaha, cakupan usaha, posisi tawar serta peningkatan akses dan jaringan usaha. Mengembangkan usaha melalui kemitraan atas dasar kesetaraan, saling menguntungkan dan saling membutuhkan. Sumardi Sumber : - Pengembangan Usaha Pada Lahan Hortikultura -Bahan bacaan lainnya.