Loading...

Mengemas”Konten” Media Sosial Menjadi Viral

Mengemas”Konten” Media Sosial Menjadi Viral
Komunikasi dan informasi menjadi dua kemampuan yang saling berkaitan dalam era globalisasi saat ini. Laptop, smartphone atau tablet merupakan peranti informasi dan komunikasi yang dimiliki oleh hampir semua orang. Dengan bantuan peranti tersebut pelajar, mahasiswa, pekerja bahkan ibu rumah tangga dapat terbantu dalam beraktivitas sehari-hari. Keberhasilan komunikasi sangat bergantung pada proses dan Konten informasi yang akan disampaikan. Jika kita ingin memposting informasi di media massa termasuk media sosial, kita harus mempertimbangkan banyak hal agar viral dan mendapatkan banyak like di media sosial. Mendengar kata 'viral', apa yang langsung terlintas difikiran kita? Meme? Hashtag? Atau, hoax?. Dikatakan viral, karena memang cara "berkembangbiak" informasi berlangsung seperti virus. Sebuah informasi menarik yang diterima akan di-share. Penerima share atas informasi yang di-share tadi melakukan re-share. Sedangkan bila dilihat dari terminologi digital, viral sering dikaitkan dengan konten yang mendapat jempol atau repost berlimpah, diperbincangkan di timeline media sosial, hingga menjadi wacana ringan di grup messenger. Kedua perspektif ini punya benang merah utama, penyebaran. Tantangannya sekarang konten viral seringkali diidentikkan dengan konten remeh-temeh, seperti contohnya konten hoax berbentuk artikel atau meme, yang bersifat clickbait. Kalau dulu audiens cenderung pasif (hanya menerima informasi), sekarang audiens bisa membuat informasi sendiri atau menyebarkannya (aktif). Dari perilaku seperti ini muncul istilah viral. Di bawah ini beberapa hal yang harus diperhatikan agar informasi yang disampakan dapat menjadi viral :1. Mengemas Konten, Menarik PerhatianTujuan utama kita dalam menciptakan posting yang memiliki potensi menjadi viral di media sosial adalah untuk membuat konten yang mudah dibaca oleh sebagian besar audience. Ini berarti konten harus menjangkau semua segmen.Berbicara konten, berarti kita tak hanya bicara artikel dalam bentuk teks. Foto, gambar, infografis, video, juga masuk dalam ranah konten. Bahkan dalam pengertian yang lebih luas, sebuah tampilan web juga disebut sebagai konten. Jika posting Anda berbentuk sebuah tutorial, kita perlu menulisnya dengan cara bahwa seseorang baru mengetahui prosesnya.Mereka bisa memulai proses tersebut dengan mudah, dengan mengikuti arahan dari konten Anda. Juga, termasuk memberikan tips dan trik pada orang-orang yang sudah tahu prosesnya tetapi belum mempelajarinya. Konten yang menjadi viral dapat membuat semua orang terlibat dengan konten tersebut, menyukainya dan, mau untuk menyebarkannya (share).2. Kenali audiens AndaMengenal audiens berarti menyesuaikan dengannya. Menyampaikan konten kepada remaja beda cara, kemasan dan gaya dibanding orang dewasa. Padahal inti message-nya boleh jadi sama. Buatlah ide pokok yang unik dan fokus pada apa yang akan disampaikan. Jika Anda menyampaikan sebuah konten dengan cara yang unik atau "tidak biasa" maka kecenderungan untuk diingat oleh audiens akan lebih besar.3. Berceritalah dengan luwesAudiens senang dengan cerita yang mengalir. Ajaklah mereka untuk larut dalam cerita. Buatlah mereka turut merasakan sensasi cerita yang Anda bangun atas produk yang Anda tawarkan.4. Pandai menyisipkan pesanPada hakikatnya audiens kurang menyukai informasi yang bersifat hard selling. Karena itu, pandai-pandailah "menyisipkan pesan" dari campaign yang Anda rancang dalam sebuah cerita. Anda juga dapat bercerita tentang segala manfaat atas produk atau jasa yang Anda tawarkan, sehingga membuat audiens tertarik dengan campaign Anda.5. Libatkan emosi dalam ceritaJika Anda sering memerhatikan, cerita, foto, atau video yang banyak dibagikan di media sosial, punya satu kecenderungan: semuanya melibatkan emosi.6. Kemas dengan visual yang estetisKonten berupa tulisan tentu akan menjadi lebih menarik jika dibarengi visual yang juga menarik (foto, gambar ilustrasi, infografik atau video). Sebaliknya, semua media visual lebih bermakna jika didukung oleh copywritting yang juga menarik. 7. Buat List Post yang MenarikMeskipun pasti ada beberapa daftar haters di luar sana, namun jika kita membuat list mengagumkan, kita akan mendapatkan banyak share mengagumkan pula. Kunci untuk list tersebut, tentu saja, adalah untuk membuat mereka unik dan mencakup banyak informasi berharga yang lain tidak. Kita juga bisa membuat status di media sosial misalnya dengan tag di Facebook, atau tweet akun sebuah brand atau orang yang expert dalam bidang topik yang sedang dibahas pada artikel Anda.8. Ajak audiens untuk mengambil tindakanSetelah semua pesan tersampaikan, ajaklah audiens Anda untuk mengambil tindakan. Tidak selalu ke link yang menyediakan penjualan. Tetapi bisa saja berupa tautan untuk mengenali lebih jauh tentang produk barang atau jasa yang ditawarkan. Istilah ini biasa disebut dengan Call to Action (CTA). Dalam konsep AISAS (Attention, Interest, Search, Action, Share) bisa jadi setelah konsumen puas dengan informasi yang diperoleh, ia akan men-share. 8. Buat Website Anda Ramah Berbagi di Media Sosial.Kunci utama terakhir untuk memiliki posting viral sosial adalah mempublikasikannya di situs yang ramah berbagi di media sosial. Kita harus menambahkan tombol share sosial ke template website , baik melalui Plugin WordPress, add-on seperti Add This, atau memasukkan tombol individu ke dalam file template blog. (Nurlaily)https://dailysocial.id/post/apakah-konten-viral-dapat-berkualitas/https://grid.co.id/index.php/blog/Ada-6-Cara-untuk-Menarik-Perhatian-lewat-Kontenhttps://digitalmarketer.id/content/7-tips-untuk-membuat-konten-viral-di-media-sosial/